berita
17 Desember 2025
Naufal Mamduh
Ngeri! 10 Negara Asia dengan Rasio Utang Paling Tinggi, Posisi Indonesia di Mana?
Rasio utang terhadap PDB menjadi indikator utama kesehatan fiskal negara karena membandingkan total utang dengan kapasitas ekonomi. Rasio tinggi menandakan risiko fiskal lebih besar dan ruang kebijakan yang terbatas, sementara rasio rendah mencerminkan stabilitas dan fleksibilitas ekonomi.
Berdasarkan laporan World Economic Outlook IMF Oktober 2025 dan dikutip dari CNBC pada Rabu (17/12/2025), berikut 10 negara Asia dengan rasio utang terhadap PDB tertinggi.
1. Jepang
Rasio utang pemerintah Jepang mencapai 229,6% terhadap PDB dengan total utang sekitar US$9,83 triliun, setara 8,9% dari total utang global. Tingginya rasio ini mencerminkan tekanan fiskal jangka panjang akibat belanja negara yang besar, populasi menua, serta pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat.
2. Singapura
Singapura mencatat rasio utang sebesar 175,6% terhadap PDB, menjadikannya yang tertinggi kedua di Asia. Meski tampak ekstrem, mayoritas utang Singapura berfungsi sebagai instrumen pengelolaan likuiditas dan penguatan pasar keuangan, bukan untuk menutup defisit fiskal. Total utang negara ini diperkirakan sekitar US$1 triliun.
3. Bahrain
Bahrain berada di posisi ketiga dengan rasio utang 142,5% terhadap PDB. Beban utang yang tinggi memicu tekanan dari lembaga pemeringkat internasional, tercermin dari penurunan peringkat kredit dan outlook negatif. Kebutuhan refinancing melalui pasar obligasi terus meningkat, sementara fluktuasi harga minyak menjadi risiko utama bagi stabilitas fiskal negara tersebut.
4. Maldives
Maldives mencatat rasio utang sebesar 131,8% terhadap PDB. Ketergantungan tinggi pada sektor pariwisata dan kebutuhan pembiayaan infrastruktur membuat posisi fiskalnya relatif rentan terhadap guncangan eksternal.
5. Bhutan
Bhutan berada di peringkat kelima dengan rasio utang 105,6% terhadap PDB. Struktur utang negara ini banyak terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber utama pendapatan ekspor, meski tetap menyimpan risiko konsentrasi sektor.
6. China
China menempati posisi keenam dengan rasio utang 96,3% terhadap PDB. Rasio ini mencerminkan peningkatan utang seiring kebijakan stimulus dan upaya menjaga stabilitas ekonomi, khususnya di sektor properti dan keuangan.
7. Laos
Laos berada di peringkat ketujuh dengan rasio utang 90,7% terhadap PDB. Tekanan fiskal terutama berasal dari pembiayaan proyek infrastruktur dan tingginya ketergantungan pada pinjaman luar negeri.
8. Yordania
Yordania menempati posisi kedelapan dengan rasio utang 89,7% terhadap PDB. Beban utang negara ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi struktural dan tantangan geopolitik kawasan.
9. India
India berada di peringkat kesembilan dengan rasio utang 81,4% terhadap PDB. Meski relatif lebih rendah dibanding negara lain dalam daftar ini, besarnya skala ekonomi membuat pengelolaan utang tetap menjadi isu penting.
10. Pakistan
Pakistan melengkapi daftar 10 besar dengan rasio utang 71,6% terhadap PDB. Negara ini masih menghadapi tantangan fiskal dan makroekonomi, termasuk kebutuhan pembiayaan defisit dan stabilitas nilai tukar.
Bagaimana Dengan Indonesia?
Indonesia tercatat berada di urutan tengah berdasarkan nilai utang pemerintah. Utang RI menurut catatan IMF mencapai US$588,8 miliar atau setara Rp9.828 triliun atau sekitar 0,50% dari total utang dunia.
Tingginya rasio utang di Asia menunjukkan bahwa utang bukan sekadar soal angka, melainkan soal kemampuan mengelola risiko. Jepang dan Singapura membuktikan bahwa utang besar bisa bertahan jika ditopang struktur ekonomi kuat, sementara negara lain justru berada di posisi rapuh karena ruang fiskalnya sempit.
Pertanyaannya kini bergeser: bukan siapa yang paling banyak berutang, tetapi siapa yang paling siap menghadapi krisis berikutnya. Dan di tengah peta ini, sudahkah Indonesia belajar dari pengalaman negara-negara tersebut sebelum terlambat?

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






