literasi keuangan
16 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Tips Menjaga Prioritas Keuangan di Tengah Tren Flexing dan Gaya Hidup Konsumtif
Buka media sosial hari ini, dan isinya hampir seragam. Barang bermerek, liburan ke luar negeri, kendaraan baru, atau potongan gaya hidup yang terlihat serba mudah. Paparan seperti itu perlahan memancing keinginan untuk ikut, meski belum tentu sesuai kondisi keuangan sendiri.
Menikmati hasil kerja tentu bukan masalah. Persoalannya muncul ketika keputusan belanja didorong keinginan terlihat setara dengan orang lain, mendapatkan pengakuan, atau sekadar mengikuti tren, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan. Di tengah derasnya pengaruh media sosial, menjaga prioritas finansial justru menjadi makin penting.
Ketika Gaya Hidup Orang Lain Mempengaruhi Keputusan Keuangan
Flexing menurut Oxford Dictionary adalah perilaku menampilkan kekayaan, barang, atau gaya hidup kepada orang lain, termasuk lewat media sosial. Terbiasa melihat konten semacam ini memicu perbandingan sosial sekaligus keinginan memiliki hal serupa, meski kebutuhannya belum tentu ada. Allah ﷻ berfirman:
"Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, (infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya." (QS. Al-Furqan: 67)
Dari ayat ini kita melihat bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta, tidak berlebihan sekaligus tidak kikir. Prinsip itu relevan ketika Anda berhadapan dengan tren flexing maupun promo belanja. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain, tetapi juga tidak harus menghindari setiap pengeluaran yang menyenangkan. Yang penting keputusannya tetap proporsional dan sesuai kemampuan.
Baca juga: Financial Freedom: Pengertian, Cara Mencapai, dan Kesalahannya
5 Tips Menjaga Prioritas Keuangan di Tengah Gaya Hidup Konsumtif
1. Kenali Alasan di Balik Keinginan Membeli
Sebelum membeli barang yang sedang tren, tanyakan dulu alasannya. Apakah memang dibutuhkan, atau menarik semata karena banyak orang memilikinya?
Mengenali dorongan di balik keputusan belanja membantu Anda menghindari pembelian yang tidak direncanakan. Sering kali jawabannya sudah cukup jelas begitu pertanyaannya diajukan.
2. Tentukan Standar Keberhasilan Finansial Sendiri
Barang mewah, liburan, atau pencapaian orang lain tidak perlu dijadikan ukuran keberhasilan pribadi. Setiap orang punya kebutuhan, tanggung jawab, dan kemampuan finansial yang berbeda. Membandingkan pencapaian tanpa mengetahui kondisi di baliknya hanya menciptakan tekanan yang tidak perlu, karena yang terlihat di layar jarang menggambarkan keadaan sebenarnya.
3. Beri Jeda Sebelum Mengikuti Tren
Flash sale, promo terbatas, dan tren yang sedang ramai dirancang supaya Anda memutuskan cepat. Beri waktu untuk menimbang manfaatnya, seberapa mendesak kebutuhannya, serta dampaknya terhadap kebutuhan lain sebelum bertransaksi. Barang yang benar-benar dibutuhkan biasanya tetap terasa dibutuhkan setelah jeda itu lewat.
4. Kurasi Konten yang Mempengaruhi Kebiasaan Belanja
Perhatikan konten mana yang membuat Anda terus membandingkan diri atau terdorong membeli sesuatu. Mengurangi paparan terhadap konten pemicu konsumsi membantu menjaga fokus pada kebutuhan dan tujuan pribadi Anda sendiri. Linimasa yang lebih tenang berpengaruh langsung pada keputusan belanja.
5. Jadikan Kemampuan Finansial sebagai Batas Keputusan
Jangan memaksakan pembelian dengan berutang demi mempertahankan citra atau memenuhi ekspektasi sosial. Pertimbangkan kebutuhan keluarga, kewajiban yang sedang berjalan, serta kemampuan finansial Anda sebelum memutuskan mengikuti sebuah tren. Citra yang dibangun dengan utang pada akhirnya tetap harus dibayar.
Harta Bukan Sekadar untuk Menunjukkan Status
Kepemilikan harta dan barang mewah tidak otomatis mencerminkan kecukupan maupun keberhasilan finansial seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari no. 6446)
Dari hadis ini kita memahami bahwa kecukupan tidak hanya berkaitan dengan jumlah harta, tetapi juga sikap hati dalam menyikapinya.
Dalam keuangan sehari-hari, artinya mengenali batas kemampuan sendiri dan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran. Harta sebaiknya dikelola untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab, bukan semata untuk memperoleh pengakuan sosial.
Baca juga: Kok Bisa! Kenapa Uang Rp1 Juta Terasa Cepat Habis dan Apa Kaitannya dengan Inflasi?
Menjaga prioritas keuangan bukan berarti Anda tidak boleh menikmati harta atau membeli sesuatu yang disukai. Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta, yaitu memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan dan tetap mempertimbangkan kemampuan finansial.
Di tengah tren flexing dan gaya hidup konsumtif, penting untuk memahami bahwa keberhasilan tidak harus diukur dari apa yang dimiliki atau ditampilkan kepada orang lain. Gunakan harta secara bijak untuk memenuhi kebutuhan, menjalankan tanggung jawab, dan mencapai tujuan hidup tanpa terjebak dalam perlombaan gaya hidup yang tidak perlu.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






