berita
3 Maret 2026
Naufal Mamduh
Syok! Inflasi Februari 4,76 Persen, Subsidi Listrik Dihapus Jadi Penyebabnya?
Inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan kenaikan yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utama adalah normalisasi tarif listrik setelah kebijakan diskon 50 persen yang diterapkan pada awal 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa kebijakan diskon tersebut menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2025, yang mempengaruhi perbandingan harga pada 2026. Berikut fakta selengkapnya sebagaimana dikutip dari Kompas dan Bloomberg Technoz pada Selasa (3/3/2026).
1. Kenaikan Inflasi Tahunan Februari 2026
Inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah normalisasi tarif listrik setelah kebijakan diskon 50 persen yang diterapkan pada Januari dan Februari 2025. Diskon tersebut memunculkan low-base effect, yang membuat perbandingan harga pada Februari 2026 terlihat lebih tinggi.
Pada Februari 2025, harga listrik mengalami deflasi -46,45 persen. "Saat terjadi diskon listrik 50 persen pada Januari-Februari 2025, terjadi deflasi umum sebesar -0,09 persen (yoy)," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
2. Normalisasi Tarif Listrik Kerek Kenaikan IHK
Setelah kebijakan diskon listrik berakhir pada awal 2026, tarif listrik kembali ke harga normal, yang langsung berdampak pada kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Kenaikan ini berkontribusi sebesar 2,17 persen terhadap total inflasi tahunan. Tarif listrik sendiri tercatat mengalami inflasi sebesar 86,96 persen secara tahunan pada Februari 2026.
"Selisih harga tarif listrik yang harus dibayar konsumen tercermin dalam kenaikan IHK, yang membuat tingkat inflasi menjadi lebih tinggi," jelas Amalia.
3. Kelompok Perumahan Berpengaruh Terhadap Inflasi
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan sebesar 16,19 persen, yang memberikan andil sebesar 2,26 persen terhadap total inflasi tahunan.
Baca juga: Kacau! Ini 5 Penyebab Harga Emas Naik Sampai Rp3 Jutaan
"Pada Februari 2026, kelompok perumahan tercatat inflasi yang cukup tinggi, memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi," ungkap Amalia. Penyebab utama adalah kenaikan biaya perumahan dan energi, yang dipengaruhi oleh efek basis rendah. Harga yang lebih rendah pada tahun sebelumnya menciptakan perbandingan yang lebih tinggi pada tahun 2026.
4. Dampak Inflasi pada Harga Pangan
Selain tarif listrik, kenaikan harga pangan juga menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan. Permintaan pangan yang meningkat menjelang Ramadan mendorong kenaikan harga komoditas seperti daging dan telur ayam.
Inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat 3,51 persen, memberikan kontribusi sebesar 1,05 persen terhadap inflasi keseluruhan. Kenaikan harga pangan menjelang Ramadan ini menjadi faktor utama yang mendorong inflasi bulanan pada Februari 2026.
5. Efek Samping Diskon Listrik 2025
BPS juga memodelkan skenario seandainya diskon listrik 50 persen pada Februari 2025 tidak diterapkan. Tanpa kebijakan tersebut, inflasi pada Februari 2026 diperkirakan akan berada di kisaran 2,54 persen, jauh lebih rendah dibandingkan angka 4,76 persen yang tercatat.
Baca juga: Oalah! Menkeu Purbaya Sebut Nilai Tukar Rupiah Itu Tugas BI, Ini Alasannya!
Penyebab utamanya adalah efek diskon listrik 50 persen pada 2025, yang menyebabkan perbandingan harga yang tidak normal pada Februari 2026, sehingga inflasi tahunan terlihat lebih tinggi.
Kenaikan inflasi pada Februari 2026 sebagian besar dipengaruhi oleh efek basis rendah akibat kebijakan diskon listrik, yang membuat perbandingan harga tahun ini lebih tinggi. Selain itu, peningkatan harga pangan menjelang Ramadan turut mendorong inflasi bulanan.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






