berita
5 Mei 2026
Naufal Mamduh
Update! APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Ini Kata Kementerian Keuangan!
Kementerian Keuangan resmi mencatat defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun per akhir Maret 2026, atau setara 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini memang terlihat besar di permukaan, tapi apakah benar-benar mengkhawatirkan?
"APBN mencatatkan defisit Rp240,1 triliun (0,93% PDB)," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, sebagaimana dikutip dari Warta Ekonomi, Selasa (5/5/2026).
Jawabannya: relatif wajar. Pola defisit di awal tahun adalah hal yang lumrah dalam pengelolaan fiskal nasional. Pemerintah memang cenderung mempercepat belanja di kuartal pertama untuk menjaga roda perekonomian tetap berputar. Selain itu, angka defisit ini masih jauh di bawah batas maksimal yang diizinkan undang-undang, yakni tiga persen dari PDB.
Satu indikator lain yang perlu dicermati adalah keseimbangan primer yang masih berada di posisi negatif Rp95,8 triliun. Ini menunjukkan beban fiskal memang masih ada, namun tetap berada dalam koridor yang telah direncanakan pemerintah sejak awal tahun.
Pajak Jadi Tulang Punggung Pendapatan Negara
Hingga akhir Maret 2026, total pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, atau sekitar 18,2 persen dari target tahunan. Ini terbagi dalam dua sumber utama:
a. Penerimaan Perpajakan: Rp462,7 triliun, terdiri dari:
- Pajak: Rp394,8 triliun
- Bea dan cukai: Rp67,9 triliun
b. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp112,1 triliun (24,4% dari target)
Capaian pajak ini didukung oleh beberapa faktor positif: kondisi ekonomi yang mulai pulih, harga komoditas yang masih terjaga, kepatuhan wajib pajak yang meningkat, serta digitalisasi sistem perpajakan yang semakin matang.
"Capaian ini memberikan kontribusi penting dalam menopang penerimaan negara, sekaligus mendukung pengelolaan perdagangan dan perlindungan industri domestik," kata Deni.
Baca juga: Defisit APBN 2026 Melonjak 140%, Menkeu Purbaya Buka Suara!
Namun ada catatan penting: penerimaan bea dan cukai turun sekitar 12,6 persen secara tahunan (year-on-year). Penurunan ini berkaitan erat dengan kondisi perdagangan global yang belum sepenuhnya pulih, termasuk dampak dari ketidakpastian geopolitik dan perlambatan permintaan ekspor.
Belanja Negara Naik 31,4 Persen: Strategi atau Risiko?
Di sisi pengeluaran, belanja negara hingga Maret 2026 telah mencapai Rp815 triliun, atau 21,2 persen dari pagu APBN. Yang mencolok: angka ini naik 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rinciannya:
a. Belanja pemerintah pusat: Rp610,4 triliun yang terdiri dari Kementerian/Lembaga (K/L): Rp281,2 triliun dan Non-K/L: Rp329,1 triliun
b. Transfer ke daerah: Rp208,4 triliun
Lonjakan belanja ini bukan tanpa alasan. Pemerintah secara strategis mempercepat realisasi anggaran di awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, dan mempercepat pelaksanaan proyek-proyek prioritas nasional.
Karena belanja lebih besar dari pendapatan, selisihnya ditutup lewat pembiayaan yang sudah mencapai Rp257,4 triliun atau 37,3 persen dari target tahunan. Artinya, mekanisme pembiayaan APBN berjalan sesuai rencana.
Apa Artinya untuk Investor dan Pengusaha?
Kondisi fiskal pemerintah bukan hanya urusan makroekonomi, ini juga sinyal penting bagi dunia usaha dan investasi. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dicermati:
a. Arah belanja pemerintah menentukan sektor mana yang tumbuh
Belanja besar di kuartal pertama biasanya mendorong sektor infrastruktur, logistik, dan konsumsi. Ini bisa menjadi peluang bagi pelaku usaha di sektor tersebut.
Baca juga: APBN Per Januari 2026 Defisit Rp54,6 Triliun, Ini Penyebabnya
b. Defisit yang terkontrol = kepercayaan pasar terjaga
Selama defisit masih di bawah tiga persen PDB dan pembiayaan berjalan lancar, stabilitas nilai tukar dan suku bunga relatif terjaga. Ini penting bagi investor yang merencanakan penempatan modal jangka menengah.
c. Kebutuhan modal usaha tetap ada di tengah tekanan biaya
Ketika pemerintah aktif membelanjakan anggaran, rantai pasok ikut bergerak dan banyak UMKM membutuhkan tambahan modal untuk memenuhi permintaan yang meningkat.
Kesimpulan: Defisit Terkontrol, Tapi Kewaspadaan Tetap Perlu
APBN kita memang sedang defisit, namun angka 0,93 persen dari PDB masih jauh dari zona berbahaya. Yang perlu dikawal ke depan adalah:
a. Realisasi pendapatan pajak di kuartal berikutnya, terutama sektor bea-cukai yang masih tertekan.
b. Efektivitas belanja. Maksudnya pengeluaran besar ini benar-benar menggerakkan ekonomi riil, bukan hanya angka di atas kertas
c. Outlook pembiayaan menjelang pertengahan tahun, terutama jika kondisi pasar obligasi berubah.
Dengan kata lain, bukan sekadar soal defisitnya, tapi bagaimana kualitas pengelolaan fiskal ke depan yang akan menentukan dampaknya ke ekonomi dan pasar.
Butuh Pendanaan Usaha di Tengah Kondisi Fiskal yang Dinamis?
Ketika belanja pemerintah meningkat dan peluang usaha terbuka, kesiapan modal menjadi faktor penentu. Namun, tidak semua sumber pendanaan cocok untuk setiap bisnis baik itu biaya, risiko, dan skema pengembalian harus diperhitungkan dengan matang agar tidak menambah beban finansial jangka panjang.
Baca juga: Taaruf! Sejarah LBS Urun Dana, SCF Penghubung Antara Investor & Entrepreneur Visioner
LBS Urun Dana hadir sebagai platform securities crowdfunding yang telah mendapatkan izin resmi dan berada di bawah pengawasan OJK. Platform ini membuka akses pendanaan Rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan skema terstruktur dan profesional, baik melalui sukuk maupun saham dari bisnis riil yang telah melalui seleksi ketat.
Seluruh transaksi dibimbing langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, pakar Fikih Muamalah dan Founder LBS Urun Dana, sehingga setiap aktivitas berjalan transparan, bebas riba, gharar, dan dzalim.
Pelajari lebih lanjut di lbs.id dan ikuti update ekonomi, bisnis, dan peluang investasi di Instagram LBS Urun Dana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






