berita
27 Februari 2026
Naufal Mamduh
Miris! Indonesia Tambah Utang Rp45 Triliun ke Bank Asing, Ini Tujuannya!
Indonesia akan kembali menambah utang luar negeri melalui Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) pada 2026. Nilainya tidak kecil, mencapai US$ 2,7 miliar atau setara Rp 45,22 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.749 per dolar AS. Dana tersebut telah masuk dalam daftar pipeline atau rencana pengerjaan proyek tahun depan.
Utang Indonesia 2026 senilai Rp45 triliun ini disebut akan digunakan untuk mendukung berbagai reformasi kebijakan strategis. Mulai dari pendalaman sektor keuangan hingga transisi energi berkelanjutan. Lalu, apa saja rincian dan arah penggunaan dana tersebut? Sebagaimana dikutip dari DetikFinance pada Jumat (27/2/2026), berikut enam poin pentingnya.
1. Nilai Pipeline 2026 Tembus US$ 2,7 Miliar
Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, mengungkapkan bahwa proyek-proyek yang sudah masuk daftar indikatif 2026 mencapai US$ 2,7 miliar.
“Rangkaian proyek penting ADB untuk Indonesia pada 2026 telah mencapai nilai indikatif US$ 2,7 miliar yang mendukung reformasi kebijakan berupa pendalaman sektor keuangan, serta reformasi kebijakan dalam tata kelola daerah, ketahanan air, transisi energi berkelanjutan dan perlindungan laut,” kata Alimov dalam keterangan tertulisnya.
Artinya, fokus pendanaan tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada reformasi kebijakan strategis.
2. Fokus pada Reformasi Sektor Keuangan dan Tata Kelola
Salah satu sasaran utama pendanaan adalah pendalaman sektor keuangan. Reformasi ini diharapkan memperkuat sistem keuangan nasional agar lebih stabil, inklusif, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Selain itu, ADB juga menyoroti tata kelola daerah sebagai area penting. Penguatan kebijakan di tingkat lokal dinilai krusial dalam meningkatkan kualitas layanan publik dan efektivitas pembangunan.
3. Dukung Ketahanan Air dan Transisi Energi
Ketahanan air menjadi salah satu isu prioritas dalam pipeline 2026. Indonesia menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan sumber daya air, perubahan iklim, serta kebutuhan infrastruktur yang merata.
Di sisi lain, transisi energi berkelanjutan tetap menjadi agenda penting. ADB konsisten mendukung upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Perlindungan laut juga masuk dalam daftar prioritas, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ekosistem laut yang luas dan strategis.
4. Komitmen 2025 Sudah Capai US$ 2,4 Miliar
Sebelum rencana besar 2026, ADB pada 2025 telah memberikan komitmen sebesar US$ 2,4 miliar kepada Indonesia dalam bentuk pinjaman yang dijamin pemerintah.
Pendanaan tersebut mendukung reformasi kebijakan, percepatan perdagangan, peningkatan produktivitas melalui pembangunan modal manusia termasuk kesehatan dan pendidikan, serta transisi energi berkelanjutan.
Sementara itu, operasi sektor swasta ADB yang tidak dijamin pemerintah mencatat komitmen US$ 150 juta pada 2025. Ini menunjukkan dukungan tidak hanya menyasar proyek pemerintah, tetapi juga sektor privat.
5. Kemitraan Hampir 60 Tahun dengan Indonesia
Hubungan ADB dan Indonesia bukanlah hal baru. Sejak 1966, ADB telah bermitra dengan Indonesia dalam memperkuat infrastruktur, pertanian, dan pembangunan modal manusia.
Indonesia sendiri merupakan anggota pendiri ADB dan pemegang saham terbesar keenam di lembaga tersebut.
“ADB bangga telah mendampingi Indonesia sebagai mitra terpercaya selama hampir 60 tahun. Sejarah panjang kami di Indonesia mencerminkan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal dan komitmen bersama bagi kemajuan Indonesia,” ujar Alimov.
Dalam perjalanannya, fokus kerja sama terus berkembang. Pada 1970-an, perhatian utama tertuju pada pertanian. Memasuki 1980-an, dukungan diarahkan ke infrastruktur transportasi dan energi. Pada 1990-an, ADB berperan dalam reformasi struktural.
ADB juga memberikan respons cepat saat Indonesia menghadapi berbagai krisis besar seperti Krisis Keuangan Asia 1997–1998, gempa dan tsunami Aceh 2004, hingga pandemi COVID-19.
6. Selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045
Saat ini, dukungan ADB sejalan dengan prioritas Asta Cita Indonesia dan Strategi Kemitraan Negara 2025–2029. ADB menegaskan bahwa perannya tidak hanya sebatas pembiayaan.
“Kami mempertahankan keselarasan erat dengan visi pemerintah sehingga lebih dari sekadar pembiayaan, kami pun memberikan pengetahuan, saran kebijakan dan kemitraan jangka panjang demi mencapai Visi Indonesia Emas 2045,” imbuh Alimov.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi ADB dan Indonesia diarahkan pada pembangunan jangka panjang, bukan sekadar proyek jangka pendek.
Dengan pipeline atau utang Indonesia Rp 45 triliun pada 2026 dan rekam jejak panjang hampir enam dekade, peran ADB dalam pembangunan Indonesia tetap signifikan. Tantangannya kini adalah memastikan setiap rupiah yang digelontorkan benar-benar mendorong reformasi yang efektif dan berdampak luas bagi masyarakat.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






