berita
29 Juli 2026
Naufal Mamduh
Ngeri! Dolar AS Capai Rp18.100, Ini Penyebab Rupiah Terus Melemah
Rupiah kembali tertekan. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, nilai tukar dolar Amerika Serikat berada di level Rp 18.098 pukul 09.07 WIB, naik 15 poin atau 0,08% dari hari sebelumnya.
Rupiah dalam Tekanan 14 Hari Terakhir
Pelemahan hari ini bukan fenomena baru. Data historis menunjukkan rupiah sudah berada dalam tren melemah sepanjang dua pekan terakhir Juli 2026.
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sempat menyentuh level tertinggi tahun ini di Rp 18.216 pada 14 Juli 2026. Setelahnya, rupiah sempat menguat tipis, bahkan sempat turun ke bawah Rp 18.000 pada pertengahan Juli sebelum kembali berbalik melemah ke kisaran Rp 18.080 pada 16 Juli 2026.
Dalam sebulan terakhir, rupiah telah melemah 1,29% terhadap dolar AS. Tekanan ini diperkuat oleh kombinasi faktor global seperti kebijakan tarif terbaru dari Washington yang memicu kekhawatiran perang dagang, serta sentimen wait and see pasar menjelang keputusan kebijakan The Fed.
Baca juga: Merinding! Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS, Simak 4 Faktor Penyebabnya
Dolar Kuat, Tapi Tidak Merata
Data Bloomberg sebagaimana dikutip dari DetikFinance mencatat pergerakan dolar AS terhadap mata uang lainnya cenderung bervariasi pada pagi ini. Dolar menguat 0,40% terhadap dolar Australia dan menguat tipis 0,05% terhadap dolar Singapura serta yuan China. Namun dolar melemah 0,05% terhadap euro, minus 0,05% terhadap yen Jepang, minus 0,03% terhadap baht Thailand, dan melemah 0,09% terhadap ringgit Malaysia.
Pola ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata karena penguatan dolar secara global. Mata uang kawasan seperti ringgit dan baht justru berhasil menguat terhadap dolar pada sesi yang sama, mengindikasikan ada faktor tambahan yang membebani rupiah secara spesifik.
Ketidakpastian Global Jadi Pemberat
Tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari ketidakpastian politik dan ekonomi global yang belum mereda. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih dinantikan pasar, serta perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia, semuanya menjadi variabel yang membuat investor global lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.
Dalam kondisi seperti ini, mata uang negara berkembang termasuk rupiah biasanya menjadi yang pertama merasakan tekanannya ketika sentimen global memburuk.
Baca juga: Ngeri! Nilai Tukar Rupiah Kian Melemah, Mungkinkah Segera Menyentuh Rp18.000?
Harapan ke Depan
Di tengah tekanan ini, harapan bersama tentu satu: kondisi ekonomi segera membaik bagi pengusaha dan investor. Stabilitas nilai tukar adalah fondasi dari kepercayaan bisnis. Ketika rupiah bergejolak, biaya impor naik, margin usaha tergerus, dan keputusan investasi jadi lebih sulit untuk diambil.
Pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari otoritas moneter dan perkembangan ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan.
Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang termuat tidak merepresentasikan pandangan resmi, kebijakan, maupun skema transaksi dan investasi yang berlaku di LBS Urun Dana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






