berita
4 Maret 2026
Naufal Mamduh
Krisis! Penutupan Selat Hormuz Guncang 4 Wilayah Dunia, Indonesia Ikut Terseret?
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu guncangan di pasar energi global. Asia diperkirakan menjadi kawasan yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi.
Situasi memanas setelah seorang komandan senior Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Ia juga memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut berpotensi menjadi target serangan.
Sebagai informasi, Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, berada di antara Iran dan Oman. Jalur ini menjadi nadi utama perdagangan energi dunia. Data Kpler mencatat sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, atau sekitar 31% dari total aliran minyak mentah melalui jalur laut global.
Penutupan jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa menembus US$100 per barel jika gangguan berlangsung lama.
Harga minyak acuan Brent sendiri sempat naik sekitar 2,6% ke level US$80 per barel, atau hampir 10% lebih tinggi sejak konflik memanas.
Perdagangan Gas Alam Ikut Terguncang
Selain minyak, perdagangan gas juga terancam. Sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) global dari kawasan Teluk harus melewati Selat Hormuz. Qatar, salah satu pemasok LNG terbesar dunia, bahkan menghentikan produksi sementara setelah fasilitas energi di Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City diserang drone Iran.
Nomura menyebut beberapa negara Asia paling rentan terhadap kenaikan harga energi.
“Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina sangat bergantung pada impor minyak sehingga lebih sensitif terhadap lonjakan harga,” tulis Nomura sebagaimana dikutip dari CNBC pada Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Panas! 7 Dampak Perang Iran vs Amerika yang Bikin Ekonomi Indonesia Waswas!
Sebaliknya, Malaysia diperkirakan mendapat manfaat relatif karena merupakan negara pengekspor energi.
Eskalasi konflik di kawasan ini juga memicu spekulasi luas mengenai potensi konflik global yang lebih besar. Beberapa pengamat bahkan mengaitkannya dengan kemungkinan perang dunia ketiga atau perang dunia ke 3 jika ketegangan melibatkan lebih banyak negara besar. Mari simak analisis dampak penutupan Selat Hormuz berdasarkan negara dan benua.
1. Asia Selatan Paling Terdampak
Kawasan Asia Selatan diperkirakan menghadapi dampak paling besar jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, terutama pada pasokan LNG.
Data Kpler menunjukkan Qatar dan Uni Emirat Arab menyuplai 99% impor LNG Pakistan, 72% Bangladesh, dan 53% India. Ketergantungan tinggi ini membuat negara-negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan distribusi energi.
Pakistan dan Bangladesh menjadi yang paling terdampak karena memiliki kapasitas penyimpanan dan fleksibilitas pengadaan energi yang terbatas. Bangladesh bahkan menghadapi defisit gas lebih dari 1.300 juta kaki kubik per hari, menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis.
Analis Kpler, Katayama, menyebut gangguan pasokan kemungkinan akan langsung menekan permintaan energi karena keterbatasan cadangan.
Sementara itu, India mengimpor sekitar 60% energi dari Timur Tengah. Jika konflik di Selat Hormuz berlanjut, biaya impor energi akan meningkat dan berpotensi menekan neraca transaksi berjalan. Eskalasi konflik ini juga memicu kekhawatiran lebih luas terkait risiko konflik global seperti perang dunia ketiga.
2. Keamanan Energi China Diuji
Penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mempengaruhi keamanan energi China. Negara ini merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran, menurut data Kpler.
Untuk LNG, sekitar 30% impor gas China berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara 40% impor minyaknya melewati Selat Hormuz. Meski terpapar cukup besar, China masih memiliki penyangga jangka pendek. Persediaan LNG negara tersebut hingga akhir Februari tercatat sekitar 7,6 juta ton.
Jika gangguan berlangsung lama, China kemungkinan harus mencari pasokan dari wilayah lain. Hal ini dapat meningkatkan persaingan harga energi di pasar Asia. Selain itu, peningkatan pengiriman minyak dari Arab Saudi dan keberadaan cadangan minyak strategis China dapat membantu meredam dampak awal gangguan pasokan energi global.
3. Ketergantungan Jepang dan Korea Selatan ke Timteng
Jepang dan Korea Selatan juga berisiko terdampak jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut. Jepang memperoleh sekitar 75% pasokan energi dari Timur Tengah (Timteng), sementara Korea Selatan sekitar 70%.
Untuk LNG, ketergantungan Jepang relatif kecil sekitar 6%, sedangkan Korea Selatan sekitar 14%. Menurut kepala strategi makro dan valuta asing APAC di Convera, Shier Lee Lim, negara dengan ketergantungan impor energi tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan lebih rentan terhadap guncangan pasokan energi.
Cadangan energi kedua negara juga terbatas. Jepang memiliki sekitar 4,4 juta ton cadangan LNG, sementara Korea Selatan sekitar 3,5 juta ton. Menurut Kpler, cadangan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi sekitar dua hingga empat minggu dalam kondisi pasokan stabil.
4. Nasib Indonesia dan Negara Asia Tenggara Lainnya
Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dampak utama dari gangguan di Selat Hormuz diperkirakan lebih terasa pada kenaikan biaya energi dibanding kekurangan pasokan langsung.
Baca juga: Miris! Indonesia Tambah Utang Rp45 Triliun ke Bank Asing, Ini Tujuannya!
Menurut analis Kpler, Katayama, negara-negara yang membeli LNG di pasar spot akan menghadapi harga yang lebih mahal karena Asia harus bersaing dengan Eropa untuk mendapatkan pasokan energi.
Thailand dinilai menjadi negara yang paling rentan di kawasan ini. Nomura mencatat Thailand memiliki impor minyak bersih terbesar di Asia, sekitar 4,7% dari PDB. Setiap kenaikan harga minyak 10% dapat memperburuk neraca transaksi berjalan negara tersebut sekitar 0,5 poin persentase dari PDB.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






