berita
1 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Plot Twist! Ekonom Sebut Mayoritas Tekanan Rupiah Justru Datang dari Dalam Negeri
Rupiah terus melemah, tapi ternyata bukan semata-mata karena gejolak global. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai sekitar 60%-70% tekanan terhadap rupiah justru bersumber dari faktor domestik, bukan dari luar.
Pernyataan ini disampaikan Dipo dalam forum CORE Mid Year Economic Review sebagaimana dikutip dari CNBC.
Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Mata Uang Negara Tetangga
Salah satu bukti paling nyata bahwa tekanan rupiah bukan murni soal global adalah perbandingannya dengan mata uang negara tetangga. Ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina sudah mulai menguat. Rupiah justru masih berada dalam tren pelemahan, bahkan disebut masuk dalam tiga mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Baca juga: Ngeri! Dolar AS Capai Rp18.100, Ini Penyebab Rupiah Terus Melemah
Dipo menegaskan, jika penyebabnya murni faktor global, seharusnya pola pelemahan semua mata uang di kawasan relatif serupa. Kenyataannya, rupiah bergerak berlawanan arah dengan sebagian besar mata uang di kawasan yang sama.
"Faktor global itu mungkin 30%-40%, sedangkan domestik mungkin 60%-70%," ujar Dipo.
Dua Faktor Domestik yang Disorot
Dipo menyebut dua hal yang paling banyak menyumbang tekanan dari sisi dalam negeri. Pertama, persepsi pasar terhadap independensi Bank Indonesia pasca berlakunya revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Perubahan tata kelola yang memberikan pemerintah peran lebih besar dalam pengawasan dan pengaturan sektor keuangan memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Kedua, kekhawatiran soal fiscal dominance, yaitu kondisi ketika kebijakan fiskal dinilai lebih dominan dibanding kebijakan moneter. Jika persepsi ini terus menguat, kepercayaan pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar bisa terus tergerus.
Faktor Global Tetap Ada, Tapi Bukan yang Utama
Dipo tidak menampik bahwa tekanan eksternal tetap memberi kontribusi. Kebijakan suku bunga The Fed yang masih menjadi perhatian pasar global ikut mempengaruhi arus modal yang masuk dan keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS membuat investor global cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.
Baca juga: Merinding! Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS, Simak 4 Faktor Penyebabnya
Namun dengan kontribusi hanya 30%-40%, faktor global bukan penyebab utama. Selama masalah domestik belum ditangani, rupiah akan terus rentan bahkan ketika kondisi global membaik sekalipun.
Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang termuat tidak merepresentasikan pandangan resmi, kebijakan, maupun skema transaksi dan investasi yang berlaku di LBS Urun Dana

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






