berita
17 Juli 2026
Naufal Mamduh
Oke Gas! 7 Fakta Blok Masela yang Resmi Dibangun Prabowo Subianto
Setelah 28 tahun terkatung-katung, Blok Masela akhirnya resmi memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Lapangan Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7/2026).
Ini adalah proyek gas terbesar yang pernah dibangun di Indonesia. Berikut tujuh fakta penting yang perlu diketahui:
1. Apa Itu Blok Masela?
Blok Masela adalah kawasan pengembangan gas alam di Laut Arafura, berlokasi sekitar 150 kilometer di selatan Pulau Masela, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, atau sekitar 750 kilometer selatan Ambon. Lapangan Abadi di blok ini merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia, berada pada kedalaman 400 hingga 800 meter di bawah permukaan laut.
Kontrak bagi hasil (PSC) Masela pertama kali ditandatangani pada 1998 dan telah diperpanjang hingga 2055. Sisi selatan Blok Masela bersinggungan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia-Australia, namun seluruh blok berada di dalam wilayah Indonesia.
2. Nilai Investasi Rp390 Triliun
Proyek ini adalah salah satu investasi terbesar dalam sejarah sektor energi Indonesia. Nilai investasinya mencapai US$20,95 miliar atau sekitar Rp390 triliun, termasuk komponen tambahan US$1 miliar untuk teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung pengembangan energi yang lebih rendah emisi.
3. Kapasitas Produksi 9,5 Juta Ton LNG Per Tahun
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Blok Masela akan menjadi salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia:
"Dan ini menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara 120 MMSCFD dan 35.000 barel kondensat per hari."
Baca juga: Wadidaw! Prabowo Marah Besar Sama Pengusaha Karena Rugikan Negara Rp15.000 Triliun
Selain LNG, proyek ini juga akan menghasilkan sekitar 150 juta kaki kubik gas alam per hari untuk kebutuhan industri lokal.
4. Minimal 60% Produksi untuk Kebutuhan Dalam Negeri
Pemerintah memutuskan minimal 60% produksi gas dari Lapangan Abadi dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sementara 40% sisanya diekspor. Gas domestik akan disalurkan ke PLN, PGN, industri pupuk, dan sejumlah perusahaan swasta sebagai bahan baku industri strategis.
Untuk industri pupuk, pemerintah menargetkan harga gas di kisaran US$6-7 per MMBtu. Bahlil menyebut angka tersebut cukup ideal untuk mendukung daya saing industri pupuk nasional. Skema harga masih dalam negosiasi karena sangat dipengaruhi sistem penyaluran, baik melalui pipa bawah laut sepanjang 180 kilometer maupun fasilitas LNG. Untuk penjualan LNG ekspor, formulasi harganya akan mengikuti pergerakan Indonesia Crude Price (ICP).
5. Mandek 28 Tahun karena Perdebatan Lokasi
Proyek ini sempat terkatung-katung selama hampir tiga dekade akibat perdebatan panjang soal lokasi pemrosesan gas, apakah di lepas pantai (offshore) atau di daratan (onshore). Keputusan akhirnya diambil dengan model onshore di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar.
"Sudah enam presiden, Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa mengeksekusi hari ini," tegas Bahlil, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Struktur kepemilikan saat ini: INPEX Masela 65%, Pertamina Hulu Energi Masela 20%, dan Petronas Masela 15%, setelah Shell hengkang pada 2023.
6. Menyerap 12.000 Tenaga Kerja, Prioritas Putra Daerah
Selama masa konstruksi, proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung, dan bisa mencapai tiga kali lipat jika memperhitungkan tenaga kerja tidak langsung. Saat beroperasi, proyek ini akan mempekerjakan 800 hingga 1.000 tenaga kerja tetap.
Pemerintah dan INPEX telah sepakat mengutamakan warga Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya dalam rekrutmen. Sejumlah putra daerah bahkan sudah disiapkan sejak beberapa tahun lalu melalui pendidikan di Akademi Minyak dan Gas (Akamigas) Cepu.
"Lulusan mereka yang sudah keluar tiga sampai empat tahun lalu akan kita serap semuanya untuk bekerja di proyek Blok Masela," jelas Bahlil.
7. Target Mulai Produksi 2029-2030
Pemerintah menargetkan Blok Masela mulai berproduksi pada periode 2029-2030 guna memperkuat ketahanan energi nasional. Prabowo dalam groundbreaking tersebut meminta proyek dikerjakan secepat mungkin.
Baca juga: Full Senyum! Harga LPG Bright Gas Turun, Ini 7 Fakta yang Perlu Anda Diketahui
"Pembangunan tidak boleh terhambat, harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," tegas Prabowo.
Infrastruktur utama yang akan dibangun mencakup:
- Fasilitas bawah laut (subsea wellheads, drilling centers, SURF)
- FPSO (Floating Production Storage and Offloading) dengan dua train pemrosesan gas
- Pipa ekspor gas sepanjang 180 kilometer di bawah laut
- Pabrik LNG onshore di Pulau Yamdena berkapasitas 9,5 MTPA terdiri dari dua train
- Fasilitas CCS untuk menangkap dan menyimpan emisi CO2 dari proses produksi
Proyek ini juga akan menyediakan sekitar 150 MMSCFD gas pipa untuk kebutuhan industri lokal di Maluku, menjadikan Blok Masela bukan sekadar proyek ekspor energi, tapi juga katalis pembangunan ekonomi daerah.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






