berita
13 Januari 2026
Naufal Mamduh
Nyungsep! 5 Fakta IHSG Anjlok di Awal 2026 yang Bikin Investor Panik!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan tajam lebih dari 2% pada perdagangan sesi II, Senin (12/1). Indeks saham Indonesia ini sempat menyentuh level terendahnya di angka 8.715,41, sebelum akhirnya berhasil pulih dan ditutup pada level 8.884,72, meskipun masih tercatat melemah 0,58% di akhir sesi. Penurunan ini menjadi perhatian para investor mengenai apa yang menyebabkan IHSG anjlok hari ini.
1. Aksi Ambil Untung Investor yang Agresif
Salah satu penyebab utama turunnya IHSG hari ini adalah aksi ambil untung yang dilakukan oleh investor. Pada perdagangan ini, investor yang sebelumnya telah meraih keuntungan memilih untuk menjual saham mereka, menyebabkan terjadinya koreksi di pasar. Aksi profit taking ini terutama terjadi pada saham-saham sektor energi, yang selama beberapa hari terakhir menunjukkan penguatan signifikan.
Pada perdagangan Senin, saham-saham yang sebelumnya menguat, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), mengalami penurunan tajam, seiring dengan terjadinya aksi ambil untung. Aksi ini menjadi faktor utama yang menyebabkan indeks saham Indonesia turun hari ini.
2. Tekanan Emiten di Sektor Energi
Sebagaimana dikutip dari Detik Finance pada Senin (12/1/2026), sektor energi menjadi salah satu penyebab IHSG turun hari ini. Sebagai contoh, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang sempat menguat, melorot hingga 12,12% seiring penurunan IHSG. Meski demikian, saham tersebut mulai bergerak naik, meskipun masih tercatat terkoreksi sebesar 5,63% pada harga Rp 436 per lembar saham.
Baca juga: Gaspol! IHSG Hari Ini di Zona Hijau, Purbaya Pede IHSG 2026 Tembus 10.000
Selain itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami penurunan hingga 12,96%. Namun, saham ini kembali pulih meskipun masih terkoreksi sebesar 2,47% dan diperdagangkan pada harga Rp 790 per lembar saham.
3. Geopolitik dan Tekanan Eksternal
Selain aksi ambil untung, faktor eksternal juga berperan besar dalam penurunan IHSG. Ketegangan geopolitik, terutama antara AS dan Iran, turut meningkatkan ketidakpastian pasar. Ketegangan ini mempengaruhi sentimen pasar, yang akhirnya berimbas pada penurunan IHSG. Selain itu, data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) juga menjadi faktor yang dipantau oleh investor. Meskipun proyeksi CPI menunjukkan kemungkinan penurunan, ketidakpastian geopolitik memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
4. Mengapa Sektor Energi Memiliki Pengaruh Besar pada IHSG?
Sektor energi memang sangat mempengaruhi pasar saham Indonesia, terutama karena saham-saham energi yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Sebagai contoh, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sempat menguat 30,57% dalam 8 hari perdagangan terakhir, namun pada saat IHSG melemah, saham ini turun 8,13%. Setelah penurunan tersebut, saham ini kembali menguat 2,44% pada harga Rp 1.260 per lembar saham.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengikuti jejak yang sama, di mana saham tersebut menguat 29,65% dalam 12 hari terakhir. Namun, saat IHSG melemah, saham ENRG sempat terkoreksi hingga 6,93%, sebelum akhirnya mengalami kenaikan kembali sebesar 2,71% pada harga Rp 1.615 per lembar saham.
5. Aktivitas Pasar Menguatkan di Akhir Sesi
Pada akhir sesi perdagangan, volume perdagangan tercatat sebesar 74,40 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 40,10 triliun. Frekuensi saham yang diperdagangkan juga sangat tinggi, mencapai 5.072.603 kali sepanjang hari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun IHSG mengalami penurunan, aktivitas pasar tetap tinggi, dan investor terus bertransaksi.
Baca juga: Menyala! 5 Sektor Investasi 2026 yang Diprediksi Banjir Cuan!
Meskipun IHSG turun tajam pada perdagangan Senin ini, pergerakan tersebut masih dianggap sebagai koreksi yang wajar. Pasar saham Indonesia saat ini berada dalam fase konsolidasi, di mana penurunan dan rebound adalah bagian dari siklus pasar. Untuk kedepannya, IHSG memerlukan katalis yang kuat dan konsisten agar bisa bertahan di atas level 9.000 dan terus menguat.
Solusi Pendanaan Rp500 Juta hingga Rp10 Miliar
LBS Urun Dana adalah platform pendanaan bisnis mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar. Pendanaan berbasis investasi ini terstruktur dengan jelas, diawasi oleh OJK, dan dibimbing oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. Tanpa bunga tersembunyi dan skema memberatkan, pengusaha bisa menjaga arus kas usaha tetap sehat tanpa menggadaikan aset pribadi.
Pendanaan disalurkan melalui skema sukuk dan saham, sehingga struktur pembiayaan lebih transparan dan dapat disesuaikan dengan kemampuan arus kas perusahaan. Skema ini relevan bagi pengusaha skala menengah hingga besar yang membutuhkan pendanaan jelas tanpa membebani operasional harian.
Sektor Usaha yang Dapat Mengajukan Pendanaan
a. Transportasi dan logistik
b. Fashion
c. Manufaktur
d. Kuliner
e. Hospitality
f. Konstruksi dan properti
g. Pergudangan
h. FMCG
i. Pertanian dan perkebunan
Syarat Utama Pendanaan
a. Kebutuhan dana minimal Rp500 juta
b. Omzet tahunan minimal Rp2,5 miliar
c. Usaha telah berjalan minimal 1 tahun
d. Berbadan hukum PT atau CV
e. Memiliki laporan keuangan sederhana
Alur Pengajuan Pendanaan
a. Pengajuan melalui website resmi lbs.id
b. Verifikasi bisnis dan legalitas
c. Persetujuan Komite Investasi
d. Proyek ditayangkan dan didanai oleh investor
Saat bisnis butuh dorongan nyata untuk tumbuh, LBS Urun Dana adalah pilihan utama pendanaan amanah yang sesuai dengan kebutuhan usaha. Ajukan sekarang dan wujudkan mimpi bisnis Anda!

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






