Investment Highlight
SWOT Analysis
Business Highlight
Offering
Industry Overview
Company Overview
Management Profile
Financial Review
Key Risk
B Model Canvas
Valuation
Business Strategy
Investment Highlight
|
Nama Sukuk |
Sukuk Musyarakah PT Abangrumah Mitra Nusantara I Tahun 2026 |
|
Akad Sukuk |
Sukuk Musyarakah |
|
Objek Dasar Sukuk |
Kerjasama Proyek Kerjasama Pengadaan Bahan Baku Material sebagai usaha dari penerbit. |
|
Nilai Sukuk |
Rp 655.800.000,- (enam ratus lima puluh lima juta delapan ratus ribu rupiah) |
|
Jangka waktu |
8 Bulan |
|
Tujuan Penggunaan Dana |
Proyek kerjasama pengadaan bahan material konstruksi untuk 6 unit Rumah PPN DTP Cluster Le Sentier tipe Autavia STD berdasarkan SPK No. 0228/SPK-TL/CONH/V/2026/CRT/CR, tanggal 28 Mei 2026 dari PT Ciputra Residence, dengan jenis, spesifikasi dan jumlah tertentu,sebagaimana diterangkan dalam dokumen-dokumen perjanjian penerbitan Sukuk. |
|
Porsi Modal & Mekanisme Sukuk |
Porsi Penerbit : 1,5% = Rp10.000.000,- Porsi Pemodal 98,5% = Rp655.800.000,-
Aset syirkah hak milik Pemodal dialihkan/dijual kepada Penerbit keseluruhan, melalui akad Bai’ bi al Taqsith dengan bagi hasil keuntungan yang disepakati. |
|
Bagi Hasil |
9,33% bersifat fixed berasal dari margin penjualan Hishshah pemodal atas aset syirkah pemodal |
|
Return on Investment |
14,00% p.a |
SWOT Analysis
Business Highlight
Kode sukuk:
ABGN01XXSCFS
Target dana yang dibutuhkan:
Rp655.800.000
Total sukuk yang dilepas:
6.558 Lembar
Harga per lembar sukuk:
Rp100.000
Minimal investasi:
Rp1.000.000
Periode pembagian imbal hasil:
8 bulan
Industry Overview
INDUSTRY HIGHLIGHTS
Sektor Industri Konstruksi Hunian Tapak (Landed Residential Construction) Indonesia
A. Pandangan Industri (Industry Overview)
- Struktur Pasar & Segmentasi Operasional: Industri konstruksi hunian tapak di Indonesia merupakan sub-sektor properti yang sangat terfragmentasi. Pasar ini digerakkan oleh kombinasi real estate developer berskala nasional, pengembang lokal/regional, serta jasa kontraktor spesialis perumahan (residential general contractors).
- Model Bisnis & Dominasi Segmen: Struktur pendapatan pada industri ini bersumber dari dua model utama: B2B contractor (sub-kontrak dari developer skala medium-besar untuk kluster perumahan dan infrastruktur kawasan) serta B2C contractor (pembangunan rumah kostum/custom-built & renovasi untuk end-user perorangan). Segmen hunian tapak tetap menjadi kontributor terbesar dalam penyerapan pasokan properti residensial di Indonesia dibandingkan hunian vertikal (apartemen).
B. Tren Pasar dan Pertumbuhan (Market Trends & Growth)
- Pergeseran Demografi & Urbanisasi Suburban: Tingginya jumlah populasi usia produktif (Milenial dan Gen Z) mendorong tingginya kebutuhan akan first-home buyers. Fenomena ini memicu ekspansi pembangunan kluster hunian ke daerah penyangga (suburban/satelit) seiring keterjangkauan harga tanah dan integrasi akses transportasi umum (Transit-Oriented Development).
- Peningkatan Tren Compact & Modern Functional Housing: Terjadi pergeseran tren desain ke arah rumah kompak, minimalis, dan fungsional (seperti tipe 36, 44, hingga rumah 2–3 lantai berbasis maximization of space) untuk menekan harga jual tanpa mengorbankan kualitas hunian.
- Standardisasi Keselamatan (HSE) & Kualitas Mutu: Industri menuntut peningkatan efisiensi melalui standardisasi Health, Safety, & Environment (HSE) dan manajemen mutu (Quality Index Assessment). Pengembang besar semakin selektif memilih mitra kontraktor yang mampu menjamin Zero Accident serta ketepatan waktu delivery.
C. Faktor Pendorong Utama (Key Drivers)
- Tingginya Backlog Perumahan Nasional: Tingkat backlog kepemilikan rumah di Indonesia yang mencapai jutaan unit menjadi penggerak jangka panjang (secular demand driver) yang kuat bagi permintaan jasa konstruksi residensial.
- Dukungan Kebijakan Pemerintah & Regulasi: Kebijakan insentif fiskal seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah, skema KPR Subsidi (FLPP) untuk MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah), serta stabilitas suku bunga KPR menjadi pemicu percepatan ekspansi proyek dari sisi pengembang.
- Penetrasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR): Tingginya fleksibilitas pembiayaan perbankan untuk KPR indent mendorong developer untuk terus membuka kluster-kluster baru, yang secara langsung meningkatkan pipeline tender proyek bagi kontraktor.
D. Peluang Bisnis (Business Opportunities)
- Model Kemitraan Strategis B2B Kontraktor–Developer: Peluang kontrak kerja berulang (recurring project contracts) sangat terbuka bagi kontraktor yang memiliki rekam jejak eksekusi yang baik (track record), daya saing biaya, dan kepatuhan K3 tinggi untuk menggarap proyek kluster massal dari tier-1/tier-2 developers.
- Pengembangan Infrastruktur Penunjang Kawasan (Ancillary Works): Selain unit rumah, peluang pendapatan tambahan berasal dari pengerjaan infrastruktur perumahan, seperti pekerjaan jalan kawasan, sistem drainase, dinding penahan tanah (sheet pile/retaining wall), fasilitas komersial (ruko/area retail), dan area terbuka hijau.
- Inovasi Teknologi Konstruksi & Modul Prefabrikasi: Adopsi metode konstruksi modern (seperti Formwork/Aluminium Formwork system, precast/prefab concrete, dan manajemen proyek berbasis digital) menawarkan peluang efisiensi durasi kerja, reduksi material waste, dan peningkatan profitabilitas marjin.
E. Tantangan Industri (Industry Challenges)
- Volatilitas Harga Bahan Bangunan (Raw Material Inflation): Fluktuasi harga bahan baku utama (semen, besi baja, pasir, dan material fabrikasi) dapat menggerus marjin laba kotor kontraktor, terutama jika menggunakan kontrak berbiaya tetap (fixed-price contract) tanpa klausul penyesuaian harga.
- Kelangkaan & Produktivitas Tenaga Kerja Skilled: Keterbatasan tenaga kerja konstruksi yang tersertifikasi dan terampil menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga standar mutu bangunan serta konsistensi timeline penyelesaian proyek.
- Pengelolaan Arus Kas (Cash Flow Tightness): Skema pembayaran berbasis progress billing dan siklus retensi proyek menciptakan ketergantungan modal kerja (working capital) yang tinggi. Keterlambatan pencairan dari pemilik proyek dapat mengganggu likuiditas operasional kontraktor.
F. Outlook dan Prospek Ke Depan (Future Outlook & Investment Perspective)
- Prospek Pertumbuhan Stabil & Resilien: Sektor konstruksi hunian tapak diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung (backbone) industri properti nasional. Karakteristik kebutuhan rumah sebagai kebutuhan pokok membuat sektor ini relatif lebih tangguh (resilient) terhadap fluktuasi ekonomi ketimbang sektor komersial atau perkantoran.
- Tiga Pilar Kunci Daya Saing Kontraktor:
-
- Operational Excellence: Efisiensi rantai pasok dan ketepatan waktu serah terima unit menjadi penentu utama dalam mempertahankan kepercayaan pemilik proyek/pengembang.
-
- Kepatuhan ESG & K3: Kontraktor yang menerapkan standar tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dan budaya Safety berstandar tinggi memiliki nilai tawar jauh lebih unggul dalam memenangkan tender skala menengah-besar.
-
- Manajemen Modal Kerja yang Sehat: Kemampuan mengelola likuiditas dan rantai pasok material secara disiplin akan memisahkan kontraktor yang bernilai tambah tinggi dari pemain pasar berskala kecil.
Company Overview
COMPANY PROFILE
Management Profile
PROFILE MANAJEMEN
Financial Review
V. FINANCIAL HIGHLIGHT
1. Ringkasan Eksekutif Keuangan
PT Abangrumah Mitra Nusantara membukukan pertumbuhan pendapatan yang kuat sepanjang periode yang dianalisis, dengan pendapatan tumbuh dari Rp6.128,3 juta pada 2024 menjadi Rp12.678,2 juta pada 2025, atau tumbuh 106,9%. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan skala proyek yang dikerjakan Perseroan sebagai mitra kontraktor developer perumahan skala besar, termasuk PT Ciputra Residence.
Total aset Perseroan tumbuh dari Rp8.534,7 juta (2024) menjadi Rp12.406,2 juta (Triwulan I 2026), didukung oleh ekuitas yang tetap positif dan tumbuh konsisten dari Rp7.285,1 juta menjadi Rp8.227,4 juta pada periode yang sama. Tingkat solvabilitas Perseroan (Debt to Equity Ratio) berada pada level moderat sebesar 0,51x per Triwulan I 2026.
Margin keuntungan Perseroan menunjukkan tren menurun namun tetap berada dalam kisaran yang wajar untuk industri jasa konstruksi rumah tapak sebagai subkontraktor developer, yang secara umum memiliki margin bersih pada kisaran 5%–15%. Net margin Perseroan tercatat 16,6% (2024), 10,5% (2025), dan 10,0% (Triwulan I 2026) — berada pada kisaran atas dari umumnya margin di industri sejenis.
|
Indikator |
2024 |
2025 |
Triwulan I 2026 |
|
Pendapatan (Rp juta) |
6.128,3 |
12.678,2 |
1.490,8 |
|
Laba Bersih (Rp juta) |
1.019,4 |
1.328,0 |
148,6 |
|
Total Aset (Rp juta) |
8.534,7 |
12.158,8 |
12.406,2 |
|
Total Ekuitas (Rp juta) |
7.285,1 |
8.078,8 |
8.227,4 |
|
Net Margin |
16,6% |
10,5% |
10,0% |
|
DER |
0,17x |
0,51x |
0,51x |
2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca In House)
Tabel berikut menyajikan pos-pos utama laporan posisi keuangan Perseroan untuk tiga periode terakhir.
|
Pos Neraca (Rp juta) |
2024 |
2025 |
Triwulan I 2026 |
|
Kas & Setara Kas |
207,8 |
503,8 |
248,8 |
|
Piutang Usaha |
1.373,8 |
2.803,7 |
2.365,4 |
|
Pekerjaan Dalam Proses |
1.259,9 |
2.725,6 |
3.651,3 |
|
Total Aset Lancar |
2.865,5 |
6.155,2 |
6.414,5 |
|
Tanah & Bangunan |
5.170,5 |
5.721,1 |
5.729,8 |
|
Total Aset |
8.534,7 |
12.158,8 |
12.406,2 |
|
Utang Usaha |
66,6 |
299,0 |
591,9 |
|
Utang Jangka Panjang Lainnya |
— |
3.549,2 |
3.500,0 |
|
Total Liabilitas |
1.249,6 |
4.080,1 |
4.178,8 |
|
Total Ekuitas |
7.285,1 |
8.078,8 |
8.227,4 |
Analisis:
• Struktur aset Perseroan didominasi oleh Aset Lancar, yang tumbuh dari Rp2.865,5 juta (2024) menjadi Rp6.414,5 juta (Triwulan I 2026), terutama didorong oleh peningkatan Piutang Usaha dan Pekerjaan Dalam Proses (PDP) seiring bertambahnya volume proyek yang dikerjakan.
• Pekerjaan Dalam Proses meningkat signifikan dari Rp1.259,9 juta menjadi Rp3.651,3 juta, mencerminkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan belum ditagihkan sepenuhnya kepada pemberi kerja.
• Liabilitas jangka panjang lainnya sebesar Rp3.500,0 juta per Triwulan I 2026 merupakan fasilitas pembiayaan modal kerja dari bank syariah dengan skema perpanjangan berkala (roll-over), yang telah digunakan Perseroan secara berulang sejak awal 2025 dengan riwayat pembayaran lancar.
• Ekuitas Perseroan tetap positif dan tumbuh konsisten di seluruh periode, mengindikasikan akumulasi laba ditahan yang sehat.
3. Laporan Laba Rugi (In House)
|
Pos Laba Rugi (Rp juta) |
2024 |
2025 |
Triwulan I 2026 |
|
Pendapatan |
6.128,3 |
12.678,2 |
1.490,8 |
|
Beban Pokok Pendapatan |
(4.371,3) |
(9.708,9) |
(1.162,8) |
|
Laba Bruto |
1.757,1 |
2.969,3 |
328,0 |
|
Laba Usaha |
1.210,0 |
1.825,8 |
181,3 |
|
Laba Bersih |
1.019,4 |
1.328,0 |
148,6 |
|
Gross Margin |
28,7% |
23,4% |
22,0% |
|
Operating Margin |
19,7% |
14,4% |
12,2% |
|
Net Margin |
16,6% |
10,5% |
10,0% |
Analisis:
• Pendapatan tumbuh signifikan sebesar 106,9% YoY pada 2025, mencerminkan ekspansi volume proyek yang dikerjakan Perseroan bersama mitra developer.
• Margin bruto dan margin bersih menunjukkan tren menurun secara bertahap — Gross Margin dari 28,7% (2024) menjadi 22,0% (Triwulan I 2026), Net Margin dari 16,6% menjadi 10,0% — sejalan dengan tekanan kenaikan harga material dan upah kerja yang umum terjadi pada industri konstruksi, khususnya untuk kontrak bersifat lumpsum fixed price.
• Meski menurun, tingkat margin Perseroan tetap berada pada kisaran yang kompetitif dibandingkan rata-rata industri subkontraktor rumah tapak, yang umumnya membukukan margin bersih pada kisaran 5%–15%.
4. Analisis Rasio Keuangan (in House)
Rasio keuangan berikut dihitung berdasarkan data laporan posisi keuangan dan laba rugi pada Bagian 2 dan 3, dan dibandingkan dengan kisaran umum industri jasa konstruksi rumah tapak/subkontraktor developer di Indonesia.
|
Rasio |
2024 |
2025 |
Triwulan I 2026 |
Kisaran Industri* |
|
Current Ratio |
2,29x |
11,59x |
9,45x |
— |
|
Quick Ratio |
1,28x |
6,46x |
4,07x |
1,25x – 2,0x |
|
Net Working Capital (Rp jt) |
1.615,9 |
5.624,3 |
5.735,7 |
— |
|
Debt to Asset Ratio |
14,6% |
33,6% |
33,7% |
— |
|
Debt to Equity Ratio |
0,17x |
0,51x |
0,51x |
— |
|
Gross Profit Margin |
28,7% |
23,4% |
22,0% |
— |
|
Net Profit Margin |
16,6% |
10,5% |
10,0% |
5% – 15% |
|
Return on Assets |
11,9% |
10,9% |
1,2%** |
— |
|
Return on Equity |
14,0% |
16,4% |
1,8%** |
— |
|
Days of Receivable (DOR) |
81,8 hari |
80,7 hari |
144,8 hari** |
< 45 hari |
|
Days of Payable (DOP) |
5,6 hari |
11,2 hari |
46,4 hari** |
— |
|
Cash Conversion Cycle |
181,5 hari |
171,9 hari |
384,9 hari** |
— |
*Kisaran industri merupakan referensi umum yang banyak dikutip untuk sub-sektor jasa konstruksi rumah tapak/subkontraktor developer di Indonesia, bukan hasil benchmark resmi dari lembaga tertentu, dan dapat bervariasi tergantung skala serta karakteristik masing-masing perusahaan. **Angka Triwulan I 2026 merupakan hasil disetahunkan (annualized) dari data satu triwulan agar dapat diperbandingkan, dan perlu dibaca dengan mempertimbangkan sifat proyek yang baru dimulai pada periode tersebut.
4.1 Rasio Likuiditas
Current Ratio dan Quick Ratio Perseroan berada pada level yang sangat tinggi (9,45x dan 4,07x per Triwulan I 2026), jauh di atas kisaran sehat yang umum digunakan sebagai acuan industri (Quick Ratio 1,25x–2,0x). Hal ini mengindikasikan Aset Lancar yang jauh melebihi Liabilitas Jangka Pendek. Namun demikian, calon investor perlu mencermati bahwa komposisi Aset Lancar didominasi oleh Piutang Usaha dan Pekerjaan Dalam Proses, bukan kas — sehingga likuiditas riil (dalam bentuk kas siap pakai) lebih terbatas dibandingkan yang tercermin dari rasio ini semata.
4.2 Rasio Solvabilitas
Debt to Equity Ratio (DER) Perseroan meningkat dari 0,17x (2024) menjadi 0,51x (Triwulan I 2026), seiring dengan penggunaan fasilitas pembiayaan modal kerja bank syariah. Meski meningkat, tingkat DER ini masih berada pada kategori moderat dan wajar untuk perusahaan konstruksi yang tumbuh pesat dan membutuhkan modal kerja tambahan untuk mendanai proyek yang sedang berjalan.
4.3 Rasio Profitabilitas
Return on Assets (ROA) tercatat 11,9% (2024) dan 10,9% (2025), mengindikasikan efisiensi penggunaan aset yang cukup baik dalam menghasilkan laba. Return on Equity (ROE) tercatat 14,0% (2024) dan 16,4% (2025), menunjukkan tingkat pengembalian yang menarik bagi pemegang saham.
4.4 Siklus Konversi Kas (Cash Conversion Cycle)
Cash Conversion Cycle (CCC) Perseroan tercatat 181,5 hari (2024) dan 171,9 hari (2025), mencerminkan siklus operasional bisnis konstruksi yang secara inheren panjang — dari mulainya pekerjaan proyek hingga diterimanya kas dari penagihan termin. Days of Receivable (DOR) berkisar 80–82 hari, sementara Days of Payable (DOP) relatif singkat (5,6–11,2 hari), mengindikasikan Perseroan membayar kewajiban kepada pemasok lebih cepat dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk menagih piutang dari pemberi kerja. Kondisi inilah yang mendasari kebutuhan Perseroan atas pembiayaan modal kerja proyek, termasuk melalui penerbitan Sukuk ini.
Angka CCC Triwulan I 2026 yang disetahunkan (384,9 hari) tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan periode tahunan penuh, karena mencerminkan posisi Pekerjaan Dalam Proses pada satu titik waktu di awal siklus proyek besar yang baru dimulai (termasuk proyek Le Sentier), dan diperkirakan akan menurun seiring proyek-proyek tersebut mencapai tahap penagihan.
Key Risk
Industri konstruksi memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dengan ketidakpastian yang signifikan sepanjang siklus hidup proyek. Manajemen risiko yang efektif berfokus pada identifikasi awal dan penentuan strategi mitigasi yang terukur.
1. Risiko Finansial & Arus Kas (Financial & Cash Flow Risks)
- Pembayaran Terlambat (Late Payment / Cash Flow Bottleneck)
- Risiko: Keterlambatan pembayaran dari pemilik proyek (owner) atau pembeli yang mengganggu cash flow operasional, menggagalkan pembayaran ke subkontraktor, dan memicu penundaan pekerjaan.
- Mitigasi:
- Terapkan skema pembayaran berbasis milestone yang ketat dengan klausal denda keterlambatan pembayaran (interest on late payment).
- Lakukan analisis kelayakan finansial dan rekam jejak pemilik proyek sebelum penandatanganan kontrak.
- Sediakan contingency fund (dana cadangan) operasional minimal 10–15% dari estimasi nilai proyek.
- Pembengkakan Biaya (Cost Overrun):
-
- Risiko: Lonjakan harga bahan bangunan, fluktuasi nilai tukar, atau kesalahan estimasi Bill of Quantities (BQ).
- Mitigasi:
- Gunakan kontrak Fixed Price dengan klausal penyesuaian harga (price escalation clause) khusus untuk material strategis.
- Kunci harga material utama (lock-in price) dengan supplier melalui perjanjian pasokan jangka panjang di awal proyek.
2. Risiko Operasional & Manajemen Proyek (Operational Risks)
- Keterlambatan Jadwal Proyek (Schedule Delay / Scope Creep):
-
- Risiko: Cuaca buruk, keterlambatan pengiriman material, produktivitas tenaga kerja rendah, atau perubahan desain di tengah jalan (Change Orders).
- Mitigasi:
- Penerapan metode Critical Path Method (CPM) dan integrasi Building Information Modeling (BIM) untuk memantau kemajuan secara real-time.
- Terapkan prosedur Variation Order (VO) yang formal: setiap perubahan desain harus disertai persetujuan tertulis terkait dampak biaya dan waktu sebelum dieksekusi.
- Kualitas Pekerjaan & Defek (Quality Defect):
- Risiko: Pekerjaan tidak sesuai spesifikasi teknis sehingga memerlukan rework (pengerjaan ulang) yang memakan waktu dan biaya.
- Mitigasi:
- Terapkan rencana Quality Assurance / Quality Control (QA/QC) yang ketat pada setiap tahap penyerahan (hold point inspection).
- Seleksi dan evaluasi berkala terhadap kapabilitas teknis subkontraktor dan tenaga kerja ahli.
3. Risiko Hukum & Kontraktual (Legal & Contractual Risks)
- Sengketa Kontrak & Klaim:
- Risiko: Perbedaan interpretasi klausul kontrak, klaim keterlambatan, atau pembatalan pekerjaan secara sepihak.
- Mitigasi:
- Gunakan standar kontrak yang diakui secara internasional atau nasional (seperti FIDIC atau standar Standar Nasional Indonesia) yang secara jelas mengatur alokasi risiko.
- Dokumentasikan secara sistematis seluruh korespondensi, site diary, foto progres, dan persetujuan tindakan (approval minutes).
- Perizinan & Regulasi (Regulatory Compliance):
- Risiko: Penundaan penerbitan izin konstruksi (PBG/SLF), konflik tata ruang, atau perubahan regulasi daerah.
- Mitigasi:
- Selesaikan seluruh proses legalitas lahan dan perizinan dasar sebelum mobilisasi alat berat dan tenaga kerja.
- Tunjuk konsultan hukum atau spesialis regulasi lokal untuk mengawal proses perizinan.
4. Risiko Keselamatan, Kesehatan Kerja, & Lingkungan (K3L / HSE)
- Kecelakaan Kerja & Kerusakan Alat:
-
- Risiko: Kecelakaan fatal (fatality), cedera pekerja, atau kerugian material akibat kegagalan struktur sementara/alat berat.
- Mitigasi:
- Wajibkan standar Sistem Manajemen K3 (SMK3) di area kerja, termasuk induksi keselamatan harian (toolbox meeting) dan APD lengkap.
- Asuransikan proyek menggunakan polis Contractors' All Risks (CAR) dan Third Party Liability (TPL).
- Dampak Lingkungan & Masyarakat Lokal:
- Risiko: Polusi suara/debu, kerusakan infrastruktur sekitar, serta penolakan atau gangguan dari warga lokal/ormas.
- Mitigasi:
- Implementasikan Dokumen Amdal / UKL-UPL secara konsisten.
Lakukan pendekatan kemasyarakatan (social mapping) dan alokasi tenaga kerja/kemitraan lokal sesuai porsi yang wajar.
B Model Canvas
Valuation
Business Strategy
Sukuk Musyarakah PT. Abangrumah Mitra Nusantara I Tahun 2026 direncanakan diterbitkan dengan nominal Rp655.800.000,- dalam jangka waktu 8 bulan dengan imbal bagi hasil sebesar 14% p.a bersifat fixed dari margin penjualan seluruh hishshah milik pemodal atas asset syirkah.
Dana hasil penerbitan sukuk ini digunakan untuk Membiayai Proyek kerjasama pengadaan bahan material konstruksi untuk 6 unit Rumah PPN DTP Cluster Le Sentier tipe Autavia STD berdasarkan SPK No. 0228/SPK-TL/CONH/V/2026/CRT/CR, tanggal 28 Mei 2026 dari PT Ciputra Residence, dengan jenis, spesifikasi dan jumlah tertentu,sebagaimana diterangkan dalam dokumen-dokumen perjanjian penerbitan Sukuk.
Struktur Sukuk dan Tujuan penggunaan dana sukuk tersebut dengan rincian sebagai berikut :
Struktur Sukuk
|
Nama Sukuk |
Sukuk Musyarakah PT Abangrumah Mitra Nusantara I Tahun 2026 |
|
Akad Sukuk |
Sukuk Musyarakah |
|
Objek Dasar Sukuk |
Kerjasama Proyek Kerjasama Pengadaan Bahan Baku Material sebagai usaha dari penerbit. |
|
Nilai Sukuk |
Rp 655.800.000,- (enam ratus lima puluh lima juta delapan ratus ribu rupiah) |
|
Jangka waktu |
8 Bulan |
|
Tujuan Penggunaan Dana |
Proyek kerjasama pengadaan bahan material konstruksi untuk 6 unit Rumah PPN DTP Cluster Le Sentier tipe Autavia STD berdasarkan SPK No. 0228/SPK-TL/CONH/V/2026/CRT/CR, tanggal 28 Mei 2026 dari PT Ciputra Residence, dengan jenis, spesifikasi dan jumlah tertentu,sebagaimana diterangkan dalam dokumen-dokumen perjanjian penerbitan Sukuk. |
|
Porsi Modal & Mekanisme Sukuk |
Porsi Penerbit : 1,5% = Rp10.000.000,- Porsi Pemodal 98,5% = Rp655.800.000,-
Aset syirkah hak milik Pemodal dialihkan/dijual kepada Penerbit keseluruhan, melalui akad Bai’ bi al Taqsith dengan bagi hasil keuntungan yang disepakati. |
|
Bagi Hasil |
9,33% bersifat fixed berasal dari margin penjualan Hishshah pemodal atas aset syirkah pemodal |
|
Return on Investment |
14,00% p.a |