pendanaan
18 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Info Modal! Kenali Instrumen Saham dan Sukuk untuk Pendanaan Bisnis Anda
Bagi pengusaha yang bisnisnya sudah berjalan dan mulai memikirkan ekspansi, pertanyaannya sering berhenti di satu titik: dari mana modalnya, dan dengan skema seperti apa.
Securities crowdfunding menawarkan 2 instrumen dengan karakter yang sangat berbeda. Keduanya sama-sama menghimpun dana dari investor, tapi konsekuensinya bagi perusahaan Anda tidak sama sekali. Artikel ini membedah keduanya, lengkap dengan hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih.
Bagaimana Mekanismenya Bekerja?
Securities crowdfunding adalah penghimpunan dana dari publik melalui platform berizin dan diawasi OJK.
Perusahaan yang membutuhkan modal menerbitkan efek, lalu investor membelinya. Dananya masuk ke perusahaan, dan investor memperoleh hak sesuai efek yang dibelinya.
Alurnya singkat. Perusahaan mengajukan, penyelenggara menelaah dokumen dan kondisi bisnisnya, penawaran ditayangkan bila lolos, investor memesan, lalu dana dihimpun dan disalurkan sesuai rencana penggunaan yang sudah diinformasikan.
Yang perlu digarisbawahi, ini bukan skema pinjaman. Tidak ada bunga yang berjalan dan tidak ada denda keterlambatan. Hubungannya berbentuk penyertaan modal atau pembiayaan berbasis akad, bergantung instrumen yang dipilih.
Baca juga: Ajukan Yuk! Kenali Sukuk, Solusi Pembiayaan Syariah untuk Bisnis yang Siap Ekspansi
Instrumen 1: Saham
Pada skema ini, perusahaan menghimpun dana dengan menerbitkan saham baru kepada investor.
Posisi investor. Menjadi pemegang saham, yaitu pemilik sebagian perusahaan sesuai jumlah lembar yang dimilikinya.
Imbal hasilnya. Dividen, yang besarannya mengikuti kinerja perusahaan dan keputusan RUPS. Bila labanya kecil, dividennya kecil. Bila merugi, tidak ada dividen.
Pengembalian pokok. Tidak ada. Dana yang masuk menjadi modal perusahaan, bukan kewajiban yang harus dilunasi.
Akadnya. Umumnya syirkah musahimah, yaitu kerja sama kepemilikan atas saham perusahaan.
Konsekuensi bagi pemilik lama. Porsi kepemilikan Anda berkurang karena ada pemegang saham baru. Kendali operasional tetap di tangan pengurus, tapi struktur kepemilikannya berubah permanen.
Instrumen 2: Sukuk
Berbeda dari saham, sukuk punya tenor dan jadwal penyelesaian.
Posisi investor. Mitra pembiayaan atas proyek tertentu, bukan pemilik perusahaan.
Imbal hasilnya. Bagi hasil sesuai nisbah, margin, atau bentuk imbalan lain yang disepakati dalam akad sejak awal.
Pengembalian pokok. Ada, mengikuti jadwal yang tercantum dalam prospektus. Bisa bertahap, bisa sekaligus di akhir tenor.
Jaminan. Wajib ada. Berupa properti bersertifikat hak milik dengan nilai pertanggungan di atas dana yang dihimpun.
Dasar penerbitan. Harus ada proyek yang mendasarinya, misalnya pengadaan bahan baku untuk memenuhi pesanan yang sudah diterima.
Konsekuensi bagi perusahaan. Tidak ada perubahan kepemilikan sama sekali. Tapi ada kewajiban pembayaran berjadwal yang harus dipenuhi sampai jatuh tempo.
Mana yang Cocok untuk Bisnis Anda?
Pilihannya bergantung pada 2 hal: sifat kebutuhan dananya dan kesiapan Anda berbagi kepemilikan.
Saham lebih sesuai ketika kebutuhannya bersifat jangka panjang seperti membuka cabang atau membangun fasilitas baru, dan Anda terbuka menerima pemegang saham baru sebagai mitra jangka panjang.
Sukuk lebih sesuai ketika kebutuhannya terikat proyek dengan perputaran yang jelas, misalnya memenuhi pesanan yang sudah ada, dan Anda ingin struktur kepemilikan tetap utuh.
Satu hal yang membedakan keduanya secara arus kas. Saham tidak menimbulkan kewajiban pembayaran berjadwal, sementara sukuk menimbulkannya.
Baca juga: Wajib Tahu! Beda Skema Permodalan Bank vs Securities Crowdfunding, Cek Disini!
Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih
Pendanaan lewat securities crowdfunding punya konsekuensi yang perlu dipahami sejak awal. Keterbukaan informasi. Kondisi keuangan, rencana penggunaan dana, dan perkembangan usaha Anda akan dibaca banyak investor. Perusahaan yang belum siap membuka datanya akan merasa berat di tahap ini.
Kewajiban pelaporan berkelanjutan. Setelah dana terhimpun, kewajibannya belum selesai. Ada laporan perkembangan usaha yang harus disampaikan kepada pemodal.
Risiko penawaran tidak terpenuhi. Tidak semua penawaran terserap penuh. Ada ambang minimum yang harus tercapai agar penerbitan dinyatakan berhasil.
Konsekuensi pada sukuk. Kewajiban pembayaran berjalan sesuai jadwal, terlepas dari kondisi usaha sedang bagus atau tidak. Hitung kemampuan arus kas Anda sebelum menentukan tenornya.
Konsekuensi pada saham. Dilusi kepemilikan bersifat permanen dan tidak dapat dibatalkan setelah penerbitan.
Dengan memahami kelima hal ini sejak awal, keputusan yang Anda ambil berdiri di atas gambaran yang utuh.
Kriteria Pengajuan di LBS Urun Dana
LBS Urun Dana adalah platform securities crowdfunding berizin OJK, dengan seluruh instrumennya disusun di bawah bimbingan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Pakar Fikih Muamalah.
Setiap calon penerbit melewati kurasi dari sisi administrasi, kondisi bisnis, dan kesesuaian syariah sebelum efeknya boleh ditawarkan.
Kriterianya:
- Omzet tahunan minimal Rp6-7 miliar
- Kebutuhan dana minimal Rp2 miliar
- Telah beroperasi minimal 2-3 tahun
- Berbadan hukum CV atau PT
- Memiliki jaminan minimal 125% dari nilai pendanaan, khusus untuk sukuk
- Memiliki laporan keuangan yang memadai
Baca juga: Gaskeun Bos! Panduan Lengkap Cari Modal Usaha Tanpa Riba untuk Pengusaha Muslim
Diskusikan Kebutuhan Bisnis Anda
Bila bisnis Anda sudah memenuhi kriterianya dan mulai memikirkan ekspansi, langkah berikutnya adalah menentukan instrumen yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan perusahaan. Ajukan pendanaan di LBS Urun Dana, atau diskusikan dulu kondisi usaha Anda bersama tim kami:
- Esa: Chat via WhatsApp
- Rasyid: Chat via WhatsApp

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






