artikel
10 Januari 2026
Jihad! Kisah Abu Thalhah Al Anshari, Sahabat Setia Nabi ﷺ dan Pembela Agama Allah ﷻ
Abu Thalhah Al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang namanya selalu dikenang dalam sejarah Islam karena keberaniannya yang luar biasa di medan perang, kesabarannya dalam menghadapi ujian hidup, serta kedermawanannya yang tak terhingga.
Beliau merupakan sosok yang memiliki banyak keistimewaan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam perjuangan bersama Nabi ﷺ. Sebagai salah satu anggota Anshar, suku yang menjadi penyambut pertama kedatangan Nabi ﷺ di Madinah, Abu Thalhah menunjukkan keteguhan iman dan pengorbanan yang luar biasa untuk agama ini. Kisah hidupnya menjadi teladan bagi kita dalam menghadapi tantangan hidup dan perjuangan di jalan Allah.
Awal Mula Memeluk Islam
Abu Thalhah, yang nama lengkapnya adalah Abu Thalhah bin Sahl, lahir sekitar tahun 590 M atau 36 tahun sebelum hijriah di Madinah dari suku Anshar, suku yang sangat terhormat dan mulia di kalangan penduduk Madinah. Sebagai seorang anggota suku Anshar, yang dikenal sebagai pendukung utama Nabi ﷺ setelah hijrah ke Madinah, Abu Thalhah tumbuh dalam lingkungan yang mendalam dalam kepercayaan mereka. Sebelum masuk Islam, Abu Thalhah adalah seorang penyembah berhala, seperti kebanyakan penduduk Madinah pada masa itu.
Perubahan besar dalam hidupnya dimulai ketika beliau berkenalan dengan Ummu Sulaym, seorang wanita yang dikenal sangat salehah dan sudah lebih dahulu memeluk Islam. Saat itu, Abu Thalhah, yang terpikat oleh keindahan dan kesalehan Ummu Sulaym, mengajukan lamaran kepada beliau.
Baca juga: Takbir! Tsabit bin Qais, Corong Suara Rasulullah ﷺ di Medan Perang dan Dakwah
Namun, Ummu Sulaym menolaknya dengan alasan bahwa beliau tidak bisa menikah dengan seorang lelaki yang masih kafir. Ummu Sulaym dengan tegas mengatakan bahwa ia hanya bisa menikah dengan seorang Muslim. Tertantang dengan penolakan tersebut dan rasa ingin tahu yang semakin besar mengenai Islam, Abu Thalhah akhirnya memutuskan untuk menyelidiki ajaran Islam lebih dalam.
Setelah mendalami Islam, Abu Thalhah memutuskan untuk memeluk agama ini dengan tulus. Ia datang menemui Nabi ﷺ dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan beliau, yang menandai awal perjalanan spiritualnya. Dengan masuknya Abu Thalhah ke dalam Islam, beliau menjadi salah satu sahabat yang sangat bersemangat dan setia membela agama ini di setiap kesempatan.
Peran Abu Thalhah dalam Perang Uhud (3 H)
Pada Perang Uhud yang terjadi pada tahun 3 H, pasukan Muslimin menghadapi serangan besar dari pasukan Quraisy yang ingin membalas kekalahan mereka di Perang Badar. Ketika pasukan pemanah yang ditempatkan di bukit Uhud untuk melindungi posisi pasukan Muslimin meninggalkan tempat mereka setelah melihat harta rampasan perang yang dapat diperoleh, pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid mampu mengepung pasukan Muslimin.
Nabi ﷺ sempat terluka parah dalam pertempuran ini, bahkan beliau jatuh ke dalam sebuah lubang yang dibuat oleh orang-orang munafik. Di saat yang genting ini, Abu Thalhah menunjukkan keberanian luar biasa. Beliau melindungi tubuh Nabi ﷺ dengan tubuhnya sendiri, menghadap ke musuh dan memanah setiap musuh yang mendekat. Abu Thalhah bahkan berkata, "Ya Rasulullah, lindungilah aku dan jadikan tubuhku sebagai tameng untuk melindungi tubuhmu." Beliau terus memanah sampai panah-panahnya patah.
Abu Thalhah di Perang Hunain (8 H)
Momen penting lainnya terjadi di Perang Hunain, yang terjadi pada tahun 8 H. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslimin awalnya terdesak oleh pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar. Namun, Abu Thalhah kembali menunjukkan kepahlawanannya. Dalam pertempuran ini, beliau tidak hanya bertempur dengan gagah berani, tetapi juga berhasil membunuh 20 orang musuh dalam duel satu lawan satu. Atas keberaniannya ini, beliau mendapatkan ganimah (harta rampasan perang) yang luar biasa.
Kesabaran dan Kedermawanan Abu Thalhah
Abu Thalhah dikenal bukan hanya sebagai pejuang yang gagah berani, tetapi juga sebagai sosok yang sangat tabah dan dermawan dalam kehidupan sehari‑hari. Dalam banyak riwayat sejarah, ia digambarkan sebagai seseorang yang berjiwa besar dalam menghadapi berbagai ujian dan tanggung jawab.
Salah satu sisi kedermawanannya yang paling terkenal adalah ketika ia mewakafkan harta yang paling ia cintai, yaitu kebun kurma Bairuha’ yang sangat luas dan subur di Madinah. Kebun ini termasuk harta yang ia banggakan, bahkan Rasulullah ﷺ pernah masuk dan minum dari airnya. Ketika turun ayat Al‑Qur’an yang mengingatkan bahwa seseorang belum mencapai kebaikan sejati kecuali jika ia menafkahkan apa yang ia cintai, Abu Thalhah segera mendatangi
Baca juga: Inspiratif! Kisah Abdullah bin Mas’ud, Sahabat Nabi ﷺ yang Kecil Raga, Besar Ilmunya
Nabi ﷺ dan menyatakan niatnya untuk bersedekah dengan kebun kesayangannya tersebut. Beliau memberikan kebun itu dengan ikhlas untuk dibagikan kepada yang membutuhkan, terlebih dahulu kepada kerabatnya, sesuai dengan arahan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan tingginya semangat beliau dalam berinfak dan totalitas pengorbanannya demi ketaatan kepada Allah ﷻ.
Akhir Kehidupan dan Wafat Abu Thalhah
Abu Thalhah al-Anshari, sahabat Nabi ﷺ yang sangat berjihad sepanjang hidupnya, wafat pada tahun 34 H (654 M) di Madinah. Setelah Nabi ﷺ wafat, beliau terus berjuang di jalan Allah ﷻ bahkan ikut serta dalam ekspedisi laut meskipun usianya sudah sangat tua.
Pada ekspedisi tersebut, Abu Thalhah wafat di kapal, dan jasadnya dimakamkan dengan penuh penghormatan oleh pasukan Muslim. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa tubuh beliau tetap utuh selama beberapa hari setelah kematiannya, yang dianggap sebagai tanda kemuliaan. Wallahualam bissawab.






