berita
3 September 2026
Naufal Mamduh
Menyala! Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Surplus Usai Defisit 2 Bulan
Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 setelah dua bulan berturut-turut mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$121,9 juta atau sekitar US$0,12 miliar pada Juli 2026.
Angka ini menjadi kabar positif setelah neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$450,5 juta pada Juni 2026. Artinya, posisi perdagangan Indonesia berbalik positif dalam satu bulan. Lantas, apa yang membuat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus?
Nonmigas Jadi Penopang Utama
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 terutama ditopang oleh sektor nonmigas. BPS mencatat neraca perdagangan nonmigas mengalami surplus sebesar US$3,10 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan surplus non migas pada Juni 2026 yang mencapai US$3,04 miliar.
Beberapa komoditas menjadi penyumbang surplus terbesar. Di antaranya lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Komoditas-komoditas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan Indonesia masih banyak ditopang oleh ekspor produk berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan. Namun, cerita berbeda terlihat dari sektor migas.
Baca juga: Heboh! Fakta Di Balik 12 Bank di Indonesia Tutup dalam 8 Bulan Terakhir
Neraca Perdagangan Migas Masih Defisit
Berbeda dengan nonmigas, neraca perdagangan migas Indonesia masih mencatatkan defisit sebesar US$2,98 miliar pada Juli 2026. Meski demikian, defisit tersebut sebenarnya membaik dibandingkan Juni 2026 yang mencapai US$3,49 miliar.
Defisit migas terutama berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah. Jika surplus nonmigas dan defisit migas digabungkan, neraca perdagangan Indonesia akhirnya hanya menghasilkan surplus sekitar US$121,9 juta pada Juli 2026.
Impor Melonjak, Tapi Ekspor Masih Lebih Tinggi
Ada hal lain yang menarik dari data perdagangan Juli 2026. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$26,22 miliar pada Juli 2026. Sementara itu, nilai impor mencapai US$26,09 miliar.
Artinya, nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor. Selisih tipis tersebut kemudian menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$121,9 juta.
Namun, impor tumbuh cukup tinggi secara tahunan. Nilai impor Juli 2026 naik 27,02 persen dibandingkan Juli 2025. Pada periode yang sama, ekspor tumbuh 6,05 persen.
Kondisi ini patut dicermati karena pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor dapat membuat surplus perdagangan semakin tipis.
Surplus Januari-Juli 2026 Tinggal US$3,70 Miliar
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sepanjang Januari hingga Juli 2026. Total surplus mencapai US$3,70 miliar. Angka tersebut berasal dari surplus nonmigas sebesar US$22,45 miliar yang kemudian tergerus oleh defisit migas sebesar US$18,75 miliar.
Meski masih surplus, angkanya jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja perdagangan ini menjadi salah satu indikator penting untuk melihat bagaimana aktivitas ekspor, impor, industri, dan permintaan domestik bergerak sepanjang tahun.
Baca juga: Bangga! Ekonomi Digital RI Dekati USD 100 Miliar, AI dan Data Center Jadi Kunci!
Bagi dunia usaha dan investor, perubahan komposisi ekspor dan impor juga menarik untuk diperhatikan. Ketika harga komoditas, kebutuhan bahan baku, maupun aktivitas industri berubah, dampaknya dapat terasa pada kinerja berbagai sektor bisnis.
Dengan demikian, surplus US$120 juta pada Juli 2026 memang menjadi kabar positif. Namun, tipisnya surplus dan tingginya pertumbuhan impor menunjukkan bahwa kinerja perdagangan Indonesia masih perlu dicermati pada bulan-bulan berikutnya.
Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang termuat tidak merepresentasikan pandangan resmi, kebijakan, maupun skema transaksi dan investasi yang berlaku di LBS Urun Dana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






