artikel
31 Januari 2026
Naufal Mamduh
Heroik! Kisah Ikrimah bin Abu Jahal, Sahabat Nabi ﷺ yang Dicap “Putra Firaun”
Dalam sejarah Islam, tidak sedikit tokoh yang mengalami perubahan besar dalam perjalanan hidupnya. Ada yang memulai sebagai penentang keras dakwah Nabi Muhammad ﷺ, lalu berakhir sebagai pembela Islam yang setia. Perubahan semacam ini bukan hanya soal perpindahan keyakinan, tetapi juga tentang keberanian mengambil tanggung jawab atas masa lalu dan menebusnya dengan pengabdian.
Salah satu kisah yang paling menonjol adalah perjalanan hidup Ikrimah bin Abu Jahal, putra pembesar Quraisy yang kemudian wafat sebagai syahid. Simak kisah lengkap Ikrimah bin Abu Jahal, dari penentang Islam hingga menjadi sahabat Nabi ﷺ, berikut ini.
Siapa Ikrimah Bin Abu Jahal?
Ikrimah bin Abu Jahal diperkirakan lahir sekitar awal abad ke-7 Masehi di Makkah. Ikrimah adalah putra Abu Jahal (Amr bin Hisham), seorang pembesar Quraisy dari suku Bani Makhzum yang dikenal menentang Nabi Muhammad ﷺ pada masa awal dakwah Islam. Ia lahir di Makkah dalam keluarga bangsawan Quraisy yang kaya dan berpengaruh, dan tumbuh di lingkungan sosial yang kuat serta terhormat di kota tersebut sebelum akhirnya berubah haluan menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ setelah Fathu Makkah.
Permusuhan dengan Nabi Muhammad ﷺ
Mengikuti jejak ayahnya, Ikrimah bin Abu Jahal menjadi salah satu penentang utama Islam pada masa awal dakwah. Permusuhan tersebut tercermin dari keterlibatannya dalam sejumlah peperangan besar melawan kaum Muslimin. Ia bertempur di pihak musyrikin Quraisy dalam Perang Badar (2 Hijriah/624 M).
Setahun kemudian, pada Perang Uhud (3 Hijriah/625 M), Ikrimah berperan sebagai salah satu komandan pasukan berkuda Quraisy dan bersama Khalid bin Walid melancarkan serangan balik setelah pasukan pemanah Muslim meninggalkan posnya, yang menyebabkan kaum Muslimin mengalami kekalahan taktis.Permusuhan Ikrimah berlanjut pada Perang Khandaq atau Perang Parit (5 Hijriah/627 M), ketika ia termasuk di antara pasukan Quraisy yang berusaha menembus parit pertahanan kaum Muslimin di Madinah.
Baca juga: Istiqomah! Kisah Bilal bin Rabah, Sahabat Rasulullah ﷺ dan Muadzin Pertama Islam
Dalam salah satu riwayat setelah Perang Uhud, ia sempat datang ke Madinah untuk berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ dan mengajukan permintaan agar kaum Muslimin tidak mencela berhala Quraisy serta menawarkan kompromi akidah. Permintaan tersebut ditolak, dan Nabi ﷺ memintanya meninggalkan Madinah. Peristiwa ini dalam sejumlah riwayat dikaitkan dengan turunnya ayat awal Surah Al-Ahzab.
Hijrah Memilih Islam
Pada peristiwa Fathu Makkah tahun 8 Hijriah (630 M), Nabi Muhammad ﷺ memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk Makkah, kecuali beberapa orang, termasuk Ikrimah bin Abi Jahal. Karena itu, Ikrimah melarikan diri ke Yaman.
Melalui permohonan istrinya, ia kemudian mendapat jaminan keamanan, kembali ke Makkah, dan menyatakan masuk Islam di hadapan Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ pun menghimbau para sahabat agar tidak mencela Abu Jahal, ayahnya, dan Ikrimah bersumpah akan menebus masa lalunya dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah ﷻ.
Setelah Perang Hunain (8 Hijriah/630 M), Ikrimah menerima bagian ghanimah bersama tokoh Quraisy lain yang baru masuk Islam. Pada Haji Wada’ (10 Hijriah/632 M), ia ditugaskan sebagai pengumpul zakat untuk Kabilah Hawazan. Seusai wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada 11 Hijriah (632 M), Khalifah Abu Bakar mengutus Ikrimah memimpin pasukan ke Oman untuk memerangi kelompok murtad, lalu menugaskannya di wilayah Syam.
Tantangan yang Menguji Keimanan
Setelah masuk Islam, Ikrimah bin Abu Jahal masih menghadapi stigma sosial karena statusnya sebagai putra Abu Jahal, salah satu tokoh Quraisy yang paling keras memusuhi Islam. Dalam sejumlah riwayat, ia kerap dicela dengan sebutan “putra Firaun”, merujuk pada sabda Rasulullah ﷺ tentang Abu Jahal sebagai “Firaun umat ini”. Riwayat tersebut dinukil oleh Imam ath-Thabrani dan disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma‘uz Zawaid (6/103), dengan status hasan secara makna menurut sebagian ulama.
Namun, celaan terhadap Ikrimah bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah ﷺ secara tegas melarang mencela orang yang telah wafat karena dapat menyakiti pihak yang masih hidup, sebagaimana hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim. Dalam konteks ini, sebagian ulama tafsir mengaitkan perlakuan terhadap Ikrimah dengan Surah Al-Hujurat ayat 11, yang melarang kaum beriman saling mencela dan merendahkan sesama Muslim, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili (13/477).
Sejak memeluk Islam, Ikrimah bin Abi Jahal menepati janjinya kepada Rasulullah ﷺ. Ia mengabdikan hidupnya untuk Islam, baik sebagai mujahid di medan perang maupun sebagai hamba yang tekun beribadah. Dalam sejumlah riwayat, Ikrimah dikenal sering membaca Al-Qur’an, meletakkannya di wajahnya sambil berkata, “Kitab Tuhanku, kalam Tuhanku,” lalu menangis karena takut kepada Allah ﷻ.
Akhir Hayat Ikrimah bin Abu Jahal
Ikrimah tidak pernah absen dari jihad dan selalu berada di barisan terdepan. Puncak pengabdiannya terjadi dalam Perang Yarmuk (15 Hijriah/636 M). Di tengah pertempuran melawan Bizantium, ia menerobos barisan musuh dengan keberanian luar biasa. Saat Khalid bin Walid memperingatkannya agar tidak maju terlalu jauh, Ikrimah menolak mundur. Ia ingin menebus masa lalunya yang pernah memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin.
Baca juga: Jihad! Kisah Abu Thalhah Al Anshari, Sahabat Setia Nabi ﷺ dan Pembela Agama Allah ﷻ
Dalam pertempuran itu, Ikrimah menyeru kaum Muslimin untuk berperang hingga titik darah terakhir. Seruan tersebut disambut ratusan mujahid dan menjadi salah satu faktor penentu kemenangan. Setelah pertempuran usai, Ikrimah gugur bersama Al-Harits bin Hisham dan Ayyash bin Abi Rabiah. Ketiganya wafat dalam keadaan saling mendahulukan saudaranya untuk minum, hingga akhirnya syahid tanpa sempat meneguk air.
Kisah akhir hayat Ikrimah menjadi teladan tentang taubat yang tulus, keberanian, dan pengorbanan total di jalan Allah ﷻ.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






