inspirasi nabawiyah
19 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Teladan! Kisah Abu Hurairah, Sahabat Nabi ﷺ yang Meriwayatkan Ribuan Hadits
Dari seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, dialah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Jumlahnya tidak kurang dari 5.374 riwayat, dan lebih dari 300 orang meriwayatkan hadis darinya, sebagaimana dicatat Mahmud ath-Thahhan dalam Taysir Musthalah al-Hadits.
Yang menarik, orang itu bukan saudagar kaya yang punya waktu luang. Ia justru sahabat paling miskin, yang sering mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Namanya Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
Kenapa Dipanggil Abu Hurairah?
Nama aslinya Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi. Sebelum memeluk Islam ia bernama Abdu Syams, dan Rasulullah ﷺ menggantinya setelah ia masuk Islam. Lalu dari mana panggilan Abu Hurairah berasal?
Waktu kecil ia ditugaskan menggembalakan kambing milik keluarganya. Di sela-sela menggembala, ia selalu bermain dengan seekor kucing kecil pada siang hari. Menjelang malam, kucing itu ia letakkan di atas pohon agar aman dari gangguan binatang liar, baru kemudian ia pulang.
Kebiasaan itu terus berjalan sampai teman-teman sebayanya memanggilnya Abu Hurairah, yang berarti pemilik kucing kecil. Rasulullah ﷺ sendiri kerap memanggilnya dengan sebutan Abu Hirr.
Baca juga: Sarat Makna! Abdullah bin Amr bin Haram dan Pesan Penting tentang Amanah Utang
Satu-satunya yang Beriman dari Kabilahnya
Abu Hurairah berasal dari kabilah Daus di Yaman, kaum yang semula menolak dakwah Rasulullah ﷺ. Dakwah itu dibawa oleh Thufail bin Amr Ad-Dausi radhiyallahu anhu, yang sudah lebih dulu bertemu Rasulullah ﷺ dan menyatakan keislamannya sebelum hijrah ke Madinah.
Ketika Thufail mendakwahi kaumnya, tidak ada seorang pun dari Daus yang menerima Islam, kecuali 1 orang. Dialah Abu Hurairah.
Hijrah di Malam Perang Khaibar
Pada awal tahun ke-7 Hijriah, di usianya yang ke-26, Abu Hurairah memutuskan hijrah ke Madinah dengan bekal seadanya. Perjalanan itu ia kenang dalam syairnya ketika tiba di Madinah:
"Wahai malam yang panjang serta melelahkan, namun saat itulah aku terselamatkan dari negeri kafir."
Sayangnya kedatangannya tidak disambut Rasulullah ﷺ, karena beliau beserta para sahabat sedang berada di medan Perang Khaibar. Shalat Subuh pagi itu diimami Siba' bin Urfuthah radhiyallahu anhu, yang ditunjuk menjadi imam selama Rasulullah ﷺ berperang.
Tak lama setelah Subuh, rombongan pasukan muslimin tiba. Rasulullah ﷺ langsung menuju masjid, salat 2 rakaat, lalu menemui para sahabat. Di situlah beliau melihat seseorang berkulit agak gelap, berpundak lebar, dan bercelah di antara 2 gigi depannya.
"Dari mana engkau?" tanya Rasulullah ﷺ.
"Aku berasal dari Daus," jawabnya.
"Sungguh aku dulu tidak menyangka ada kebaikan di Daus," sabda beliau. Riwayat ini tercatat dalam Thabaqat Ibnu Sa'ad dan Musnad Abu Dawud ath-Thayalisi.
Hidup di Serambi Masjid
Hijrah membuat Abu Hurairah kehilangan seluruh hartanya di Yaman. Di Madinah ia tidak punya harta maupun keluarga.
Kaum muslimin saat itu menyediakan tempat bagi tamu-tamu seperti dirinya, yaitu serambi Masjid Nabawi. Penghuninya dikenal dengan sebutan Ahlu Suffah, dan mereka belajar Islam langsung dari Rasulullah ﷺ.
Di antara seluruh Ahlu Shuffah, Abu Hurairah dikenal paling dalam pemahamannya. Sebabnya sederhana: ia hampir tidak pernah absen mendengarkan pelajaran Rasulullah ﷺ.
Ahlu Suffah makan bila Rasulullah ﷺ mendapatkan makanan, dan ikut lapar ketika keluarga beliau lapar.
Lapar yang Dikira Kesurupan
Seberapa berat kelaparan yang ia alami, tergambar dari pengakuannya sendiri yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya nomor 7324, pada Kitab al-I'tisham bil Kitab was-Sunnah.
Suatu kali rasa laparnya sampai membuatnya nyaris pingsan. Agar mendapat makanan, ia berpura-pura kejang di antara mimbar Rasulullah ﷺ dan rumah Aisyah. Orang-orang pun berdatangan dan meruqyahnya, mengira ia kesurupan. Abu Hurairah lalu mengangkat kepalanya dan berkata:
"Ini bukan seperti yang kalian lihat. Aku begini karena lapar."
Sebejana Susu dan Pelajaran tentang Taat
Kisah lain yang masyhur terjadi ketika ia mengikat perutnya dengan batu, lalu duduk di jalan yang biasa dilalui para sahabat.
Abu Bakar radhiyallahu anhu lewat. Abu Hurairah menghampirinya dan bertanya soal agama, berharap pertanyaannya berujung undangan makan. Tidak terjadi. Lalu Umar bin Khattab radhiyallahu anhu lewat, dan hal yang sama terulang.
Sampai akhirnya Rasulullah ﷺ lewat, dan beliau langsung mengetahui bahwa sahabatnya sedang kelaparan. Abu Hurairah dipanggil ke rumah beliau, tempat kebetulan ada hadiah berupa sebejana susu. Namun perintah beliau justru di luar dugaan. "Abu Hurairah, panggillah para Ahlu Suffah."
Dalam hatinya ia sempat bergumam, kalau Ahlu Suffah datang, susunya pasti habis. Tapi ia tetap berangkat. Ketaatannya mengalahkan laparnya.
Seluruh Ahlu Suffah minum sampai kenyang. Yang tersisa lapar tinggal 2 orang, yaitu Abu Hurairah dan Rasulullah ﷺ. Beliau tersenyum, memandang bejana itu, lalu berkata, "Wahai Abu Hurairah, tinggal aku dan kamu."
Beliau menyuruhnya minum, dan terus menyuruhnya minum sampai Abu Hurairah berkata tidak ada lagi ruang kosong di lambungnya. Barulah setelah itu Rasulullah ﷺ meminum sisanya. Kisah ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya nomor 6452, pada Kitab ar-Riqaq.
Dua Kurma untuk Sang Ibu
Pada suatu malam Abu Hurairah keluar rumah di luar kebiasaannya. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa tidak ada yang membuatnya keluar selain rasa lapar. Ternyata yang lain pun demikian.
Mereka mengadu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau mengeluarkan mangkuk berisi kurma dan memberi setiap orang 2 buah. "Makan 2 kurma ini dan perbanyaklah minum air. Ini mencukupimu untuk hari ini," sabda beliau.
Abu Hurairah memakan 1 buah dan menyimpan sisanya.
"Untuk apa kau simpan kurmamu? Bukankah kau sangat lapar?" tanya Rasulullah ﷺ.
"Aku simpan ini untuk ibuku," jawabnya.
"Makanlah, nanti kuberikan tambahan untuk ibumu," sabda beliau. Riwayat ini tercatat dalam Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4 halaman 328 sampai 329.
Doa yang Mengantar Ibunya Masuk Islam
Ibunda Abu Hurairah masih musyrik, dan ia terus-menerus mendakwahinya. Sampai suatu hari ia mendengar ibunya mengucapkan kata-kata buruk tentang Rasulullah ﷺ. Ia mendatangi beliau sambil menangis, lalu meminta agar ibunya didoakan. Rasulullah ﷺ pun berdoa:
"Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah."
Abu Hurairah pulang hendak mendakwahi ibunya sekali lagi. Sesampainya di rumah, pintunya terbuka dan terdengar gemercik air. Ketika hendak masuk, ibunya berkata agar ia menunggu.
Tak lama ibunya keluar dengan pakaian tertutup, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia berlari kembali menemui Rasulullah ﷺ, menangis lagi, kali ini karena bahagia. Beliau kemudian berdoa agar Abu Hurairah dan ibunya dicintai kaum mukminin, dan keduanya mencintai kaum mukminin. Riwayat ini terdapat dalam Sahih Muslim nomor 2491.
Semangat yang Dikenali Rasulullah ﷺ
Semangat Abu Hurairah dalam ilmu bukan rahasia. Rasulullah ﷺ sendiri mengenalinya. Suatu kali ia bertanya siapa orang yang paling berbahagia memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau sudah menduga tidak ada yang mendahului Abu Hurairah menanyakan hal itu, karena beliau melihat besarnya perhatian Abu Hurairah terhadap hadis.
Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahih-nya nomor 99, pada Kitab al-Ilmu bab antusias mencari hadis.
Ia sendiri pernah berkata bahwa malamnya dibagi 3. Sebagian untuk membaca Al-Qur'an, sebagian untuk tidur, dan sebagian lagi untuk mengulang hafalan hadisnya, sebagaimana dicatat dalam Tarikh Dimasyq juz 67 halaman 362.
Imam asy-Syafi'i menyebutnya sebagai orang yang paling kuat hafalannya di antara seluruh perawi hadis pada zamannya. Abu Nu'aim al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya' juga menyebutnya sahabat yang paling hafal terhadap khabar-khabar Nabi ﷺ.
Akhir Hayat
Allah ﷻ memberinya umur panjang. Ia wafat pada usia sekitar 78 tahun, atau sekitar 47 tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Rentang waktu itulah yang membbanyak mengajar umat dan meriwayatkan hadis.
Nafi' rahimahullah meriwayatkan bahwa saat jenazah Abu Hurairah diiringi, Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tak henti mendoakannya, lalu berkata bahwa orang ini adalah yang paling hafal hadis Rasulullah ﷺ. Riwayat ini tercatat dalam Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4 halaman 253.
Abu Hurairah tidak punya harta, tidak punya keluarga di Madinah, dan hanya hidup bersama Rasulullah ﷺ selama sekitar 4 tahun. Tetapi dari keterbatasan itulah lahir warisan yang dinikmati umat sampai hari ini.
Baca juga: Bergetar! Ammar bin Yasir, Sahabat Rasulullah ﷺ yang Teguh Meski Disiksa Kejam
Ia sendiri pernah menjelaskan kenapa riwayatnya begitu banyak. Saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin sibuk berdagang di pasar, kaum Anshar sibuk mengurus kebun mereka, sementara ia orang miskin yang punya waktu untuk selalu mendampingi Rasulullah ﷺ dan mengingat setiap perkataan beliau. Semoga Allah ﷻ meridai Abu Hurairah beserta ibunya.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






