investasi
21 Juni 2026
Naufal Mamduh
Catat! 4 Cara Cerdas Menyusun Portofolio Investasi yang Seimbang untuk Pemula
Baru menerima gaji atau bonus? Sebelum tergesa membeli instrumen yang sedang ramai dibahas, ada hal yang lebih penting dipikirkan dulu: cara menyusun portofolio investasi yang seimbang, agar dana Anda tidak salah ditempatkan. Pertanyaannya bukan "instrumen apa yang paling menguntungkan", melainkan: di mana sebaiknya dana ini ditempatkan agar tidak salah langkah.
Banyak orang asal memilih, ikut rekomendasi teman, atau menumpuk seluruh dana pada satu instrumen yang sedang ramai dibicarakan. Padahal soalnya bukan menebak instrumen mana yang naik lebih dulu, melainkan disiplin menyebar risiko dalam portofolio investasi, agar saat satu instrumen melemah, yang lain masih menahan.
1. Sebelum Memilih, Kenali Diri Sendiri Dahulu
Ini yang sering terlewat: banyak orang langsung berpikir "instrumen apa yang bagus" tanpa tahu dulu seberapa besar kerugian yang masih bisa diterima tanpa membuat malam sulit tidur.
Profil risiko adalah cerminan kondisi nyata Anda: usia, penghasilan, tanggungan, dan jangka waktu tujuan dana ini disiapkan. Yang masih lajang dan baru memulai karier biasanya bisa mengambil risiko lebih besar dibanding yang sudah punya anak sekolah, bukan karena lebih pandai, hanya posisinya berbeda. Belum tahu profil risiko sendiri? Sebaiknya jangan terburu-buru membeli apa pun.
2. Diversifikasi Portofolio Investasi: Disebar ke Mana Saja?
Setelah tahu seberapa besar risiko yang dapat diterima, pertanyaan berikutnya: bagaimana menyusun portofolio investasi yang seimbang dari dana tersebut? Jawabannya bukan pada satu tempat saja. Sebarkan ke beberapa jenis aset, misalnya saham, sukuk, emas, reksa dana, dan belakangan mulai dipertimbangkan pula investasi berbasis securities crowdfunding. Sebarkan juga lintas sektor, jangan hanya satu industri meski sektor itu sedang ramai dibicarakan.
Begitu sektor itu melemah, portofolio yang isinya satu sektor langsung terdampak, sementara portofolio yang beragam masih punya bagian lain yang menahan. Inilah diversifikasi: paling sering disebut, paling sedikit dipraktikkan. Tanpa diversifikasi, portofolio investasi sebenarnya hanya berpindah risiko, bukan menyebarnya.
Baca juga: Cerdas! Begini Peran Aset Riil dalam Fundamental Saham AGL yang Perlu Dipahami
3. Sudah Disebar, Apakah Sudah Selesai? Belum
Banyak orang mengira setelah dana disebar, urusannya selesai dan tinggal menunggu hasil. Faktanya, nilai setiap aset bergerak sendiri-sendiri. Saham bisa naik tajam dalam beberapa bulan, sementara emas cenderung diam. Komposisi 40-30-30 bisa berubah jadi 60-20-20 tanpa disadari, dan risikonya pun ikut membesar.
Solusinya sederhana: tinjau ulang portofolio investasi tiap tiga atau enam bulan. Jika porsinya melenceng, jual sebagian yang membesar, alihkan ke bagian yang mengecil. Inilah rebalancing, kebiasaan kecil yang menjaga diversifikasi tetap sesuai rencana, sekaligus membedakan investor konsisten dari yang sekali coba lalu berhenti.
4. Mengapa Keuntungannya Tidak Sebesar yang Diperhitungkan?
Pertanyaan ini muncul belakangan, setelah melihat laporan dan terkejut hasilnya tidak sesuai harapan. Jawabannya ada di dua hal yang sering diabaikan: biaya transaksi dan pajak. Setiap instrumen punya struktur biayanya sendiri, dari biaya platform, admin, hingga pajak dividen atau capital gain. Jika tidak dihitung sejak awal, keuntungan di atas kertas bisa menyusut jauh begitu dicairkan. Periksa struktur biayanya sebelum masuk ke instrumen apa pun.
Setelah Empat Hal Ini Jelas, Baru Lihat Pilihan Instrumennya
Kalau sampai di sini profil risiko sudah dikenali, alokasi sudah disebar, evaluasi sudah jadi kebiasaan, dan biaya-pajak sudah dihitung, baru masuk akal lihat instrumen baru.
Salah satu yang makin dipertimbangkan investor di Indonesia belakangan adalah securities crowdfunding, Anda bisa memiliki bagian saham perusahaan riil yang sudah berjalan, dengan nominal jauh lebih ringan dibanding masuk lewat pasar privat langsung. Karakter risikonya beda dari saham di bursa atau reksa dana, jadi pas dipakai sebagai pelengkap, bukan satu-satunya tumpuan.
Salah satu penawaran yang sedang berjalan di LBS Urun Dana adalah saham PT Amanah Grup Logistik (AGL), perusahaan di sektor logistik untuk distribusi produk kebutuhan sehari-hari.
Sebelum Memutuskan, Ini Ikhtisar Penawaran Saham AGL
Kalau sampai di sini Anda masih penasaran, berikut gambaran penawaran Saham AGL. Detail sisa porsi, proyeksi dividen yield, dan payout ratio ada pada ikhtisar di bawah.
Ada baiknya baca dulu gambaran bisnisnya sebelum memutuskan ikut.
Baca juga: Breaking News! Investor Tanya Keras soal Dana AGL, Begini Jawaban Resminya
Kenapa Lewat LBS Urun Dana?
Satu hal yang biasanya jadi pertanyaan sebelum masuk instrumen baru: platformnya bisa dipercaya atau tidak. LBS Urun Dana berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tiap penawaran yang tayang juga dibimbing langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, selaku Founder LBS Urun Dana dan Pakar Fikih Muamalah.
Saham AGL bisa jadi opsi yang masuk akal untuk melengkapi portofolio, sejalan dengan diversifikasi yang sudah dibahas dari awal.
Kalau Sudah Siap, Begini Langkahnya
Belum punya akun? Daftar di sini. Sudah punya? Langsung login dan cek detail penawarannya.
Sudah mantap menjadikan AGL bagian dari portofolio? Beli saham AGL sekarang.
Ada yang mau ditanyakan? Tim LBS bisa dihubungi lewat WhatsApp:
- Wisnu: Chat WhatsApp
- Faris: Chat WhatsApp
- Dwian: Chat WhatsApp
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi atau jaminan hasil investasi. Setiap keputusan investasi mengandung risiko yang harus Anda pahami.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






