investasi
17 Juni 2026
Naufal Mamduh
Kalem! Saham Pasar Sekunder Terkoreksi, Ini 3 Cara Investor Cerdas Menyikapinya
Tren koreksi investasi saham di Pasar Sekunder LBS Urun Dana terus berlanjut. Senin kemarin (16/8/2026) LEDX (LBS Equity Crowdfunding Index) ditutup di 196,04, turun 4,42% dalam satu sesi dengan volume transaksi tertinggi sejak hari pertama: 85.700 lembar. Hampir semua emiten menutup hari dengan koreksi.
Di permukaan, angka-angka ini tampak mengkhawatirkan. Tapi bagi investor yang memahami cara kerja pasar sekunder, inilah justru momen yang paling penting untuk tetap berpikir jernih dan tidak reaktif.
Saham Turun Bukan Berarti Bisnis Ikut Turun
Sebelum masuk ke strategi, ada satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam investasi saham lewat securities crowdfunding: harga saham di pasar sekunder tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental bisnis secara real-time.
Bisnis Harvies Coffee masih beroperasi. Makacha Bakery masih berproduksi. RSIA Annisa Pekanbaru masih melayani pasien. Koreksi harga yang terjadi lebih banyak didorong oleh dinamika penawaran dan permintaan antar investor di pasar, bukan oleh perubahan mendasar pada bisnis itu sendiri.
Pasar tidak selalu naik. Tahun 1998 dan 2008 membuktikan itu bahkan di pasar modal konvensional. Yang membedakan investor yang bertahan dan yang tidak bukan soal siapa yang bisa memprediksi kapan pasar naik, melainkan siapa yang punya strategi yang tepat sebelum masuk.
Baca juga: Heboh! Rekap 5 Hari Pertama Pasar Sekunder LBS Urun Dana, Ini Pergerakan Lengkapnya
3 Strategi Investor Saham dalam Menghadapi Koreksi Pasar Sekunder
Berikut tiga pendekatan yang bisa dijadikan kerangka berpikir, baik untuk investasi saham untuk pemula maupun investor yang sudah berpengalaman di Pasar Sekunder LBS Urun Dana:
1. Market Timing
Strategi ini didasarkan pada prinsip sederhana: optimis ketika orang lain pesimis. Ketika harga terkoreksi dan mayoritas investor cenderung menahan diri, ada investor yang justru melihat ini sebagai titik masuk yang lebih menarik dibanding saat harga sedang tinggi.
Warren Buffett pernah menyebut bahwa ia "takut ketika orang lain serakah, dan serakah ketika orang lain takut." Prinsip ini relevan, tapi tidak berarti asal masuk begitu harga turun. Market timing yang baik tetap membutuhkan analisis fundamental bisnis, bukan sekadar reaksi terhadap pergerakan harga harian.
2. Asset Allocation
Pendekatan ini mengajarkan investor untuk memperlakukan investasi saham sebagai bagian dari portofolio yang lebih besar, bukan satu-satunya instrumen. Misalnya, seseorang mengalokasikan 30% portofolionya di saham, 40% di sukuk, dan sisanya di instrumen lain seperti emas atau kas.
Ketika saham terkoreksi terus, bobot saham dalam portofolio otomatis ikut turun. Dalam pendekatan asset allocation, kondisi ini bukan alarm untuk panik. Ini justru sinyal untuk melakukan rebalancing: menambah posisi saham agar komposisi portofolio kembali ke target semula. Bukan karena euforia, tapi karena disiplin terhadap rencana.
3. Dollar Cost Averaging (DCA)
Dollar Cost Averaging adalah strategi ketiga yang paling tidak bergantung pada kondisi pasar: investor mengalokasikan jumlah tetap secara berkala, misalnya setiap bulan, tanpa melihat apakah harga sedang tinggi atau rendah.
Logikanya: ketika harga turun, jumlah yang sama akan mendapatkan lebih banyak lembar saham. Ketika harga naik, nilai portofolio ikut terdorong ke atas. Yang dipantau bukan harga hari ini, tapi rata-rata harga perolehan secara keseluruhan. Dalam securities crowdfunding, DCA bisa diterapkan misalnya dengan mengalokasikan sejumlah dana ke beberapa emiten secara rutin setiap periode Pasar Sekunder dibuka.
Mulai Investasi Saham di Pasar Sekunder LBS Urun Dana
Transaksi bisa dilakukan langsung di Pasar Sekunder. Belum terdaftar? Mulai di sini. Kalau masih ingin berdiskusi dulu sebelum memutuskan, tim LBS Urun Dana siap:
Baca juga: Epik! Hari Keempat Pasar Sekunder LBS Urun Dana, Makacha Bakery Pimpin Penguatan
Disclaimer: Investasi saham melalui platform securities crowdfunding memiliki risiko, termasuk risiko penurunan nilai saham dan risiko likuiditas. Investasikan dana sesuai profil risiko Anda dan pelajari prospektus secara lengkap sebelum mengambil keputusan. LBS Urun Dana berizin dan diawasi oleh OJK

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






