berita
22 April 2026
Naufal Mamduh
Boncos! Dampak BBM Nonsubsidi Naik bagi UMKM, Seberapa Besar Ruginya?
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini disebabkan mayoritas pengusaha UMKM masih mengandalkan BBM bersubsidi untuk menunjang operasional sehari-hari.
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menyebut bahwa efek kenaikan harga BBM tetap ada, namun skalanya sangat bergantung pada jenis energi yang digunakan oleh masing-masing pengusaha. Menurutnya, sebagian besar UMKM masih menggunakan solar subsidi atau pertalite sebagai bahan bakar utama.
“Secara umum, ketika BBM nonsubsidi naik, itu tidak akan terlalu berdampak signifikan kepada UMKM, karena mereka masih menggunakan BBM subsidi,” ujar Sofyano sebagaimana dikutip dari RRI pada Rabu (22/4/2026).
Ia menekankan pentingnya melihat dampak kebijakan energi secara proporsional. Tidak semua pengusaha UMKM menggunakan BBM nonsubsidi, sehingga efeknya tidak merata di seluruh sektor. Kondisi ini membuat UMKM relatif lebih terlindungi dibandingkan sektor usaha yang bergantung pada energi nonsubsidi.
Baca juga: Genting! BBM Nonsubsidi Resmi Naik, Ini 7 Fakta yang Perlu Anda Pahami!
Selain BBM, Sofyano juga menyoroti konsumsi LPG di masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa pengguna LPG nonsubsidi ukuran 12 kilogram masih sangat kecil, yakni kurang dari 10 persen. Sebaliknya, sekitar 90 persen rumah tangga di Indonesia masih menggunakan LPG bersubsidi.
Dengan komposisi tersebut, dampak kenaikan harga energi nonsubsidi terhadap masyarakat secara umum dinilai masih terbatas. Terlebih, pemerintah telah memastikan harga BBM dan LPG subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga 2026, sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat.
Meski demikian, Sofyano mengingatkan bahwa pemerintah tetap harus menjamin ketersediaan pasokan energi. Menurutnya, stabilitas pasokan BBM dan LPG menjadi faktor krusial agar aktivitas ekonomi tidak terganggu.
“Yang penting pemerintah bisa menjamin ketersediaan BBM dan LPG yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.
Kenaikan BBM Picu Kenaikan Harga Plastik
Di sisi lain, tekanan biaya produksi mulai dirasakan oleh sebagian pengusaha akibat kenaikan harga energi dan bahan baku nonsubsidi. Kenaikan harga plastik, LPG nonsubsidi, dan BBM nonsubsidi secara bertahap mendorong peningkatan biaya produksi dan distribusi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan munculnya tekanan inflasi yang lebih luas. Berbeda dengan inflasi musiman, tekanan harga kali ini dinilai mulai bergeser ke arah yang lebih struktural, karena berasal dari kenaikan biaya di sektor hulu.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan dampak langsung kenaikan harga LPG 12 kilogram dan BBM nonsubsidi terhadap inflasi masih tergolong moderat, yakni sekitar 0,1 hingga 0,3 persen dalam jangka pendek.
Namun, ia mengingatkan adanya risiko efek rambatan yang lebih luas, terutama melalui sektor transportasi dan logistik. Kenaikan biaya distribusi berpotensi mendorong harga barang dan jasa secara bertahap.
“Risiko utamanya justru dari efek lanjutan ke sektor logistik dan ekspektasi harga,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Bisnis Indonesia.
Fakhrul juga menyoroti kelompok kelas menengah sebagai pihak yang paling rentan terdampak. Kelompok ini tidak mendapatkan bantuan sosial, namun sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan transportasi.
Di tingkat pengusaha, dampak mulai terasa lebih nyata, khususnya pada sektor yang menggunakan energi nonsubsidi. Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia, Edy Misero, menyebut kenaikan LPG 12 kilogram menjadi tekanan langsung bagi pengusaha kuliner.
Selain itu, lonjakan harga plastik hingga 50–60 persen turut menambah beban produksi, terutama bagi UMKM yang menggunakan bahan tersebut sebagai kemasan atau bahan baku.
Pengusaha kini dihadapkan pada dilema: menaikkan harga jual dengan risiko penurunan permintaan, atau mempertahankan harga dengan konsekuensi penurunan margin keuntungan.
Baca juga: Serem! Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.500 Triliun, Masih Aman atau Waswas?
“Kalau harga dinaikkan, omzet bisa turun. Kalau tidak, margin yang dikorbankan,” tutur Edy.
Dalam jangka panjang, tekanan biaya ini berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat. Bukan hanya daya beli yang terpengaruh, tetapi juga kecenderungan masyarakat untuk menahan belanja, terutama untuk kebutuhan non-primer.
Para ekonom menilai pemerintah perlu merespons kondisi ini dengan kebijakan yang lebih terarah. Langkah seperti insentif sektor logistik, dukungan transportasi publik, serta keringanan pajak bahan baku dinilai dapat membantu menahan tekanan harga.
Selain itu, optimalisasi belanja pemerintah untuk produk dalam negeri juga dinilai penting guna menjaga permintaan dan menopang keberlangsungan UMKM.
Dengan demikian, meskipun dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi terhadap UMKM masih terbatas, tekanan biaya dari energi dan bahan baku mulai membentuk risiko yang lebih kompleks. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi tekanan struktural bagi perekonomian nasional.
Mengenal LBS Urun Dana
LBS Urun Dana adalah platform securities crowdfunding telah berizin resmi dan diawasi oleh OJK. Hanya di LBS, investor visioner investasi sukuk maupun saham, dari bisnis yang rill dan kurasi ketat.
Sementara itu bagi pengusaha visioner, LBS Urun Dana juga memberikan solusi pendanaan bagi pengusaha. Mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar, pengusaha visioner dapat mengembangkan bisnisnya melalui skema yang terstruktur dan profesional.
Baca juga: Taaruf! Sejarah LBS Urun Dana, SCF Penghubung Antara Investor & Entrepreneur Visioner
Seluruh proses dan transaksi di LBS Urun Dana dibimbing oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, pakar Fikih Muamalah. Hal ini memastikan setiap aktivitas berjalan secara transparan, profesional, dan selaras dengan prinsip yang telah ditetapkan.
Untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar ekonomi, bisnis, dan peluang investasi, Anda dapat mengunjungi situs resmi di lbs.id serta mengikuti Instagram LBS Urun Dana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






