berita
15 September 2026
Naufal Mamduh
Makin Serius! Indonesia Dorong Anggota BRICS Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Indonesia tengah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional melalui kerja sama BRICS dan Local Currency Transaction (LCT). Salah satu contohnya terlihat dari kerja sama Indonesia dan India yang mendorong percepatan transaksi menggunakan rupiah dan rupee.
Langkah ini bukan berarti Indonesia akan meninggalkan dolar AS. Sebaliknya, penggunaan mata uang lokal menjadi alternatif agar transaksi perdagangan dan investasi tidak selalu bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS atau 2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Mumbai, India, pada 9–10 September 2026.
Indonesia dalam forum tersebut diwakili Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung.
Di sela-sela pertemuan, Destry juga bertemu Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra untuk membahas LCT, Local Currency Bilateral Swap Arrangement (LCBSA), serta konektivitas pembayaran berbasis QR. Lantas, bagaimana cara Indonesia mendorong transaksi tanpa dolar AS?
Baca juga: Wajib Disimak! Bedah Right Issue Saham AGL, Lebih Murah dari Nilai Wajar!
Apa Maksud Transaksi Tanpa Dolar AS?
Transaksi tanpa dolar AS bukan berarti dolar AS tidak lagi digunakan dalam perdagangan internasional. Istilah ini lebih mengarah pada penggunaan mata uang lokal sebagai alternatif dalam transaksi antarnegara.
Dalam konteks Indonesia dan India, misalnya, transaksi perdagangan dapat dilakukan menggunakan rupiah dan rupee. Dengan begitu, pelaku usaha kedua negara memiliki pilihan untuk menyelesaikan transaksi menggunakan mata uang lokal tanpa selalu melalui dolar AS.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pembayaran sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang utama.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan bersama.
“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret,” kata Destry sebagaimana dikutip dari CNBC.
Menurut Destry, penguatan transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara tetap perlu memperhatikan tahapan pembangunan serta prioritas nasional masing-masing negara.
Apa Itu Local Currency Transaction (LCT)?
Local Currency Transaction (LCT) menurut BI merupakan mekanisme yang memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi antarnegara dilakukan menggunakan mata uang lokal negara yang terlibat.
Dalam kerja sama Indonesia dan India, LCT menjadi salah satu instrumen yang dibahas untuk memperkuat transaksi bilateral menggunakan rupiah dan rupee. Dengan mekanisme tersebut, pelaku usaha memiliki alternatif dalam menyelesaikan transaksi lintas negara.
Karena itu, ketika muncul istilah “transaksi tanpa dolar AS”, LCT menjadi salah satu konteks penting yang perlu dipahami. Tujuannya bukan menghapus dolar AS, melainkan menyediakan pilihan transaksi menggunakan mata uang lokal.
Bagaimana Kerja Sama Indonesia dan India?
Penguatan transaksi mata uang lokal Indonesia dan India menjadi bagian dari pembahasan bilateral di sela-sela forum BRICS. Destry Damayanti dan Sanjay Malhotra membahas percepatan kerja sama LCT, LCBSA, hingga konektivitas sistem pembayaran berbasis QR antarnegara.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan mata uang lokal tidak hanya menjadi agenda dalam forum multilateral, tetapi juga mulai diarahkan ke kerja sama bilateral yang lebih konkret.
Bagi perdagangan kedua negara, penguatan mekanisme tersebut dapat membuka lebih banyak pilihan dalam penyelesaian transaksi sekaligus mendukung konektivitas pembayaran lintas negara.
Kenapa Indonesia Mendorong Transaksi Tanpa Dolar?
Dorongan tersebut muncul di tengah ketidakpastian dan fragmentasi ekonomi global. Penggunaan mata uang lokal menjadi salah satu cara untuk memperluas alternatif transaksi internasional.
Dalam pertemuan BRICS di Mumbai, negara-negara anggota membahas penggunaan mata uang lokal, konektivitas pembayaran lintas negara, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), ketahanan siber, hingga keuangan berkelanjutan.
Dengan demikian, transaksi menggunakan mata uang lokal merupakan bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan.
Baca juga: Serbu! Sukuk Kaisar Arta Nusantara Tahap 3: Cek Profil dan Prospek Bisnisnya Disini!
Apakah Indonesia Akan Meninggalkan Dolar AS?
Jawabannya tidak. Penggunaan mata uang lokal bukan berarti Indonesia menghentikan penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional. Dolar AS tetap menjadi salah satu mata uang utama dalam sistem keuangan global.
Fokus Indonesia adalah menambah alternatif. Jika transaksi dengan India dan negara mitra lainnya dapat dilakukan menggunakan rupiah dan mata uang lokal, pelaku usaha tidak selalu harus menggunakan dolar AS dalam setiap tahap transaksi.
Jadi, transaksi tanpa dolar AS lebih tepat dipahami sebagai upaya memperluas pilihan mata uang, memperkuat penggunaan mata uang lokal, dan membangun konektivitas pembayaran lintas negara.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






