berita
19 Januari 2026
Naufal Mamduh
Comeback! 7 Fakta BUMN Tekstil, Siasat Pemerintah Genjot Sandang Nasional
Pemerintah berencana menghidupkan kembali BUMN Tekstil sebagai bagian dari strategi memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Rencana ini mendapat perhatian luas karena menyentuh sektor sandang yang selama ini dinilai semakin tertekan oleh impor dan persaingan harga.
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, menilai langkah ini penting karena sandang merupakan kebutuhan primer yang seharusnya dijamin negara. Menurutnya, kebutuhan manusia mencakup tiga hal utama, yaitu sandang, pangan, dan papan. Artinya, sandang seharusnya menjadi prioritas pertama yang dipenuhi negara, sebelum pangan dan perumahan.
Sebagaimana dikutip Detik Finance pada Senin (19/1/2026), dari Berikut rangkuman alasan kenapa BUMN Tekstil adalah langkah strategis dan dinilai penting untuk masa depan industri nasional:
1. Sandang adalah Kebutuhan Dasar yang Dijamin Konstitusi
Sandang dipandang sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib dipenuhi negara. Prinsip ini sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 tentang tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan rakyat. Karena itu, keberadaan BUMN Tekstil bukan sekadar proyek bisnis, tetapi bagian dari mandat konstitusi untuk menjamin akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
2. BUMN Tekstil sebagai Stabilisator Industri Sandang Nasional
BUMN Tekstil diharapkan mampu menjadi penyeimbang bagi ribuan industri sandang yang tersebar di berbagai daerah. Peran ini penting untuk mencegah praktik kartelisasi atau dominasi segelintir pelaku usaha besar yang berpotensi membuat harga sandang menjadi mahal dan tidak terkendali.
Dengan adanya BUMN sebagai pemain besar yang berpihak pada kepentingan publik, struktur pasar diharapkan menjadi lebih sehat dan kompetitif.
3. Menjaga Keseimbangan Supply dan Demand
Selain menstabilkan industri, BUMN Tekstil juga dinilai harus menjadi stabilisator pasar. Tujuannya menjaga kecukupan pasokan agar keseimbangan antara supply dan demand tetap terjaga.
Ketika pasokan berlebih, BUMN bisa menyerap produksi. Saat pasokan menipis, BUMN dapat mempercepat distribusi. Mekanisme ini penting agar fluktuasi pasar tidak langsung berdampak besar pada harga dan ketersediaan produk sandang di masyarakat.
4. Menekan Harga agar Tetap Terjangkau
Dengan kehadiran BUMN Tekstil sebagai pesaing sehat di pasar, harga sandang diharapkan tetap terkendali. Negara memiliki alat intervensi untuk memastikan harga tidak berkembang terlalu mahal di tengah fluktuasi pasar dan tekanan impor.
Baca juga: Wadidaw! Purbaya Optimis Ekonomi 2026 Capai 6%, Tapi Ekonom Ingatkan Bahaya Ini!
Fungsi ini krusial, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah yang paling rentan terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok.
5. Menjamin Mutu dan Kualitas Produk
BUMN Tekstil tidak hanya dituntut memproduksi barang murah, tetapi juga berkualitas. Negara dinilai perlu hadir untuk menjaga standar mutu produk sandang nasional agar masyarakat mendapatkan produk yang layak, aman, dan kompetitif.
Dengan standar kualitas yang konsisten, BUMN juga dapat mendorong industri swasta untuk meningkatkan kualitas produk agar tetap mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
6. Mengoreksi Kesalahan Pembubaran ISN
Indonesia sebenarnya pernah memiliki BUMN tekstil bernama Industri Sandang Nusantara (ISN) yang berdiri sejak 1961. Namun, ISN resmi dibubarkan melalui PP No. 14 Tahun 2020 dan asetnya dilelang.
Pembubaran ini banyak disayangkan karena dinilai melemahkan peran negara dalam menjamin ketersediaan sandang nasional. Kebangkitan kembali BUMN Tekstil dipandang sebagai upaya mengoreksi kebijakan masa lalu yang dianggap kurang berpihak pada kepentingan rakyat luas.
7. Mendorong Ekspor dan Kemandirian Bahan Baku
Pemerintah menargetkan nilai ekspor industri sandang meningkat dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun. Target ini dinilai realistis jika BUMN Tekstil dibangun dengan inovasi tinggi dan didukung kebijakan industri yang konsisten.
Penguatan industri hulu juga menjadi kunci. Ketergantungan impor bahan baku dari China yang saat ini mencapai 60 sampai 90 persen diharapkan bisa ditekan drastis melalui pengembangan kapas lokal dan bahan baku dalam negeri.
Baca juga: Jos! 6 Proyek Hilirisasi Januari 2026 yang Siap Menghentak Dunia Bisnis RI
Jika rantai pasok bisa diperkuat dari hulu ke hilir, daya saing industri tekstil nasional akan meningkat signifikan. Selain industri sandang, penguatan sektor ekonomi kreatif juga dinilai penting agar muncul produk unik khas Indonesia yang diminati pasar global. Produk-produk berbasis desain lokal, budaya, dan identitas nasional diyakini memiliki nilai tambah yang besar di pasar ekspor.
Di saat yang sama, masyarakat juga didorong untuk lebih banyak menggunakan produk dalam negeri. Dengan begitu, pertumbuhan industri tidak hanya datang dari ekspor, tetapi juga dari konsumsi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






