berita
28 Juli 2026
Naufal Mamduh
Kalem Bro! Fakta Rasio Utang Singapura vs Indonesia, Ternyata Bukan Soal Angkanya
Angka 170% versus 40%. Sekilas, perbandingan rasio utang Singapura dan Indonesia terlihat paradoks: negara dengan utang lebih besar justru lebih aman, sementara yang lebih kecil malah lebih rentan. INDEF sebagaimana dikutip dari Warta Ekonomi mengingatkan bahwa membandingkan rasio utang antarnegara secara mentah adalah kesalahan analisis yang kerap beredar di ruang publik.
Utang Singapura Diputar ke Investasi
Singapura membangun posisinya sebagai net creditor, negara yang nilai asetnya melampaui kewajibannya. Rasio utang sekitar 170% PDB bukan dipakai untuk membiayai belanja rutin pemerintah, melainkan diputar kembali melalui lembaga investasi negara seperti GIC, Temasek, dan Monetary Authority of Singapore (MAS).
Hasilnya: imbal hasil dari investasi tersebut melampaui bunga utang yang harus dibayar. Utang bukan beban, melainkan instrumen penghasil aset. Peringkat kredit tertinggi AAA dari lembaga pemeringkat global menjadi cerminan kepercayaan pasar terhadap model pengelolaan fiskal ini.
Baca juga: Melongo! Utang Luar Negeri RI Capai Rp8.000 Triliun, Masih Aman atau Bahaya?
Utang Indonesia Rentan Secara Struktural
Indonesia berada di posisi yang berbeda. Dengan rasio utang 40,75% PDB dan Utang Luar Negeri (ULN) mencapai US$444,4 miliar per Mei 2026, Indonesia masih dalam batas aman yang ditetapkan UU Keuangan Negara sebesar 60% PDB. Namun strukturnya yang menjadi persoalan.
Sebagian besar utang diterbitkan dalam valuta asing. Artinya setiap kali rupiah melemah terhadap dolar, nilai kewajiban Indonesia otomatis membengkak tanpa ada tambahan pinjaman baru sekalipun. Risiko nilai tukar ini adalah kerentanan struktural yang tidak dimiliki Singapura.
Beban Bunga Utang RI yang Makin Berat
Tantangan paling konkret ada di sini. APBN 2026 mengalokasikan Rp599,44 triliun untuk membayar bunga utang saja, setara hampir 19% dari total pendapatan negara sebesar Rp3.153,6 triliun. Angka ini melampaui ambang batas waspada S&P yang berada di 15%.
Setiap rupiah yang keluar sebagai bunga adalah rupiah yang tidak bisa masuk ke pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Ruang fiskal menyempit bukan karena penerimaan negara stagnan, tapi karena kewajiban bunga tumbuh lebih cepat.
Satu data lain yang perlu dicermati: kepemilikan asing di Surat Berharga Negara turun ke 12,58%, terendah dalam 19 tahun. Positifnya, risiko capital flight berkurang. Negatifnya, ketergantungan pada likuiditas bank dan Bank Indonesia makin besar, yang berpotensi menekan efektivitas kebijakan moneter.
Angka Rasio Utang Bukan Segalanya
INDEF menegaskan bahwa yang menentukan kesehatan utang suatu negara bukan sekadar rasionya terhadap PDB, melainkan tiga hal: untuk apa utang digunakan, dalam mata uang apa diterbitkan, dan seberapa produktif hasilnya bagi perekonomian.
Baca juga: Sadis! Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp103 Triliun, Masihkan Kita Terjebak Riba?
Indonesia tidak dalam krisis. Tapi dengan beban bunga yang terus tumbuh dan struktur utang yang rentan terhadap gejolak nilai tukar, kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal ke depan bukan pilihan, melainkan keharusan.
Disclaimer: Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang termuat tidak merepresentasikan pandangan resmi, kebijakan, maupun skema transaksi dan investasi yang berlaku di LBS Urun Dana

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






