pendanaan
19 Februari 2026
Naufal Mamduh
Satset! Panduan Lengkap Cash Flow Perusahaan dari Pengertian hingga Strateginya
Cash flow perusahaan adalah salah satu indikator paling penting yang menentukan apakah bisnis dapat bertahan, berkembang, atau justru mengalami kesulitan. Banyak perusahaan terlihat untung di atas kertas, tetapi tetap menghadapi kendala operasional karena kekurangan uang tunai. Inilah mengapa memahami cash flow menjadi hal yang krusial bagi setiap pengusaha.
Dengan pengelolaan yang tepat, perusahaan dapat menjaga stabilitas operasional, memenuhi kewajiban tepat waktu, dan memanfaatkan peluang pertumbuhan secara optimal.
Apa Itu Cash Flow Perusahaan?
Cash flow perusahaan adalah pergerakan uang tunai yang masuk dan keluar dari suatu bisnis dalam periode tertentu. Cash flow menunjukkan apakah jumlah kas perusahaan bertambah atau berkurang, serta menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan.
Menurut Corporate Finance Institute, cash flow adalah peningkatan atau penurunan jumlah uang yang dimiliki oleh bisnis, yang digunakan untuk menggambarkan kas yang dihasilkan atau digunakan dalam periode tertentu. Cash flow membantu perusahaan menjalankan operasional dan melakukan analisis keuangan.
Baca juga: Cihuy! 5 Tantangan Pembiayaan Alat Berat dan Solusi Dana Rp500 Juta - Rp10 Miliar
Sementara itu, Investopedia menjelaskan bahwa cash flow merupakan pergerakan uang masuk dan keluar dari perusahaan. Jika uang yang masuk lebih besar daripada yang keluar, maka cash flow bersifat positif. Sebaliknya, jika pengeluaran lebih besar, maka cash flow bersifat negatif.
Cash flow penting karena menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan operasional, membayar kewajiban, dan menjaga stabilitas keuangan.
Apa Perbedaan Cash Flow dan Profit?
Cash flow dan profit sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Cash flow adalah pergerakan uang masuk dan keluar dari perusahaan, sedangkan profit adalah sisa keuntungan setelah semua pendapatan dikurangi biaya.
Dengan kata lain, profit menunjukkan apakah bisnis untung secara perhitungan, sedangkan cash flow menunjukkan apakah bisnis benar-benar memiliki uang tunai.
Contohnya, sebuah perusahaan bisa mencatat profit karena memiliki banyak penjualan. Namun, jika pelanggan belum membayar, uang tunai belum masuk. Akibatnya, cash flow bisa tetap rendah meskipun bisnis terlihat untung di laporan.
Perbedaan Cash Flow dan Income?
Cash flow juga berbeda dengan income atau laba yang tercatat di laporan keuangan. Income dihitung menggunakan prinsip akuntansi akrual, yaitu pendapatan dicatat saat transaksi terjadi, bukan saat uang benar-benar diterima.
Sebaliknya, cash flow hanya mencatat uang yang benar-benar masuk dan keluar. Karena itu, perusahaan bisa terlihat untung di atas kertas, tetapi tetap mengalami kesulitan kas jika uang tunai belum diterima atau terlalu banyak pengeluaran tunai.
Mengapa Cash Flow Sangat Penting untuk Bisnis?
Cash flow sering disebut sebagai “darah” bagi bisnis karena menentukan apakah perusahaan bisa bertahan dan beroperasi dengan lancar. Cash flow yang sehat memungkinkan perusahaan untuk:
a. Membayar gaji karyawan
b. Membayar biaya operasional
c. Membayar kewajiban
c. Berinvestasi untuk pertumbuhan.
Karena itu, tim keuangan dan manajemen selalu memantau cash flow untuk memastikan bisnis tetap stabil dan menghindari masalah keuangan.
Tipe-Tipe Cash Flow Perusahaan
Cash flow perusahaan terbagi menjadi tiga jenis utama: operasional, investasi, dan pendanaan. Ketiganya menunjukkan dari mana uang masuk dan ke mana uang digunakan dalam bisnis.
1. Cash Flow Operasional (Cash Flow From Operations / CFO)
Cash flow operasional adalah uang yang dihasilkan dari aktivitas utama bisnis, seperti penjualan produk atau jasa. Ini mencerminkan kemampuan bisnis menghasilkan uang dari kegiatan sehari-hari.
Contohnya, ketika perusahaan menerima pembayaran dari pelanggan, itu termasuk cash flow operasional. Sebaliknya, pembayaran gaji karyawan, biaya listrik, dan biaya operasional lainnya juga termasuk dalam kategori ini.
Jika cash flow operasional positif, artinya bisnis mampu membiayai operasionalnya sendiri tanpa bergantung pada pinjaman atau pendanaan baru.
2. Cash Flow Investasi (Cash Flow From Investing / CFI)
Cash flow investasi adalah uang yang digunakan atau diperoleh dari aktivitas investasi perusahaan. Ini biasanya terkait dengan pembelian atau penjualan aset.
Contohnya, membeli mesin baru, membuka cabang baru, atau membeli peralatan termasuk cash flow investasi. Sebaliknya, menjual aset juga masuk dalam kategori ini.
Baca juga: Mantul! 7 Cara Dapat Modal Usaha Bisnis Kuliner, Cuan Cepat 500 Juta-10 Miliar
Cash flow investasi yang negatif tidak selalu buruk. Justru, ini bisa menunjukkan bahwa perusahaan sedang berinvestasi untuk memperluas dan mengembangkan bisnisnya.
3. Cash Flow Pendanaan (Cash Flow From Financing / CFF)
Cash flow pendanaan adalah uang yang berasal dari atau digunakan untuk pendanaan bisnis. Ini mencakup penerimaan dana dari investor, pinjaman, atau pembayaran kepada investor.
Contohnya, ketika perusahaan menerima dana dari investor atau pendanaan usaha, itu termasuk cash flow pendanaan. Begitu juga saat perusahaan membayar dividen atau melunasi pinjaman. Cash flow ini menunjukkan bagaimana bisnis membiayai operasional dan pertumbuhannya.
Cara Membuat Cash Flow Perusahaan
Membuat cash flow perusahaan berarti mencatat semua uang yang masuk dan keluar dari bisnis, lalu mengelompokkannya agar Anda tahu kondisi keuangan sebenarnya. Laporan ini membantu memastikan bisnis memiliki cukup kas untuk beroperasi dan berkembang. Berikut langkah-langkah utamanya:
1. Kumpulkan Data Keuangan
Langkah pertama adalah mengumpulkan semua data keuangan yang berkaitan dengan kas. Data ini biasanya meliputi laporan laba rugi (untuk melihat pendapatan dan biaya), neraca (untuk melihat aset dan kewajiban), mutasi rekening bank dan catatan pembayaran pelanggan dan pengeluaran bisnis. Data ini menjadi dasar untuk mengetahui pergerakan uang secara akurat.
2. Catat Arus Kas dari Aktivitas Operasional
Ini adalah bagian paling penting karena menunjukkan uang yang dihasilkan dari bisnis utama. Contoh uang masuk adalah pembayaran dari pelanggan dan pendapatan dari penjualan produk atau jasa.
Sedangkan contoh uang keluar adalah gaji karyawan, biaya operasional, pembayaran sewa, listrik, dan biaya lainnya. Jika uang masuk lebih besar dari uang keluar, berarti operasional bisnis sehat.
3. Catat Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Bagian ini mencatat uang yang digunakan atau diterima dari aktivitas investasi. Contohnya membeli mesin atau peralatan baru, membuka cabang baru dan menjual aset atau peralatan lama. Biasanya arus investasi negatif menunjukkan perusahaan sedang mengembangkan bisnis.
4. Catat Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pada tahap ini, catat semua uang yang berasal dari pendanaan maupun yang digunakan untuk membayar kewajiban pendanaan. Misalnya, ketika bisnis menerima dana dari investor atau pinjaman dari bank, itu termasuk arus kas masuk. Sebaliknya, saat bisnis membayar cicilan pinjaman atau membagikan dividen, itu termasuk arus kas keluar. Bagian ini membantu Anda memahami bagaimana bisnis mendapatkan dan menggunakan dana untuk mendukung operasional dan pertumbuhan.
5. Hitung Total dan Saldo Akhir Kas
Setelah semua arus kas dicatat, jumlahkan arus kas dari aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan. Dari sini, Anda dapat melihat apakah kas bisnis bertambah atau berkurang dalam periode tersebut. Saldo akhir ini harus sesuai dengan saldo kas di rekening perusahaan agar laporan tetap akurat dan dapat digunakan sebagai dasar evaluasi keuangan.
6. Analisis Kondisi Cash Flow
Langkah terakhir adalah menganalisis hasilnya. Cash flow yang sehat biasanya memiliki arus kas operasional positif, yang berarti bisnis mampu menghasilkan uang dari kegiatan utamanya. Selain itu, penggunaan dana untuk investasi dan pendanaan juga harus terkontrol. Jika arus kas operasional terus negatif, ini bisa menjadi tanda bahwa bisnis perlu memperbaiki pengelolaan keuangan atau operasionalnya.
7 Strategi Meningkatkan Cash Flow Perusahaan
Cash flow yang sehat memastikan bisnis dapat berjalan lancar, membayar kewajiban, dan berkembang secara berkelanjutan. Untuk menjaganya tetap stabil, perusahaan perlu menerapkan strategi yang tepat dan terukur.
1. Percepat Proses Penagihan ke Pelanggan
Pastikan invoice dikirim segera setelah transaksi selesai dan tentukan batas waktu pembayaran yang jelas. Anda juga dapat memberikan pengingat sebelum jatuh tempo. Semakin cepat pembayaran diterima, semakin kuat posisi keuangan perusahaan.
2. Terapkan Sistem Uang Muka atau Pembayaran Bertahap
Untuk proyek atau pesanan besar, mintalah uang muka di awal. Cara ini membantu menutup biaya operasional tanpa harus mengandalkan dana internal sepenuhnya.
3. Fokus pada Produk atau Layanan yang Cepat Menghasilkan Uang
Evaluasi produk atau layanan yang memiliki perputaran cepat dan margin yang baik. Prioritaskan penjualan pada segmen tersebut agar pemasukan lebih stabil.
4. Kendalikan dan Prioritaskan Pengeluaran
Tinjau kembali semua biaya dan tunda pengeluaran yang tidak mendesak. Pastikan setiap pengeluaran memiliki dampak nyata terhadap operasional atau pertumbuhan bisnis.
5. Negosiasikan Termin Pembayaran dengan Supplier
Jika memungkinkan, minta jangka waktu pembayaran yang lebih panjang. Dengan begitu, perusahaan memiliki waktu untuk menghasilkan pemasukan sebelum harus memenuhi kewajiban pembayaran.
6. Kelola Persediaan Secara Efisien
Hindari menyimpan stok terlalu banyak karena dapat menahan dana terlalu lama. Pastikan jumlah persediaan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat penjualan.
7. Pantau dan Evaluasi Kondisi Keuangan Secara Berkala
Buat laporan secara rutin untuk memantau pergerakan dana. Dengan pemantauan yang konsisten, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat dan menjaga stabilitas keuangan.
Solusi Pendanaan Cepat Cair Rp500 Juta hingga Rp10 Miliar
Cash flow yang sehat memungkinkan bisnis berjalan lancar, membayar kewajiban tepat waktu, dan mengeksekusi proyek tanpa hambatan. Namun, tidak sedikit perusahaan yang menghadapi kendala karena dana belum tersedia saat dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, pendanaan menjadi solusi strategis untuk menjaga stabilitas dan memastikan bisnis tetap bergerak.
LBS Urun Dana menghadirkan program FAST 17, solusi pendanaan proyek mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan proses pencairan hingga 17 hari kerja, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.
Baca juga: Ajib! 7 Tips Pembiayaan Multiguna Usaha Plus Peluang Raih Modal 500 Juta-10 Miliar
Program ini diawasi oleh OJK dan dibimbing oleh Founder LBS Urun Dana Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi. Dengan model pendanaan berbasis sukuk dan saham, pengusaha dapat memperoleh modal tanpa menggadaikan aset pribadi. Pendanaan ini membantu menjaga cash flow tetap stabil sekaligus mendukung penyelesaian proyek dan ekspansi usaha.
Program FAST 17 dirancang untuk pengusaha skala menengah hingga besar yang membutuhkan modal cepat, terstruktur, dan transparan.
Sektor Usaha yang Dapat Mengajukan Pendanaan
Pendanaan tersedia untuk berbagai sektor usaha produktif, antara lain:
a. Transportasi dan logistik
b. Fashion
c. Manufaktur
d. Kuliner
e. Hospitality
f. Konstruksi dan properti
g. Pergudangan
h. FMCG
i. Pertanian dan perkebunan.
Syarat Utama Pengajuan Pendanaan
Untuk mengajukan pendanaan, bisnis perlu memenuhi kriteria berikut:
a. Kebutuhan dana minimal Rp500 juta
b. Omzet tahunan minimal Rp2,5 miliar
c. Usaha telah berjalan minimal 1 tahun
d. Berbadan hukum PT atau CV
e. Memiliki laporan keuangan sederhana.
Alur Pengajuan Pendanaan
Proses pengajuan dilakukan secara terstruktur melalui tahapan berikut:
a. Ajukan melalui situs resmi lbs.id
b. Verifikasi bisnis dan legalitas
c. Persetujuan oleh Komite Investasi
d. Listing dibuka untuk didanai investor.
Dengan pendanaan yang tepat, bisnis dapat menjaga cash flow tetap sehat, mempercepat penyelesaian proyek, dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar. Ajukan pendanaan sekarang di LBS Urun Dana dan percepat perkembangan bisnis Anda.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






