artikel
14 Januari 2026
Istiqomah! Kisah Bilal bin Rabah, Sahabat Rasulullah ﷺ dan Muadzin Pertama Islam
Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling dikenang sepanjang sejarah Islam. Ia terkenal sebagai muadzin pertama, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan dalam Islam, yang dipilih langsung oleh Rasulullah ﷺ karena suara dan keteguhan imannya. Kisah hidup Bilal merupakan simbol keberanian, keteguhan iman, dan kesetiaan dalam memperjuangkan Islam, meski berasal dari status sosial yang rendah sebagai budak di Makkah sebelum Islam berkembang.
Siapa Bilal bin Rabah?
Bilal bin Rabah lahir di Makkah sekitar 43 tahun sebelum Hijrah (diperkirakan sekitar 580 Masehi) dari orang tua yang berstatus budak; ayahnya bernama Rabah dan ibunya, Hamamah, berasal dari Habasyah (Ethiopia).
Karena latar belakang keluarganya, Bilal hidup dalam kondisi sosial yang rendah, tetapi ia dikenal memiliki karakter tegar, suara merdu, dan keyakinan kuat. Ia menjadi salah satu sahabat yang sangat penting dalam sejarah awal Islam karena keteguhan imannya, bahkan saat masih menjadi budak.
Karena kesetiaannya kepada Allah ﷻ, beliau mendapatkan gelar Muadzin Ar‑Rasul, orang pertama yang menyeru umat Islam untuk salat. Lantunan suaranya kemudian menjadi teladan bagi generasi Muslim di seluruh dunia.
Hijrah ke Islam
Bilal bin Rabah adalah salah satu dari Assabiqunal Awwalun, golongan sahabat yang pertama masuk Islam pada masa awal dakwah Nabi ﷺ di Makkah. Menurut sejumlah riwayat, Bilal masuk Islam kira‑kira pada tahun 615 Masehi, atau sekitar 7 tahun sebelum Hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Pada saat itu Islam masih sangat baru dan ditentang oleh kaum Quraisy. Bilal, yang baru saja mengenal Islam, berani secara terbuka mengikrarkan keyakinannya kepada Allah ﷻ dan menjauhi penyembahan berhala. Keputusan ini mengundang kemarahan tuannya, Umayyah bin Khalaf, seorang pemimpin Quraisy yang keras menentang Islam.
Baca juga: Jihad! Kisah Abu Thalhah Al Anshari, Sahabat Setia Nabi ﷺ dan Pembela Agama Allah ﷻ
Sebagai seorang budak yang baru saja memeluk Islam, Bilal mengalami siksaan berat. Ia dipaksa berdiri di bawah terik matahari padang pasir, diikat, bahkan dipukul dan dijemur untuk memaksanya mengingkari iman. Namun ia tetap tegar dan terus mengucapkan “Ahad, Ahad”, yang berarti Allah ﷻ itu Esa.
Siksaan itu akhirnya berhenti ketika Abu Bakar As‑Siddiq r.a. membeli Bilal dan membebaskannya dari perbudakan. Dengan kemerdekaannya, Bilal pun menjadi lebih dekat dengan Nabi ﷺ dan semakin aktif dalam dakwah Islam, termasuk kemudian menjadi muadzin Rasulullah ﷺ di Madinah.
Perjuangan Membela Agama Islam
Setelah hijrah Nabi ﷺ ke Madinah pada 622 Masehi (tahun 1 Hijriah), Bilal mengikuti perkembangan umat Islam dan menjadi sahabat setia Rasulullah ﷺ. Di Madinah, beliau ditunjuk langsung oleh Nabi ﷺ sebagai muadzin pertama dalam sejarah Islam karena suara adzannya yang kuat dan merdu, sehingga mampu menyeru kaum Muslim untuk salat dari kejauhan.
Perannya bukan sekadar menyerukan adzan, tetapi juga menggema sebagai simbol kebersamaan umat Islam dalam mendirikan salat dan menjalankan ajaran Islam secara berjamaah. Ini adalah bagian dari perjuangan beliau dalam mempertebal keimanan umat dan memantapkan tata ibadah Muslim di masa awal pemerintahan Nabi ﷺ.
Selepas wafatnya Nabi ﷺ, Bilal merasa sangat kehilangan hingga sempat menolak kembali mengumandangkan adzan karena rindunya kepada Rasulullah ﷺ. Namun atas dorongan sahabat seperti Umar bin Khattab r.a., ia kembali memenuhi panggilan umat untuk mengumandangkan azan di Madinah.
Selain tugasnya sebagai muadzin, Bilal juga turut serta dalam beberapa ekspedisi dan kegiatan dakwah di masa kekhalifahan setelah wafatnya Nabi ﷺ. Ia dikenal tetap istiqamah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan menjadi teladan bagi banyak sahabat lain dalam keteguhan beriman.
Akhir Hayat
Bilal bin Rabah wafat di Damaskus (Syam) pada tahun 20 Hijriah atau sekitar 640 Masehi, pada usia sekitar 60 tahunan.
Menurut riwayat, menjelang wafatnya, Bilal tetap dzikir kepada Allah ﷻ dan menunjukkan ketenangan serta keikhlasan yang luar biasa. Ia meninggalkan dunia dengan kecintaan yang mendalam kepada Islam dan Rasulullah ﷺ, serta menjadi teladan bagi generasi Muslim setelahnya.
Baca juga: Wuss! 10 Cara Dapat Pendanaan Bisnis Cepat Cair 10 Miliar Bebas Ribet!
Kisah Bilal menunjukkan bahwa derajat seseorang di sisi Allah ﷻ tidak ditentukan oleh status sosial, tetapi oleh keteguhan iman dan pengabdian kepada agama. Perjuangan hidupnya dari budak hingga menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi ﷺ telah menginspirasi umat Islam selama berabad-abad.
Bilal bin Rabah adalah figur luar biasa dalam sejarah Islam; dari seorang budak yang disiksa demi imannya, ia bangkit menjadi muadzin pertama dan teladan keteguhan. Perannya dalam menyuarakan adzan, menghadapi siksaan, dan memberi inspirasi bagi umat Islam menggambarkan betapa kuatnya kekuatan iman seorang hamba Allah ﷻ. Legasinya tetap hidup hingga kini, menunjukkan arti sejati dari kesetiaan dan pengabdian kepada Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ, dari masa dahulu hingga hari ini.






