berita
3 Februari 2026
Naufal Mamduh
Eksekusi! 5 Tantangan Perekonomian Indonesia 2026 & Strategi Jitu Prabowo!
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memulai tahun 2026 dengan sejumlah tantangan besar yang berdampak langsung pada perekonomian Indonesia. Tekanan datang dari sektor fiskal, moneter, dan finansial, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi secara signifikan.
Sebagaimana dikutip dari Bisnis Indonesia pada Selasa (3/2/2026), berikut adalah sejumlah fakta mengenai tantangan perekonomian Indonesia di awal tahun 2026 yang perlu menjadi perhatian dan evaluasi kita bersama.
1. Defisit APBN 2025: Penyebab Perekonomian Indonesia Tertekan
Realisasi defisit APBN 2025 mencatatkan angka 2,92% dari PDB, hampir mendekati batas aman yang ditetapkan oleh Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 3%. Shortfall atau selisih antara target dan penerimaan pajak menjadi penyebab utama. Pada tahun 2025, realisasi penerimaan pajak hanya mencapai 87% dari target yang telah ditetapkan.
Akibatnya, pemerintah menetapkan target penerimaan pajak yang sangat ambisius pada tahun 2026, yakni Rp2.357,7 triliun. Loncatan target sebesar Rp440,1 triliun ini membuat defisit anggaran Indonesia berpotensi semakin melebar, menambah ketidakpastian perekonomian Indonesia.
2. Rupiah Melemah Mendekati Angka Rp17.000
Selain defisit anggaran, tekanan terhadap rupiah juga semakin besar. Pada 19 Januari 2026, rupiah mendekati angka Rp17.000 per dolar AS, yang menambah ketegangan di pasar finansial.
Penyebab melemahnya rupiah ini sebagian besar disebabkan oleh aksi jual di pasar obligasi, dengan investor asing khawatir akan pelebaran defisit anggaran Indonesia. Seiring dengan itu, arus modal keluar (capital outflow) pun semakin mengkhawatirkan.
Baca juga: Kompleks! 5 Fakta Industri Manufaktur Awal 2026, Level Naik Tapi Ekspor Tertekan!
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis bahwa penguatan yen Jepang yang berpotensi melemahkan dolar AS dapat membantu mengangkat nilai tukar rupiah. Sentimen global ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi perekonomian Indonesia, tetapi tentu dengan strategi yang matang dan tepat.
3. IHSG Anjlok dan Dirut BEI Mundur
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada awal tahun 2026, seiring dengan pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penyebab IHSG anjlok ini tidak hanya disebabkan oleh faktor internal, tetapi juga pengaruh sentimen eksternal yang mempengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menurunkan arahan langsung untuk menanggulangi gejolak ini, yang memicu pengunduran diri beberapa pimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketidakpastian pasar modal Indonesia semakin meningkat dengan adanya kekosongan regulator.
4. Langkah Strategis Pemerintah untuk Menangani Krisis
Berikut langkah strategis yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi tantangan perekonomian Indonesia di tahun 2026:
a. Demutualisasi BEI: Untuk mengurangi benturan kepentingan antara pengurus bursa dan anggota bursa, serta menghindari praktik pasar yang tidak sehat. Proses demutualisasi ini akan melibatkan perubahan struktural yang diharapkan dapat membawa investasi lebih besar.
b. Penaikan Free Float: Pemerintah juga berencana menaikkan batas free float saham dari 7,5% menjadi 15% guna meningkatkan transparansi dan keterbukaan informasi bagi investor.
c. Peningkatan Porsi Investasi Dana Pensiun dan Asuransi: Batasan investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal akan dinaikkan dari 8% menjadi 20%, yang diharapkan dapat mendongkrak likuiditas pasar saham.
d. Penyesuaian dengan Standar MSCI: Penyesuaian aturan dilakukan untuk menghindari penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI pada Mei 2026, yang dapat menambah tekanan terhadap IHSG dan investor asing.
e. Suntikan Likuiditas: Pemerintah akan mengoptimalkan Dana Institusi besar (Taspen/BPJS) dan BPI Danantara untuk menjaga stabilitas dan likuiditas pasar modal Indonesia.
5. Outlook Perekonomian Indonesia 2026
Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kepercayaan investor dengan perbaikan fundamental ekonomi yang lebih riil. Diharapkan, dengan berbagai langkah strategis yang telah diidentifikasi, akan ada pemulihan ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Breaking News! 5 Fakta di Balik Dirut BEI Iman Rachman Mundur Usai IHSG Babak Belur
Meski begitu, tantangan terbesar saat ini bukan hanya terkait pemenuhan likuiditas jangka pendek, tetapi lebih kepada bagaimana memastikan keberlanjutan fiskal jangka menengah hingga panjang.
Sektor fiskal dan pasar modal Indonesia akan terus dipantau ketat oleh investor asing. Jika langkah-langkah strategis ini berhasil, diharapkan dapat membawa perekonomian Indonesia pada jalur yang lebih stabil dan meningkatkan kembali kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






