berita
19 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Bikin Melongo! Bunga Utang RI Tembus Rp650 Triliun di 2027, Setara Rp1,78 Triliun Sehari
Ada angka yang perlu dicermati dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027: pemerintah Indonesia mengalokasikan Rp650,31 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Bukan pokok utangnya. Hanya bunganya. Jika dirata-rata, angka itu setara dengan Rp1,78 triliun per hari, atau sekitar Rp74,3 miliar per jam.
Bunga Utang Pemerintah Naik 68,3% dalam 5 Tahun
Kenaikan bunga utang ini tidak muncul tiba-tiba. Tren negatif ini sudah berlangsung sejak tahun 2022 hingga sekarang simak rinciannya:
- 2022: Rp386,34 triliun
- 2023: Rp439,88 triliun
- 2024: Rp488,43 triliun
- 2025: Rp514,4 triliun
- 2026 (outlook): Rp582,24 triliun
- 2027 (RAPBN): Rp650,31 triliun
Dapat dilihat dalam lima tahun terakhir, beban bunga utang naik Rp264 triliun atau 68,3%. Lonjakan ini terjadi ketika pemerintah juga harus membiayai program pembangunan, subsidi, perlindungan sosial, dan pelayanan publik secara bersamaan.
Bunga Utang Plus Subsidi Tembus Rp1.000 Triliun
Dari total belanja negara RAPBN 2027 sebesar Rp4.097,2 triliun, pemerintah juga mengalokasikan Rp387,89 triliun untuk subsidi, termasuk subsidi energi sebesar Rp272,95 triliun.
Jika bunga utang Rp650,31 triliun digabungkan dengan subsidi Rp387,89 triliun, totalnya mencapai Rp1.038,2 triliun, setara dengan 25,3% dari total belanja negara 2027.
Utang Tetap Dibutuhkan untuk Pembangunan
Yang perlu dipahami adalah meski defisit APBN 2027 dirancang lebih rendah, yaitu Rp671,16 triliun atau 2,40% PDB dibanding outlook 2026 sebesar 2,85% PDB, pemerintah masih merencanakan pembiayaan utang baru sebesar Rp876,27 triliun.
Baca juga: Menyala Abangku! Jurus Prabowo Subianto Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 6%
Sebagian besar berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara neto sebesar Rp779,94 triliun. Sebagaimana dikutip dari Kompas pada Rabu (19/8/2026), utang yang diterbitkan hari ini akan menciptakan kewajiban bunga baru di tahun-tahun berikutnya. Siklusnya terus berputar.
Risiko yang Perlu Dicermati Pemerintah
Pemerintah sendiri mengakui ada dua risiko utama yang bisa memperburuk beban bunga ini. Pertama, perubahan suku bunga global. Jika suku bunga naik, biaya pembiayaan ikut naik. Pemerintah memasang asumsi rata-rata tingkat bunga SBN 10 tahun sebesar 6,9% pada 2027.
Kedua, pelemahan rupiah. Asumsi nilai tukar ditetapkan Rp17.500 per dolar AS. Jika rupiah melemah lebih dalam, nilai rupiah dari pembayaran utang luar negeri ikut membengkak.
Untuk mitigasi, pemerintah berupaya memperbanyak pembiayaan dalam negeri, memperluas basis investor domestik, dan menggunakan instrumen dengan tenor menengah hingga panjang.
Antara Pertumbuhan dan Disiplin Fiskal
Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi global yang penuh ketidakpastian saat menyampaikan RUU APBN 2027 di DPR pada 14 Agustus 2026.
"Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya," kata Prabowo.
Baca juga: Merinding! Utang RI Tembus Level Tertinggi, Apa Langkah Menkeu Purbaya?
Pernyataan itu mencerminkan tantangan yang tidak ringan: menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mengendalikan beban utang yang terus membesar. Kemampuan mengendalikan biaya bunga, menjaga nilai tukar, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci agar ruang fiskal tidak semakin menyempit.
Artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang disampaikan bersifat umum dan informatif, serta tidak dimaksudkan sebagai representasi atas pandangan resmi, kebijakan, maupun rekomendasi transaksi atau investasi tertentu.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






