berita
2 Maret 2026
Naufal Mamduh
Panas! 7 Dampak Perang Iran vs Amerika yang Bikin Ekonomi Indonesia Waswas!
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Dalam beberapa pekan terakhir, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam. Perang Iran vs Amerika terbaru bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan risiko nyata yang berpotensi meluas menjadi konflik kawasan.
Jika eskalasi benar-benar terjadi dalam skala besar, dampaknya tidak hanya terasa di medan tempur. Efeknya bisa langsung menghantam stabilitas energi global, pasar keuangan, hingga kondisi fiskal Indonesia. Berikut sejumlah potensi dampak perang Iran Israel atau perang dunia ke 3 bagi Indonesia dari segi ekonomi yang perlu dicermati sebagaimana menurut penjelasan dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
1. Risiko Perang Meluas di Timur Tengah
Timur Tengah adalah kawasan strategis bagi pasokan energi dunia. Ketika konflik meningkat, pasar global langsung merespons dengan sentimen negatif. Investor cenderung menahan ekspansi dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Ketidakpastian ini menekan perdagangan global, arus investasi, dan stabilitas keuangan internasional. Dalam kondisi seperti ini, respons berlebihan seperti panic buying dan konsumsi impulsif justru berisiko memperburuk tekanan ekonomi domestik.
2. Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman BBM Naik
Selat Hormuz menjadi jalur vital karena sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melintasi perairan tersebut. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur ini, suplai global bisa terganggu signifikan. Data terbaru menunjukkan harga minyak mentah Brent telah naik lebih dari 20 persen sejak awal tahun dan sempat menyentuh kisaran 72 dolar AS per barel. Dalam skenario terburuk, harga bisa melonjak ke 100 hingga 120 dolar AS per barel.
Baca juga: Deal! 9 Poin Penting Kesepaktan Indonesia–Amerika yang Bikin Pebisnis Girang
Bagi Indonesia yang masih memiliki ketergantungan pada energi fosil, lonjakan harga minyak berarti tekanan besar terhadap subsidi energi. APBN 2026 menggunakan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Jika realisasi harga jauh di atas asumsi tersebut, beban subsidi berpotensi membengkak dan memicu tekanan pada defisit anggaran. Implikasinya bisa mengarah pada kenaikan harga BBM atau penyesuaian kebijakan fiskal lainnya.
3. Inflasi Pangan Menggerus Tabungan
Konflik berskala besar berpotensi mengganggu rantai pasok global. Gangguan distribusi energi berdampak langsung pada biaya produksi dan logistik pangan.
Harga komoditas seperti ayam, telur, beras, dan sayuran berisiko meningkat. Ketika inflasi pangan naik, disposable income kelas menengah menyusut. Dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan atau investasi terpaksa digunakan untuk kebutuhan pokok.
Dalam jangka panjang, daya beli melemah dan konsumsi domestik sebagai motor utama ekonomi Indonesia ikut terdampak dari perang dunia ke 3 Iran Israel ini.
4. Tekanan Utang dan Risiko Fiskal
Di tengah tekanan global, pemerintah juga menghadapi tantangan pembiayaan. Pada Februari 2026, Indonesia tercatat menarik utang baru sebesar Rp75,6 triliun. Jika ketidakpastian global terus meningkat, kebutuhan pembiayaan bisa bertambah untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Penarikan utang dalam jumlah besar tanpa pertumbuhan penerimaan yang seimbang akan mempersempit ruang kebijakan fiskal. Risiko defisit melebar dan beban bunga meningkat menjadi perhatian serius.
Kondisi ini memunculkan risiko generasi sandwich semakin tertekan. Beban ekonomi tidak hanya dirasakan oleh generasi saat ini, tetapi juga berpotensi diwariskan melalui kewajiban fiskal jangka panjang.
5. Flight to Quality: Emas Melesat, Rupiah Tertekan
Ketika geopolitik memanas, investor global biasanya beralih ke aset aman atau safe haven. Fenomena ini dikenal sebagai flight to quality.
Dalam beberapa bulan terakhir, gold rush masih terjadi. Harga emas global tercatat naik 48,4 persen dalam enam bulan terakhir. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global.
Di sisi lain, rupiah berisiko melemah akibat arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Kondisi ini menciptakan ketimpangan. Kelompok yang memiliki akses ke aset lindung nilai seperti emas atau aset global relatif lebih terlindungi. Sementara masyarakat yang hanya memegang kas rupiah menghadapi risiko penurunan daya beli.
6. Pergeseran Performa Aset Global
Data performa aset global menunjukkan komoditas seperti emas dan minyak berada di posisi teratas dalam kenaikan tahunan. Sebaliknya, sejumlah indeks saham utama dunia mencatat pertumbuhan terbatas, bahkan stagnan.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran preferensi investor dari aset berisiko ke aset defensif. Pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami volatilitas lebih besar jika arus modal global berubah arah secara signifikan.
7. Dampak Langsung ke Masyarakat
Pada akhirnya, dampak Perang Iran vs Amerika terbaru akan terasa di kehidupan sehari-hari. Harga BBM naik berarti ongkos transportasi meningkat. Harga pangan naik berarti belanja bulanan membengkak. Nilai tukar melemah berarti harga barang impor semakin mahal.
Bagi masyarakat berpenghasilan tetap, setiap kenaikan biaya hidup terasa signifikan. Tantangan terbesar bukan hanya pada angka makroekonomi, tetapi pada kemampuan rumah tangga menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian global.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Dalam situasi global yang tidak menentu, kehati-hatian menjadi kunci. Mengelola pengeluaran secara bijak, menjaga likuiditas, serta memperkuat ketahanan finansial keluarga adalah langkah rasional.
Di level kebijakan, stabilitas fiskal dan diversifikasi energi menjadi faktor penting untuk meredam dampak jangka panjang. Sementara di level individu, literasi keuangan dan diversifikasi aset dapat membantu mengurangi risiko.
Baca juga: Kejam! 5 Fakta Dibalik Amerika Serikat Serang Venezuela
Ketegangan geopolitik memang berada di luar kendali masyarakat. Namun kesiapan menghadapi dampaknya tetap berada dalam ruang keputusan masing-masing.
Jika skenario terburuk benar-benar terjadi, apakah struktur keuangan Anda sudah cukup kuat untuk bertahan?

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






