berita
30 September 2026
Naufal Mamduh
Perhatian Serius! Ini Langkah BI dan Pemerintah Saat Dolar Tembus Rp18.000
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS di pasar spot.
Pergerakan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Senin (28/9), rupiah berada di level Rp17.978 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg sebagaimana dikutip dari CNBC.
Di tengah pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mulai dari penggunaan instrumen pasar valuta asing hingga mendorong peningkatan ekspor dan investasi.
Langkah BI Menjaga Stabilitas Rupiah
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas rupiah.
Dari sisi moneter, BI melakukan stabilisasi nilai tukar melalui sejumlah instrumen di pasar valuta asing, termasuk pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF). Namun, komposisi intervensi tersebut kini mulai berubah.
Destry mengatakan porsi intervensi BI melalui pasar spot kini sekitar 30% dari total intervensi. Sementara itu, penggunaan DNDF dan NDF semakin dikembangkan.
Menurut Destry, transaksi spot membutuhkan dolar AS secara langsung sehingga dapat berdampak pada cadangan devisa. Karena itu, BI meningkatkan penggunaan instrumen lainnya dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar.
DNDF dan NDF merupakan instrumen derivatif valuta asing yang memungkinkan stabilisasi nilai tukar tanpa transaksi dolar AS secara langsung seperti pada pasar spot.
Baca juga: Kabar Baik! 7 Fakta di Balik Utang Krisis 1998 Rp640 Triliun yang Akhirnya Lunas
Pemerintah Dorong Ekspor dan Investasi
Menjaga stabilitas rupiah tidak hanya menjadi bagian dari kebijakan moneter. Pemerintah juga mendorong penguatan sektor eksternal, terutama melalui peningkatan ekspor untuk menambah devisa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar dan akan mendorong peningkatan ekspor.
Selain ekspor, BI juga menilai peningkatan investasi menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan yang bersifat fundamental dan struktural. Koordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, dan KSSK dilakukan untuk memperkuat ekspor serta menarik investasi, baik investasi langsung maupun portofolio.
Dengan demikian, upaya menjaga rupiah tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing, tetapi juga penguatan sumber devisa dan aktivitas ekonomi.
Mengapa Rupiah Tertekan?
Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak dan kondisi pasar keuangan global. Bloomberg Technoz melaporkan harga minyak Brent berada di atas US$106 per barel pada 29 September, yang berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk pembiayaan impor energi.
Sehari sebelumnya, tekanan terhadap rupiah juga terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG dan tekanan jual di pasar obligasi domestik. Kenaikan imbal hasil US Treasury turut memberikan tekanan terhadap pasar obligasi Indonesia.
Pada saat yang sama, kondisi geopolitik dan sentimen pasar global dapat mempengaruhi arus modal serta permintaan terhadap dolar AS.
Karena itu, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, melainkan merupakan hasil dari kombinasi kondisi eksternal, pasar keuangan domestik, serta faktor fundamental dan struktural ekonomi.
Kesimpulan
Rupiah yang kembali menyentuh Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian bagi pemerintah dan Bank Indonesia. BI kini mengurangi porsi intervensi melalui pasar spot menjadi sekitar 30% dan memperluas penggunaan DNDF serta NDF dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, pemerintah mendorong peningkatan ekspor untuk memperkuat devisa, sementara penguatan investasi menjadi bagian dari upaya menghadapi faktor fundamental dan struktural yang mempengaruhi rupiah.
Baca juga: Makin Serius! Indonesia Dorong Anggota BRICS Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Perkembangan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter dan fiskal, kondisi pasar global, harga komoditas, arus modal, serta perkembangan ekonomi domestik.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






