berita
2 Juli 2026
Naufal Mamduh
Wadidaw! Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$1,61 M, Pertama dalam 72 Bulan
Kabar mengejutkan datang dari Badan Pusat Statistik (BPS). Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar, mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Ini adalah defisit neraca perdagangan pertama Indonesia dalam enam tahun terakhir, dan langsung menjadi sorotan para pengusaha, investor, dan pengamat ekonomi nasional.
Apa Itu Neraca Perdagangan?
Sebelum masuk ke angkanya, penting untuk memahami dasarnya. Neraca perdagangan adalah selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara dalam periode tertentu. Jika ekspor lebih besar dari impor, neraca perdagangan mencatat surplus. Sebaliknya, jika impor lebih besar, hasilnya adalah defisit.
Neraca perdagangan Indonesia menjadi salah satu indikator penting kesehatan ekonomi nasional karena mencerminkan daya saing produk dalam negeri di pasar global sekaligus menggambarkan seberapa besar kebutuhan impor yang harus dipenuhi.
Baca juga: Sengit! 8 Indikator Ekonomi Indonesia 2026: Kuat di Mana, Rapuh di Mana?
Penyebab Defisit: Impor Melonjak, Ekspor Melemah
Defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terjadi karena impor jauh melampaui ekspor. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026), sebagaimana dikutip dari detikFinance:
"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar,” katanya sebagaimana dikutip dari DetikFinance. Berikut rincian datanya:
- Impor Mei 2026: US$ 24,81 miliar, naik 22,16% secara tahunan (yoy)
- Ekspor Mei 2026: US$ 23,20 miliar, turun 5,73% secara tahunan (yoy)
- Defisit migas: US$ 3,76 miliar, disumbang oleh hasil minyak dan minyak mentah
- Surplus non-migas: US$ 2,50 miliar, ditopang bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja
Dari sisi impor, lonjakan terbesar terjadi pada sektor migas yang meningkat 70,78% yoy menjadi US$ 4,51 miliar. Sementara impor non-migas naik 14,69% menjadi US$ 20,30 miliar, dengan andil terhadap kenaikan impor tahunan sebesar 12,95%.
Menghentikan Tren Surplus 72 Bulan Berturut-turut
Sebelum defisit Mei 2026 ini, Indonesia menikmati surplus neraca perdagangan selama 72 bulan beruntun. Surplus terakhir terjadi pada April 2026 dengan nilai US$ 89,1 juta, angka yang sudah tipis dan menjadi sinyal awal tekanan yang akhirnya terwujud di bulan berikutnya.
Meski demikian, secara kumulatif kondisi neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun ini masih terbilang positif. Selama Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan barang masih mencatat surplus sebesar US$ 4,03 miliar.
"Surplus sepanjang Januari-Mei 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 16,31 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit US$ 12,28 miliar,” tutur Ateng.
Artinya, tekanan terbesar pada neraca perdagangan Indonesia konsisten berasal dari ketergantungan impor migas yang belum bisa ditekan secara signifikan.
Apa Artinya bagi Pengusaha dan Investor?
Defisit neraca perdagangan bukan hanya angka statistik. Bagi pengusaha, ini adalah sinyal bahwa tekanan biaya impor bahan baku dan energi berpotensi meningkat. Bagi investor, ini bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah dan sentimen pasar dalam jangka pendek.
Di tengah ketidakpastian seperti ini, satu hal yang bisa dikendalikan adalah ke mana uang Anda dialirkan. Apakah ke instrumen yang bergantung pada fluktuasi pasar global, atau ke bisnis riil yang beroperasi nyata di dalam negeri dengan akad yang jelas dan insya Allah bebas dari riba, gharar, dan kezaliman.
Solusi Investasi dan Pendanaan yang Insya Allah Berkah
Kurs boleh naik turun. Neraca perdagangan boleh defisit. Tapi cara kita mencari dan memutar harta sepenuhnya ada di tangan kita sendiri.
LBS Urun Dana hadir sebagai platform securities crowdfunding berizin OJK, didirikan langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Pakar Fikih Muamalah Kontemporer. Setiap listing yang dibuka, setiap akad yang dipakai, semuanya dirancang agar bisa dipertanggungjawabkan secara syariat, insya Allah bebas dari riba, gharar, dan kezaliman.
Untuk investor: Ikut memiliki bisnis nyata yang beroperasi di Indonesia lewat sukuk atau saham. Mulai dari Rp1.000.000, tidak perlu modal besar untuk mulai.
Baca juga: Oke Gas! 8 Program Stimulus Ekonomi Pemerintah Senilai Rp26,34 T Resmi Meluncur
Untuk pengusaha: Butuh modal tapi tidak mau terjerat bunga? LBS membuka akses pendanaan usaha mulai Rp500 juta hingga Rp10 miliar lewat skema saham atau sukuk, bukan pinjaman berbunga.
Dengan berpijak pada fiqih muamalah, harta yang kita kejar tidak sekadar bertambah angkanya, tapi juga berbuah pahala dan mengundang keberkahan.
Diskusikan dulu sebelum memutuskan, tim LBS siap:
Investor:
- Wisnu: Chat via WhatsApp
- Faris: Chat via WhatsApp
- Dwian: Chat via WhatsApp
Pengusaha:
- Esa: Chat via WhatsApp
- Rasyid: Chat via WhatsApp
Atau langsung saja. Daftar di lbs.id dan mulai dari bisnis yang Anda percaya, dengan cara yang tenang di hati.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






