berita
2 Februari 2026
Naufal Mamduh
Kompleks! 5 Fakta Industri Manufaktur Awal 2026, Level Naik Tapi Ekspor Tertekan!
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengawali 2026 dengan sinyal yang semakin positif. Data terbaru menunjukkan penguatan berkelanjutan, didorong oleh permintaan domestik dan optimisme dunia usaha. Berikut 5 fakta industri manufaktur Indonesia yang patut dicermati.
1. Level Industri Manufaktur Naik Signifikan
Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan tren penguatan pada Januari 2026. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada Senin (2/2/2026) mencatat PMI Indonesia berada di level 52,6, meningkat signifikan dibandingkan 51,2 pada Desember 2025.
Capaian ini menandai bahwa industri manufaktur Indonesia telah berada dalam fase ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Dalam metodologi PMI, level 50 menjadi batas utama. Angka di atas 50 mencerminkan ekspansi aktivitas usaha, sementara di bawahnya menandakan kontraksi.
2. Permintaan Domestik Jadi Penopang Utama
Penguatan industri manufaktur di awal 2026 didorong oleh peningkatan output dan pesanan baru yang tumbuh lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya. Kinerja positif ini terutama ditopang oleh permintaan domestik yang semakin solid, mendorong perusahaan manufaktur meningkatkan aktivitas produksi.
Baca juga: Breaking News! 5 Fakta di Balik Dirut BEI Iman Rachman Mundur Usai IHSG Babak Belur
Sinyal permintaan yang kuat juga mendorong perusahaan untuk menambah pembelian bahan baku dan persediaan, guna mengantisipasi lonjakan pesanan baru. Survei menunjukkan penerimaan pesanan baru kembali meningkat untuk bulan keenam berturut-turut, dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan Desember 2025.
3. Tekanan Kapasitas dan Tenaga Kerja di Industri Manufaktur
Sebagaimana dikutip dari CNBC pada Senin (2/2/2026) seiring meningkatnya permintaan, pekerjaan tertunda (outstanding business) kembali naik. Tekanan terhadap kapasitas produksi semakin terasa, diperparah oleh penurunan jumlah tenaga kerja, meskipun masih bersifat terbatas.
Di sisi lain, tingkat produksi terus meningkat pada Januari 2026 dan menjadi yang tercepat kedua dalam 11 bulan terakhir. Hal ini menegaskan bahwa perusahaan manufaktur tetap agresif merespons pertumbuhan permintaan.
4. Ekspor Masih Tertekan
Berbeda dengan permintaan domestik, penjualan ekspor baru kembali menurun untuk bulan kelima berturut-turut. Tekanan tarif dan melemahnya permintaan global menjadi faktor utama yang membebani kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia.
“Ekspansi industri manufaktur Indonesia masih dipimpin oleh pasar domestik, sementara penjualan ekspor baru terus mengalami kontraksi. Namun, perusahaan tetap optimistis bahwa penguatan permintaan di awal 2026 akan berlanjut sepanjang tahun,” ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.
5. Optimisme Dunia Usaha Menguat
Kepercayaan dunia usaha terhadap prospek 12 bulan ke depan meningkat tajam dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2025. Kebutuhan produksi yang terus naik mendorong perusahaan manufaktur meningkatkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut, sekaligus menambah persediaan pra dan pascaproduksi.
Namun dari sisi pasokan, waktu tunggu input memanjang dengan tingkat terburuk dalam lebih dari empat tahun, akibat lonjakan permintaan bahan baku dan gangguan cuaca yang mempengaruhi kinerja pemasok.
Baca juga: Ngeri! OJK Bongkar 6 Fakta Kasus Scam Finansial, Warga RI Rugi Rp9,1 Triliun
Inflasi biaya input tercatat relatif tinggi, namun masih stabil dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada di bawah rata-rata historis. Kenaikan harga bahan baku menjadi faktor utama peningkatan biaya, yang sebagian diteruskan ke pelanggan melalui kenaikan harga output, meskipun masih terbatas.
Secara keseluruhan, data PMI Januari 2026 memperkuat sinyal bahwa industri manufaktur Indonesia berada pada jalur pemulihan yang solid, dengan permintaan domestik sebagai motor utama pertumbuhan, serta optimisme yang tetap terjaga di tengah tantangan global.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






