berita
14 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Ada 99 Daerah Tumbuh di Atas 6%, Ini Potensi Ekonomi yang Bisa Dikembangkan
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026. Tapi angka nasional selalu menyimpan cerita yang lebih menarik di baliknya. Badan Pusat Statistik mencatat 99 dari 514 kabupaten/kota tumbuh di atas 6% pada periode yang sama.
Artinya sekitar 1 dari 5 daerah di Indonesia bergerak lebih cepat dari rata-rata nasionalnya. Yang membuat pertumbuhan ekonomi daerah ini layak dicermati bukan sekadar angkanya, melainkan dari mana pertumbuhan itu berasal. Tidak semuanya ditopang industri besar. Sebagian justru lahir dari pertanian yang dikelola dengan cara baru.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari kinerja di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Karena itu penguatan ekonomi daerah menjadi faktor penting untuk menjaga momentum.
"Ada 99 kabupaten/kota di Indonesia yang tumbuhnya sudah di atas 6% selama semester 1 tahun 2026," ujar Amalia dalam konferensi pers sinergi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan BPS.
Berikut 3 contoh dan sektor yang mendorongnya.
1. Kendal dan Batang, Potensi Ekonomi dari Kawasan Industri
Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang di Jawa Tengah tumbuh dari jalur yang paling bisa ditebak, yaitu industri manufaktur dan pengembangan kawasan industri.
Berdasarkan data BPS Jawa Tengah, pertumbuhan ekonomi kumulatif Kendal mencapai 8,22% pada semester I-2026, sementara Batang 8,07%.
Keduanya tumbuh sekitar 1,5 kali lipat laju nasional. Kehadiran kegiatan manufaktur dan kawasan industri tidak berhenti pada pabriknya sendiri. Ia menarik aktivitas lain di sekitarnya, mulai dari pemasok, jasa logistik, sampai kebutuhan harian pekerjanya.
Baca juga: Penasaran! Pola Belanja Masyarakat Indonesia, Versi BPS, Paling Banyak untuk Apa?
2. Ngawi 8,14%: Ketika Pertanian Jadi Mesin Pertumbuhan
Ini bagian yang mengubah asumsi banyak orang. Pertumbuhan tinggi biasanya dikaitkan dengan industri besar atau pertambangan. Kabupaten Ngawi di Jawa Timur mencatat 8,14% pada semester I-2026, dan pendorongnya justru pertanian.
Bukan pertanian konvensional. Capaian itu ditopang inovasi di sektornya, termasuk penerapan smart farming dan pemanfaatan drone oleh komunitas petani muda.
Pemerintah Kabupaten Ngawi mengembangkan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan di sekitar 35.000 hektare lahan. Salah satu hasilnya adalah melon berkualitas premium.
Perhatikan pergeserannya. Dari menjual hasil panen apa adanya, menjadi menghasilkan produk dengan kualitas yang bisa dihargai lebih tinggi. Teknologi di sini tidak menggantikan petaninya, melainkan menaikkan nilai dari apa yang mereka hasilkan.
3. Sidrap 6,85%, Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Berhenti di Bahan Mentah
Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap di Sulawesi Selatan mencatat pertumbuhan 6,85% pada semester I-2026, ditopang peningkatan produktivitas tanaman pangan, peternakan, serta pengembangan komoditas porang. Yang menarik justru langkah setelah panennya.
Pemerintah daerah mendorong masuknya investor untuk mengolah porang menjadi produk bernilai tambah, termasuk beras porang. Sektor peternakannya juga digenjot lewat peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi.
Di sinilah letak perbedaannya. Daerah yang berhenti di bahan mentah hanya menikmati margin paling tipis dalam rantai nilainya. Daerah yang melanjutkan ke pengolahan membuka lapangan kerja baru sekaligus menahan nilai tambahnya agar tidak lari ke luar wilayah.
Sebaran Pertumbuhan Ekonomi Daerah Belum Merata
Dari 99 kabupaten/kota yang tumbuh di atas 6%, BPS mencatat sebarannya:
- 39 kabupaten/kota berada di Pulau Jawa
- 29 kabupaten/kota berada di Sulawesi
- 9 kabupaten/kota berada di Sumatra
Di tingkat provinsi, 17 dari 38 provinsi mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional. Artinya masih ada lebih dari 400 kabupaten/kota yang tumbuh di bawah 6%. Ruang pengembangannya justru ada di sana.
Setiap daerah punya karakter sumber daya dan sektor unggulan yang berbeda, sehingga strategi menggarap potensi ekonomi daerah tidak bisa diseragamkan. Daerah berbasis industri dapat memperkuat produktivitas manufaktur dan menarik investasi, sementara wilayah bertumpu pertanian dapat menempuh jalur Ngawi dan Sidrap, yaitu teknologi budidaya, peningkatan kualitas, dan industri pengolahan.
Pemerintah Ingin Mereplikasi Keberhasilannya
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad H. Wibowo menilai capaian 99 kabupaten/kota tersebut dapat menjadi referensi bagi wilayah lain.
Pemerintah berencana mempelajari faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, termasuk pengembangan industri pengolahan dan peningkatan produktivitas ekonomi lokal. Koordinasi antar kementerian dan lembaga disiapkan untuk mengidentifikasi potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
Dradjad optimistis pengalaman daerah-daerah itu dapat menopang target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027, bahkan berpeluang melampauinya bila momentumnya terus dijaga.
Baca juga: Kabar Baik! 7 Fakta di Balik Utang Krisis 1998 Rp640 Triliun yang Akhirnya Lunas
Pertumbuhan itu tidak datang dari kebijakan di atas kertas, melainkan dari kegiatan usaha yang benar-benar berjalan. Pabrik yang beroperasi di Kendal. Petani muda yang menerapkan teknologi di Ngawi. Pengolahan porang yang dibangun di Sidrap.
Semuanya butuh hal yang sama, yaitu modal untuk menaikkan kapasitas, membeli peralatan, dan memperluas pasar. Di situlah pertumbuhan ekonomi daerah sebenarnya terjadi, yaitu satu usaha pada satu waktu.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






