berita
7 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Penasaran! Pola Belanja Masyarakat Indonesia, Versi BPS, Paling Banyak untuk Apa?
Pernah merasa uang yang baru diterima sudah punya banyak tujuan? Ada kebutuhan makan, transportasi, tagihan, pendidikan, kesehatan, sampai keperluan rumah tangga lainnya.
Kalau dikumpulkan dari jutaan rumah tangga, keputusan-keputusan kecil itu membentuk pola belanja masyarakat Indonesia. Dan dari pola itulah kondisi ekonomi bisa dibaca dari sisi yang paling dekat dengan keseharian.
Badan Pusat Statistik baru merilis publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, bersumber dari Susenas Maret 2026.
Rata-rata Pengeluaran Rp1,65 Juta per Bulan
BPS mencatat rata-rata pengeluaran penduduk mencapai Rp1.657.281 per kapita per bulan pada Maret 2026, naik dari Rp1.569.088 pada Maret 2025. Kenaikannya sekitar 5,62% dalam setahun. Bila dipecah berdasarkan kelompoknya, porsinya hampir berimbang:
- Makanan: Rp825.308 per kapita per bulan, atau 49,8% dari total
- Bukan makanan: Rp831.974 per kapita per bulan, atau 50,2% dari total
Pengeluaran bukan makanan sedikit lebih besar. Artinya belanja masyarakat tidak lagi didominasi kebutuhan pangan semata.
Baca juga: Menyala! Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Surplus Usai Defisit 2 Bulan
Pos Pengeluaran Terbesar
Dirinci lebih jauh, perumahan dan fasilitas rumah tangga menjadi pos paling besar dengan rata-rata Rp424.251 per kapita per bulan. Angka itu setara 25,6% dari seluruh pengeluaran, atau lebih dari separuh belanja bukan makanan. Berikut pos lainnya:
- Makanan dan minuman jadi: Rp277.302
- Aneka barang dan jasa: Rp208.038
- Rokok dan tembakau: Rp94.180
- Pajak, pungutan, dan asuransi: Rp68.869
- Daging: Rp40.352
- Pakaian, alas kaki, dan tutup kepala: Rp39.908
Yang Paling Cepat Naik: Makanan dan Minuman Jadi
Satu pos bergerak jauh lebih cepat dari yang lain. Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi tercatat Rp207.650 pada Maret 2022, naik menjadi Rp248.501 pada Maret 2025, lalu melonjak lagi ke Rp277.302 pada Maret 2026.
Dalam 4 tahun, kenaikannya mencapai 33,54%. Dalam setahun terakhir saja, 11,59%, atau sekitar 2 kali lipat laju kenaikan total pengeluaran yang hanya 5,62%.
Ada temuan lain yang menarik. Dari Rp825.308 belanja makanan, sebanyak Rp277.302 di antaranya untuk makanan dan minuman jadi. Artinya sekitar 1 dari 3 rupiah belanja pangan tidak lagi dimasak sendiri di rumah.
Pemerintah Siapkan Stimulus di Kuartal IV
Konteks ini menjadi relevan karena pemerintah menyiapkan program perlindungan masyarakat untuk kuartal IV 2026, yang diarahkan untuk menjaga daya beli, memperkuat daya saing pekerja, dan menopang keberlanjutan dunia usaha.
Dua program berkaitan langsung dengan rumah tangga:
Bantuan pangan. Sebanyak 10 kilogram beras per bulan selama Oktober sampai Desember 2026, untuk 33.244.408 keluarga penerima manfaat, dengan anggaran sekitar Rp17,5 triliun.
Bantuan Subsidi Upah. Sebesar Rp300.000 per bulan selama 3 bulan untuk sekitar 13,3 juta pekerja, dengan anggaran hampir Rp12 triliun.
Keduanya bekerja lewat jalur berbeda. Bantuan pangan langsung memenuhi kebutuhan pokok, sementara BSU memberi tambahan dana yang penggunaannya ditentukan penerimanya sendiri.
Sebagai gambaran skalanya, Rp300.000 per bulan setara sekitar 18% dari rata-rata pengeluaran per kapita per bulan.
Stimulus Tidak Otomatis Menaikkan Belanja
Satu hal yang perlu diluruskan. Adanya bantuan tidak berarti seluruh tambahan itu langsung berubah menjadi konsumsi. Dana yang diterima bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan yang tertunda, membayar tagihan yang menumpuk, atau justru disimpan sebagai cadangan.
Baca juga: Menyala Abangku! Jurus Prabowo Subianto Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 6%
Karena itu, stimulus lebih tepat dibaca sebagai kebijakan yang menjaga ruang daya beli, bukan jaminan bahwa konsumsi langsung naik. Ada pula beda waktu yang penting diperhatikan. Data BPS yang dirilis Oktober ini bersumber dari Susenas Maret 2026, sementara bantuan pangan dan BSU baru berlaku Oktober sampai Desember 2026.
Artinya data tersebut belum bisa dipakai untuk mengukur dampak stimulus kuartal IV. Yang lebih relevan nanti adalah data setelah programnya berjalan.
Pola Belanja sebagai Cermin Ekonomi
Kondisi ekonomi tidak hanya terbaca dari angka pertumbuhan atau realisasi investasi. Ada indikator yang jauh lebih dekat dengan keseharian, yaitu bagaimana masyarakat membelanjakan uangnya. Data Maret 2026 menunjukkan 2 hal. Belanja bukan makanan kini sedikit melampaui belanja makanan, dan pengeluaran untuk makanan jadi tumbuh jauh lebih cepat dari rata-rata.
Apakah stimulus akhir tahun akan mengubah pola ini? Jawabannya menunggu rilis berikutnya. Yang jelas, pola belanja bukan sekadar soal berapa banyak uang yang keluar, melainkan kebutuhan apa yang didahulukan dan bagaimana rumah tangga menyesuaikan diri dengan kondisi ekonominya.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






