artikel
18 Agustus 2023
Naufal Mamduh
Investasi Halal untuk Pemula: 5 Jenis dan Cara Memilihnya
Memulai investasi tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan potensi keuntungan. Bagi seorang muslim, aspek kehalalan juga perlu diperhatikan, mulai dari objek investasi, akad, hingga mekanisme transaksinya.
Karena itu, investasi halal untuk pemula perlu dipahami bukan hanya dari nama atau label produknya. Investor juga perlu mengetahui bagaimana instrumen tersebut bekerja, apa risikonya, serta apakah kegiatan usaha dan transaksinya sesuai dengan prinsip syariah.
Lantas, apa saja pilihan investasi halal untuk pemula dan bagaimana cara memilihnya? Simak penjelasannya berikut.
Baca juga: Wajib Disimak! Bedah Right Issue Saham AGL, Lebih Murah dari Nilai Wajar!
Apa yang Perlu Dipahami Sebelum Memulai Investasi Halal?
Investasi halal merupakan aktivitas menempatkan atau mengembangkan harta pada aset atau usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Dalam praktiknya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, objek atau kegiatan usaha yang dibiayai harus diperbolehkan. Kedua, akad yang digunakan perlu jelas. Ketiga, mekanisme transaksi harus menghindari unsur yang dilarang, seperti riba, gharar, dan maysir.
Dengan demikian, investasi halal bukan sekadar memilih produk yang menggunakan label “syariah”. Pemula tetap perlu memahami cara kerja instrumen sebelum menempatkan dana.
5 Jenis Investasi Halal untuk Pemula
Ada sejumlah instrumen yang dapat dipertimbangkan oleh investor muslim. Namun, setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan, risiko, dan tingkat likuiditas yang berbeda.
1. Saham Syariah
Saham merupakan bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan. Dalam investasi syariah, saham dapat menjadi instrumen halal selama perusahaan dan kegiatan usahanya memenuhi kriteria syariah yang berlaku.
Investor perlu memperhatikan perusahaan yang dipilih, termasuk kegiatan usaha dan ketentuan kepatuhan syariahnya.
Dari sisi risiko, harga saham dapat mengalami fluktuasi mengikuti kinerja perusahaan maupun kondisi pasar. Karena itu, saham syariah tetap membutuhkan pemahaman mengenai risiko investasi dan tujuan keuangan.
Untuk memahami perbedaannya secara lebih mendalam, Anda juga dapat membaca artikel LBS tentang saham syariah bukan sekadar label.
2. Sukuk
Sukuk merupakan surat berharga syariah yang diterbitkan berdasarkan akad tertentu. Struktur sukuk berbeda dengan obligasi konvensional karena mekanisme dan akadnya disusun berdasarkan prinsip syariah.
Akad yang digunakan dapat berbeda sesuai dengan struktur penerbitannya. Karena itu, pemula perlu membaca informasi mengenai akad, penerbit, penggunaan dana, tenor, serta mekanisme imbal hasil sebelum berinvestasi.
Sukuk juga tetap memiliki risiko. Potensi imbal hasil tidak menghilangkan kemungkinan terjadinya risiko seperti keterlambatan pembayaran atau kegagalan penerbit memenuhi kewajibannya.
3. Emas
Emas dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menyimpan nilai kekayaan. Namun, karena emas termasuk komoditas ribawi, transaksi emas memiliki ketentuan syariah yang perlu diperhatikan.
Selain aspek syariah, pemula juga perlu memahami bahwa harga emas dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Karena itu, keputusan membeli emas sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi.
4. Properti
Tanah dan bangunan juga dapat menjadi aset investasi selama objek dan transaksi yang dilakukan sesuai dengan prinsip syariah.
Potensi keuntungan properti dapat berasal dari kenaikan nilai aset maupun pendapatan sewa. Namun, instrumen ini umumnya membutuhkan modal lebih besar dan memiliki likuiditas yang lebih rendah dibandingkan sejumlah instrumen keuangan.
Sebelum membeli properti untuk investasi, periksa legalitas aset, lokasi, kondisi pasar, biaya transaksi, serta akad yang digunakan.
5. Securities Crowdfunding
Securities crowdfunding memungkinkan masyarakat berinvestasi pada bisnis dengan membeli efek yang ditawarkan melalui penyelenggara yang berizin sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam skema syariah, efek yang ditawarkan dapat berupa saham syariah atau sukuk dengan struktur akad yang sesuai prinsip syariah.
Instrumen ini menarik untuk dipahami karena investor tidak hanya melihat aset finansial, tetapi juga perlu mempelajari bisnis yang menjadi underlying investasi, kondisi penerbit, penggunaan dana, serta risiko usaha.
Pelajari juga cara kerja securities crowdfunding untuk investor pemula agar Anda dapat memahami prosesnya sebelum mengambil keputusan.
Baca juga: Serbu! Sukuk Kaisar Arta Nusantara Tahap 3: Cek Profil dan Prospek Bisnisnya Disini!
Bagaimana Cara Memilih Investasi Halal untuk Pemula?
Tidak ada satu instrumen yang otomatis cocok untuk seluruh investor. Karena itu, pemula dapat menggunakan beberapa pertimbangan berikut.
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Tentukan terlebih dahulu alasan Anda berinvestasi. Apakah untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, atau jangka panjang?
Tujuan tersebut akan membantu menentukan instrumen dan jangka waktu investasi yang lebih sesuai.
2. Kenali Profil Risiko
Setiap instrumen mempunyai tingkat risiko berbeda. Investor perlu mengetahui seberapa besar penurunan nilai yang mampu ditoleransi tanpa mengganggu kondisi keuangan.
Profil risiko bukan berarti menentukan instrumen secara otomatis, tetapi menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam membangun portofolio.
3. Pahami Cara Kerja Instrumen
Jangan berinvestasi hanya karena melihat angka keuntungan yang ditawarkan.
Pelajari dari mana potensi keuntungan berasal, bagaimana dana digunakan, kapan hasil diterima, biaya yang dikenakan, serta risiko yang mungkin terjadi.
4. Periksa Aspek Syariah dan Legalitas
Pastikan objek investasi, akad, dan mekanisme transaksi dapat dijelaskan dengan jelas. Untuk produk keuangan, periksa pula status dan legalitas penyelenggara atau penerbit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Jangan Menggunakan Dana untuk Kebutuhan Pokok
Dana investasi sebaiknya bukan dana yang segera dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Pemula juga perlu mempertimbangkan dana darurat dan kondisi keuangan secara keseluruhan sebelum mulai berinvestasi.
Apakah Investasi Halal Bebas Risiko?
Tidak.
Halal dan bebas risiko merupakan dua hal yang berbeda. Suatu instrumen dapat memenuhi prinsip syariah, tetapi tetap memiliki risiko kerugian.
Saham syariah, misalnya, dapat mengalami penurunan harga. Sukuk memiliki risiko yang berkaitan dengan penerbit dan struktur investasinya. Properti memiliki risiko likuiditas, sedangkan securities crowdfunding memiliki risiko yang berkaitan dengan kinerja bisnis penerbit.
Karena itu, memahami risiko merupakan bagian penting dari proses memilih investasi halal untuk pemula.
Investasi Halal Mana yang Cocok untuk Pemula?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang.
Pemula dapat mempertimbangkan instrumen berdasarkan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, pemahaman terhadap produk, dan kemampuan menanggung risiko.
Yang terpenting bukan memilih instrumen hanya karena menawarkan potensi keuntungan tertentu. Pahami terlebih dahulu bagaimana dana Anda ditempatkan, dari mana potensi hasil berasal, apa akad yang digunakan, dan risiko yang mungkin terjadi.
Jika ingin memahami konsep investasi halal secara lebih menyeluruh, Anda cari tahu Apa Itu Investasi Halal? Jenis, Tips dan Panduan Lengkap 2026 atau temukan peluang investasi disini.
FAQ Investasi Halal untuk Pemula
Apa saja investasi halal untuk pemula?
Beberapa instrumen yang dapat dipelajari antara lain saham syariah, sukuk, emas, properti, dan securities crowdfunding. Setiap instrumen memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda.
Apakah investasi halal pasti aman?
Tidak. Kepatuhan terhadap prinsip syariah tidak berarti investasi bebas dari risiko kerugian. Investor tetap perlu memahami risiko setiap instrumen sebelum menempatkan dana.
Apakah semua saham termasuk investasi halal?
Tidak. Saham perlu dilihat berdasarkan kegiatan usaha perusahaan dan kriteria syariah yang berlaku.
Bagaimana cara memilih investasi halal?
Mulailah dengan menentukan tujuan keuangan, mengenali profil risiko, memahami cara kerja instrumen, serta memeriksa aspek syariah dan legalitas produk atau penyelenggaranya.
Apakah investasi halal hanya untuk orang yang sudah berpengalaman?
Tidak. Pemula juga dapat mempelajari investasi halal. Namun, sebelum mulai, penting untuk memahami instrumen, risiko, akad, dan mekanisme transaksi yang digunakan.
Kesimpulan
Investasi halal untuk pemula tidak hanya berkaitan dengan memilih produk berlabel syariah. Investor juga perlu memahami objek investasi, akad, mekanisme transaksi, potensi keuntungan, dan risiko yang menyertainya.
Saham syariah, sukuk, emas, properti, dan securities crowdfunding memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, pilihan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menanggung risiko.
Dengan memahami instrumen sebelum berinvestasi, pemula dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi sekaligus tetap memperhatikan prinsip syariah.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






