berita
21 Februari 2026
Naufal Mamduh
Deal! 9 Poin Penting Kesepaktan Indonesia–Amerika yang Bikin Pebisnis Girang
Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat resmi memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden AS Donald Trump menandatangani dokumen bertajuk Agreement Toward a New Golden Age Indo-US Alliance, yang digadang-gadang akan memperkuat perdagangan, investasi, hingga rantai pasok kedua negara.
Kesepakatan aliansi emas ini diteken pada Kamis (19/2/2026) pagi waktu Amerika Serikat di sela pertemuan bilateral. Pemerintah menekankan, kerja sama ini murni berfokus pada ekonomi dan diharapkan mampu mendorong kemakmuran bersama tanpa mengganggu kedaulatan masing-masing negara.
Sebagaimana dikutip dari CNBC pada dan Bisnis Indonesia pada Jumat (20/02/2026), berikut poin-poin penting dari kesepakatan besar RI–AS tersebut.
1. Lembar Baru Kerja Sama Ekonomi
Penandatanganan dilakukan setelah pertemuan bilateral yang berlangsung sekitar 30 menit. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pembahasan dokumen juga dilanjutkan di kantor USTR (United States Trade Representative).
Pemerintah menilai kesepakatan ini bukan sekadar simbolis. Fokusnya mencakup penguatan perdagangan, peningkatan investasi, hingga pembentukan mekanisme permanen untuk meredam potensi konflik dagang di masa depan.
2. Total 11 MoU Bernilai US$38,4 Miliar
Sehari sebelum penandatanganan utama, Indonesia dan AS telah lebih dulu meneken 11 nota kesepahaman (MoU). Nilai totalnya mencapai US$38,4 miliar atau sekitar Rp648,19 triliun.
Cakupan kerja samanya cukup luas, meliputi pengembangan mineral kritis, perpanjangan kerja sama terkait Freeport, pembelian komoditas pertanian (jagung dan kapas), kerja sama bahan baku shredded worn clothes, sektor furnitur, hilirisasi silika untuk semikonduktor, kerja sama antar kawasan industri. Berikut daftarnya:
a. Critical Mineral antara Kementerian Investasi dan Freeport-McMoRan bersama Freeport Indonesia
b. Oilfield Recovery antara Pertamina dan Halliburton
c. Agrikultur (Jagung) antara Cargill Indonesia dan Cargill Inc.
d. Cotton antara Busana Apparel Group dan U.S. National Cotton Council
e. Cotton antara Daehan Global dan U.S. National Cotton Council
f. Shredded Worn Clothing antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, PT Pan Brothers, dan Ravel
g. Furnitur antara ASMINDO dan Bingaman & Son Lumber
h. Semikonduktor antara Galang Bumi Industri (GBI) dan Essence
i. Semikonduktor antara GBI dan Tynergy Technology Group
j. Transnational Free Trade Zone Friendship antara GBI dan Solanna Group LLC
k. Wood Product antara HIMKI dan American Hardwood Export Council.
Besarnya nilai MoU ini menunjukkan keseriusan kedua negara memperdalam hubungan ekonomi jangka panjang.
3. Dibentuk Council of Trade and Investment
Salah satu terobosan paling strategis adalah pembentukan Council of Trade and Investment. Forum ini akan menjadi ruang permanen untuk membahas isu perdagangan dan investasi antara Indonesia dan AS.
Fungsinya cukup krusial, antara lain menangani potensi sengketa dagang, membahas kenaikan tarif yang dianggap memberatkan, menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan menghindari konflik ekonomi terbuka. Dengan adanya forum ini, pemerintah berharap hubungan dagang kedua negara lebih stabil dan terkelola.
4. Tarif 0% untuk 1.819 Produk RI
Kabar paling menggembirakan bagi eksportir adalah penurunan tarif produk Indonesia ke Amerika Serikat. Airlangga menyebut terdapat sekitar 1.819 pos tarif yang mendapatkan tarif 0%, mencakup sektor pertanian dan industri.
Produk yang masuk skema ini antara lain minyak sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, semikonduktor dan pesawat terbang. Langkah ini dinilai berpotensi mendongkrak daya saing ekspor Indonesia di pasar AS secara signifikan.
5. Industri Tekstil Berpotensi Serap 4 Juta Pekerja
Untuk sektor tekstil dan apparel, Indonesia memperoleh tarif 0% melalui mekanisme TRQ (tariff rate quota). Pemerintah menilai kebijakan ini sangat strategis karena industri tekstil merupakan sektor padat karya. Manfaatnya diperkirakan menjangkau sekitar 4 juta pekerja.
Jika implementasi berjalan mulus, industri tekstil nasional berpotensi kembali bergairah setelah beberapa tahun menghadapi tekanan global.
6. RI Juga Buka Tarif 0% untuk Produk AS
Kesepakatan ini bersifat timbal balik. Indonesia juga memberikan fasilitas tarif 0% bagi sejumlah produk pertanian asal Amerika Serikat, termasuk gandum dan kedelai
Pemerintah menegaskan kebijakan ini tidak akan membebani masyarakat karena justru menurunkan biaya bahan baku bagi industri dalam negeri. Efek lanjutannya diharapkan membuat harga produk turunan lebih stabil.
7. Indonesia Beli Pesawat Boeing dan Impor Migas
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut implementasi Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang merupakan dokumen turunan yang mencakup rencana pembelian 50 pesawat Boeing oleh Indonesia oleh Danantara. Pembahasan teknis dengan pihak produsen akan segera dilanjutkan.
Di sektor energi, Indonesia juga membuka peluang impor minyak mentah dan gas (migas) dari Amerika Serikat senilai sekitar US$15 miliar atau setara Rp253 triliun per tahun. Kebijakan ini dinilai akan memperkuat ketahanan energi sekaligus menyeimbangkan neraca dagang bilateral.
8. Freeport Siap Investasi US$20 Miliar
Kabar besar lainnya datang dari sektor pertambangan. Pemerintah Indonesia dan Freeport telah menandatangani MoU investasi jangka panjang. Dalam kesepakatan tersebut, Freeport berkomitmen meningkatkan investasi hingga US$20 miliar dalam 20 tahun ke depan.
Pemerintah menilai dampaknya akan positif, terutama pada penerimaan pajak, aktivitas hilirisasi dan lapangan kerja MoU ini akan segera ditindaklanjuti menjadi definitive agreement dalam waktu dekat.
9. Diplomasi Ekonomi Terpadu di AS
Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo menyatakan perwakilan Indonesia di Amerika Serikat kini dibagi tugas secara sektoral untuk mempercepat implementasi ART.
Washington D.C. menjadi pusat koordinasi. Los Angeles fokus pada pertambangan termasuk Freeport Arizona. San Francisco menangani teknologi digital. Chicago mengawal kedelai dan gandum Midwest. Houston fokus minyak dan gas. New York menangani perdagangan, keuangan, dan investasi.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan negosiasi utama telah rampung. Dengan paket tarif 0 persen, 11 MoU senilai US$38,4 miliar, dan pembentukan council permanen, RI dan AS resmi memasuki fase baru hubungan ekonomi.
Pemerintah menyebut paket kerja sama ini sebagai fondasi menuju “aliansi emas” Indonesia–AS. Fokusnya dipersempit pada perdagangan dan investasi karena pasal non-ekonomi seperti reaktor nuklir dan isu Laut China Selatan telah dicabut dari dokumen.
Jika berjalan sesuai rencana, kesepakatan ini berpotensi mendorong ekspor Indonesia, memperkuat rantai pasok global, menarik investasi besar, dan membuka jutaan lapangan kerja. Meski begitu, hasil akhirnya tetap bergantung pada eksekusi di lapangan serta kemampuan kedua negara menjaga keseimbangan kepentingan.
Yang jelas, penandatanganan ini menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat yang jauh lebih ambisius dibanding sebelumnya.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






