artikel
18 Agustus 2023
Naufal Mamduh
Mengenal 5 Instrumen Investasi Halal dan Resikonya
Mengelola harta bukan sekadar soal keuntungan dunia. Sebagai muslim, ada dimensi lain yang wajib dipikirkan: apakah cara memperoleh dan mengembangkan harta itu berkah hingga akhirat? Allah berpesan dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 agar manusia mengonsumsi yang halal dan baik dari bumi, serta menjauhi langkah-langkah setan yang nyata menjadi musuh.
Prinsip ini pula yang semestinya menjadi pijakan setiap muslim ketika memilih instrumen keuangan. Simak lima opsi berikut, lengkap dengan tingkat risiko dan hal yang perlu diperhatikan.
1. Saham Syariah
Saham merupakan bukti kepemilikan modal di suatu perusahaan, yang bisa diperjualbelikan di pasar modal maupun di luarnya. Hukum asalnya diperbolehkan, selama perusahaan penerbit tidak bergerak di bidang usaha terlarang seperti produksi khamar, perdagangan babi, atau praktik riba. AAOIFI menegaskan hal ini secara tegas dalam standarnya.
Baca juga: Hijrah Yuk! Mengenal Investasi Halal: Pengertian, Jenis dan Tips Lengkap 2026
Tiga kriteria saham yang layak dipilih:
- Tidak menjual produk yang diharamkan dalam Islam
- Bebas dari utang atau transaksi riba
- Bukan tergolong saham istimewa (saham preferen)
Risikonya cukup tinggi. Jika perusahaan merugi atau bangkrut, tanpa unsur kelalaian pengelola, dana investor bisa hilang sepenuhnya.
2. Sukuk
Sukuk, dari kata Arab shakk (surat berharga), populer dikenal sebagai obligasi syariah. Statusnya halal, bergantung pada akad yang mendasari seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, atau ijarah.
Yang perlu diwaspadai justru praktik lapangan. Akad yang dirancang benar bisa saja berubah esensi menjadi riba apabila pelaksanaannya menyimpang.
Dua kategori sukuk berdasarkan risikonya:
- Sukuk kerja sama (mudharabah, musyarakah): risiko menengah
- Sukuk jual-beli (murabahah, istishna, salam, ijarah): risiko rendah, karena proyek sudah jelas dan jaminan bersifat likuid
3. Emas dan Perak
Logam mulia tetap menjadi instrumen dengan risiko rendah karena nilainya konsisten naik dari tahun ke tahun. Perlu dicatat, emas dan perak tergolong komoditas ribawi sehingga kaidah jual-belinya harus benar-benar diperhatikan. Umumnya, keuntungan signifikan baru terasa setelah 3 sampai 5 tahun menyimpan.
4. Properti
Meliputi aktivitas jual-beli, sewa, dan pengelolaan tanah maupun bangunan. Hukum asalnya diperbolehkan dan risikonya tergolong rendah, meski membutuhkan pemahaman mendalam sebelum terjun. Nilai properti cenderung naik konsisten, dan bisa menjadi sumber pendapatan pasif lewat sewa.
Baca juga: Afwan! Saham Syariah Bukan Sekadar Label, Ini yang Perlu Anda Dipahami!
5. Valas (Jual Beli Mata Uang)
Sama seperti emas, valuta asing termasuk komoditas ribawi sehingga aturannya ketat. Syarat utamanya adalah taqabudh, yakni serah terima harus dilakukan seketika dalam satu majelis akad, baik tunai maupun transfer rekening valas, tanpa jeda waktu maupun tempat.
Risikonya tinggi karena fluktuasi nilai tukar bisa terjadi dalam hitungan menit.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua saham otomatis halal?
Tidak. Hanya saham dari perusahaan dengan bisnis inti yang diperbolehkan dan bebas riba yang memenuhi kriteria syar'i.
Instrumen mana yang paling minim risiko untuk pemula?
Emas dan properti umumnya dianggap paling stabil untuk investor baru.
Apa syarat sah transaksi valas dalam Islam?
Serah terima harus dilakukan tunai dan seketika (taqabudh), tanpa penundaan waktu.
Kesimpulan
Setiap instrumen punya karakter risiko dan kaidah syariahnya masing-masing. Sebelum memutuskan, pastikan kamu memahami akad yang mendasari serta konsisten mengecek kepatuhan syariahnya.
Sumber:
Dr. Erwandi Tarmizi, M. (2021). Harta Haram Muamalat Kontemporer, Cetakan Ke-24. Bogor: PT. Berkat Mulia Insani.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






