berita
14 Januari 2026
Wadidaw! Purbaya Optimis Ekonomi 2026 Capai 6%, Tapi Ekonom Ingatkan Bahaya Ini!
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, optimistis bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh 6% pada 2026. Menurutnya, pencapaian ini tidak sulit tercapai berkat strategi yang telah disiapkan pemerintah, seperti akselerasi anggaran dan peningkatan efisiensi kebijakan fiskal dan moneter. “Tahun 2026, target 6% tidak terlalu sulit tercapai,” ujarnya dalam konferensi pers pada akhir tahun 2025.
Sebagaimana dikutip dari CNBC pada Rabu (14/1/2026), Purbaya menambahkan bahwa pemerintah berfokus pada memperbaiki iklim usaha dan meningkatkan kepercayaan investor dengan mengatasi hambatan-hambatan investasi dan perbaikan peraturan yang mengganggu. Namun, seberapa cepat dan efektif kebijakan ini dapat diimplementasikan akan menentukan sejauh mana proyeksi pertumbuhan 6% dapat tercapai.
Baca juga: Lapor! 10 Tantangan Bisnis 2026 dan Solusi Pendanaan Cepat untuk Usaha Ngegas
Pemerintah optimis dapat mencapai target pertumbuhan dengan menggunakan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih baik. Namun, hasilnya sangat bergantung pada seberapa efektif pemerintah dalam mengatasi hambatan struktural yang ada, seperti ketidakseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan negara serta ketergantungan pada utang untuk pembiayaan. Jika hambatan-hambatan ini tidak ditangani dengan tepat, pertumbuhan yang diharapkan bisa terhambat.
Realitas Ekonomi yang Harus Diwaspadai
Namun, ekonom UOB KayHian, Suryaputra Wijaksana, memiliki pandangan yang lebih realistis mengenai proyeksi ekonomi Indonesia. Dalam laporannya, ia memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 2,8-3,0% dari PDB. “Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan negara satu digit, dengan pengeluaran yang kemungkinan tetap di bawah target, terutama untuk transfer ke daerah,” ungkap Suryaputra, mengingatkan adanya potensi hambatan terkait kebijakan fiskal yang bisa memperlambat pemulihan ekonomi.
Suryaputra Wijaksana juga mencatat bahwa pembiayaan untuk menutupi defisit fiskal akan tetap tinggi, dengan penerbitan obligasi domestik yang besar dan kemungkinan peningkatan utang luar negeri. Defisit ini berpotensi menambah beban ekonomi, mempengaruhi inflasi, dan meningkatkan biaya pinjaman. Ini bisa berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan biaya operasional pengusaha. Sebagai pengusaha, saya melihat peningkatan biaya pinjaman dan inflasi yang lebih tinggi dapat merugikan margin keuntungan dan daya beli konsumen, yang pada akhirnya akan mempengaruhi permintaan terhadap produk dan layanan.
Tantangan Ekonomi 2026 yang Harus Dihadapi
Meski proyeksi ekonomi Indonesia 2026 dengan target pertumbuhan 6% memberikan harapan, tantangan besar tetap ada. Pemerintah harus benar-benar fokus untuk mengelola defisit fiskal dan utang negara agar tidak berdampak negatif terhadap daya beli masyarakat dan kelangsungan usaha. Pengusaha, di sisi lain, harus terus menghadapi ketidakpastian dan mengambil langkah-langkah hati-hati untuk mengelola risiko-risiko ekonomi yang mungkin muncul.
Baca juga: Wuss! 10 Cara Dapat Pendanaan Bisnis Cepat Cair 10 Miliar Bebas Ribet!
Jika pemerintah berhasil menangani hambatan-hambatan ini, target 6% pada 2026 bisa tercapai, namun prosesnya memerlukan perhatian yang serius terhadap pengelolaan fiskal dan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai pengusaha, saya harus tetap waspada terhadap perubahan kebijakan yang bisa mempengaruhi bisnis dan mencari cara untuk beradaptasi dengan cepat agar dapat terus berkembang di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.






