inspirasi nabawiyah
11 Juli 2026
Naufal Mamduh
Bergetar! Ammar bin Yasir, Sahabat Rasulullah ﷺ yang Teguh Meski Disiksa Kejam
Kisah Ammar bin Yasir adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah Islam. Bayangkan disiksa di bawah terik matahari padang pasir Makkah, dipaksa mengucapkan kata-kata yang menghancurkan hati, sementara orang-orang tercinta gugur satu per satu di depan mata. Inilah yang dialami Ammar bin Yasir, sahabat Rasulullah ﷺ yang perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa keimanan sejati tidak runtuh oleh siksaan seberat apapun.
Anak Perantau dari Yaman
Ammar bin Yasir lahir sekitar tahun 570 M (52 SH), bertepatan dengan tahun kelahiran Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Ayahnya, Yasir bin Amir, adalah perantau asal Yaman dari suku Qahtan yang datang ke Makkah bersama dua saudaranya untuk mencari saudara mereka yang hilang. Kedua saudaranya pulang ke Yaman, namun Yasir memilih menetap di Makkah dan menikah dengan Sumayyah binti Khayyath.
Karena status sosial mereka lemah dan bukan penduduk asli Makkah, tidak ada satu pun kabilah Arab yang menjamin keselamatan mereka. Dalam tradisi Arab saat itu, tanpa jaminan kabilah, seseorang tidak memiliki perlindungan apapun. Kelak, inilah yang membuat kaum Quraisy merasa ringan tangan untuk menyiksa mereka.
Masuk Islam di Antara Tujuh Orang Pertama
Ketika Rasulullah ﷺ mulai berdakwah sekitar tahun 610 M (12 SH), Ammar termasuk dalam kelompok pertama yang bersaksi tentang keislaman langsung di hadapan Nabi ﷺ di rumah Al-Arqam. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa orang-orang pertama yang menampakkan keislaman ada tujuh: Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Ammar, Sumayyah, Yasir, Bilal, dan Abdullah bin Mas'ud sendiri.
Ammar bahkan berhasil mengajak ibu dan ayahnya untuk turut masuk Islam. Namun keberanian menampakkan keimanan itu membuat kaum Quraisy murka besar.
Baca juga: Teladan! Kisah Hudzaifah bin Al-Yaman, Sang Pemegang Rahasia Rasulullah ﷺ
Siksaan yang Tak Terbayangkan
Setiap hari, Ammar dan keluarganya dibawa ke padang pasir Makkah yang membara, dipakaikan baju besi, dibelenggu dengan besi panas, dan dijemur di bawah terik matahari. Tujuannya satu: memaksa mereka meninggalkan Islam.
Abu Jahal menjadi algojo utama keluarga ini. Sumayyah radhiyallahu 'anha disiksa dengan sangat sadis hingga Abu Jahal akhirnya menancapkan tombaknya ke tubuh beliau. Jadilah ia syahidah pertama dalam sejarah Islam, sekitar tahun 615 M (7 SH). Tidak berapa lama, Yasir pun menyusul wafat. Rasulullah ﷺ bersabda menyaksikan penderitaan mereka:
"Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga." (HR. Al-Hakim)
Ketika Lisan Terpaksa Berbicara, Tapi Hati Tetap Beriman
Dalam sesi penyiksaan paling berat, Ammar hampir tidak sadarkan diri. Orang-orang musyrik berulang kali menyebutkan pujian kepada berhala, dan Ammar yang tak berdaya mengikuti ucapan itu tanpa disadari.
Ketika siuman, Ammar menangis sejadi-jadinya. Siksaan fisik tidak lagi terasa berat dibanding rasa takut telah mengucapkan kata-kata yang bisa mencabut imannya. Rasulullah ﷺ pun datang dan bertanya, "Bagaimana engkau mendapati hatimu?" Ammar menjawab gemetar, "Hatiku tetap tenang dalam keimanan."
Rasulullah ﷺ kemudian menyampaikan firman Allah ﷻ yang turun berkenaan dengan peristiwa ini:
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah ﷻ sesudah dia beriman, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, dia tidak berdosa." (QS. An-Nahl: 106)
Beliau bersabda, "Jika mereka menyiksamu lagi, maka ucapkanlah lagi apa yang mereka inginkan." (HR. Al-Hakim)
Hati Ammar menjadi tentram. Rasulullah ﷺ pun bersabda bangga, "Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!"
Pilihan yang Selalu Lurus
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang Ammar sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Ibnu Sumayyah (Ammar bin Yasir), tidaklah dihadapkan kepadanya dua perkara, melainkan ia memilih yang lebih lurus di antara keduanya." (HR. Tirmidzi)
Gelar "Ibnu Sumayyah" yang disematkan Rasulullah ﷺ sendiri adalah penghormatan luar biasa, mengabadikan nama sang ibu yang menjadi syahidah pertama dalam Islam.
Setelah hijrah ke Madinah pada 622 M (1 H), Ammar turut aktif membangun Masjid Nabawi, bahkan dikenal mengangkut dua bata setiap kali sahabat lain hanya mengangkut satu. Ia kemudian mengikuti seluruh peperangan besar bersama Rasulullah ﷺ: Perang Badar 624 M (2 H), Perang Uhud 625 M (3 H), hingga Perang Khandak 627 M (5 H).
Kisah Ammar bin Yasir di Penghujung Hidup: Gugur di Usia Senja
Ammar bin Yasir berumur panjang dan menyaksikan berbagai peristiwa besar Islam. Pada masa Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu (634-644 M / 12-22 H), ia dipercaya menjadi Gubernur Kufah.
Baca juga: Jihad! Kisah Abu Thalhah Al Anshari, Sahabat Setia Nabi ﷺ dan Pembela Agama Allah ﷻ
Ammar gugur pada tahun 37 H (657 M) dalam usia sekitar 87-93 tahun di Perang Siffin, memenuhi kabar yang telah lama disampaikan Rasulullah ﷺ dan tercatat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok yang melanggar kebenaran. Sebelum gugur, ia sempat meminum susu dan tersenyum, teringat kabar Rasulullah ﷺ bahwa ia akan meminumnya sebelum terbunuh.
Kisah Ammar bin Yasir mengajarkan kita bahwa keimanan bukan diukur dari sempurnanya lisan di saat terjepit, melainkan dari keteguhan hati yang tidak pernah goyah meski seluruh dunia menekan.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






