berita
9 April 2026
Naufal Mamduh
Geger! Defisit APBN 2026 Melonjak 140%, Menkeu Purbaya Buka Suara!
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali melebar di awal tahun. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, pemerintah mencatat defisit mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% dari produk domestik bruto (PDB).
Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga mencatat lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, secara historis, ini menjadi defisit kuartal I terbesar dalam satu dekade terakhir. Lantas, apa saja faktor di balik membengkaknya defisit ini? Berikut rangkumannya:
1. Defisit Melonjak 140% Secara Tahunan
Jika dibandingkan dengan kuartal I 2025, lonjakan defisit tahun ini terbilang drastis. Tahun lalu, defisit hanya berada di angka Rp99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB. Artinya, dalam setahun, defisit meningkat sekitar 140,5% jadi Rp240,1 triliun secara year on year (YoY).
Kenaikan tajam ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola fiskal pemerintah, khususnya dari sisi belanja negara yang jauh lebih agresif di awal tahun.
2. Belanja Negara Ngebut di Awal Tahun
Salah satu penyebab utama membengkaknya defisit adalah percepatan belanja negara. Hingga Maret 2026, total belanja negara telah mencapai Rp815 triliun. Angka ini tumbuh 31,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp620,3 triliun.
Menariknya, realisasi belanja ini sudah mencapai 21,2% dari total target APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Padahal, secara historis, realisasi belanja di kuartal I biasanya hanya sekitar 17%. Artinya, pemerintah memang sengaja “gaspol” belanja sejak awal tahun.
3. Strategi Pemerintah: Belanja Dibuat Lebih Merata
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi defisit ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, APBN memang dirancang dalam kondisi defisit. Bahkan, percepatan belanja ini merupakan strategi agar dampak ekonomi bisa dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
Baca juga: Ruwet! Harga Plastik Naik, Ini Penyebab dan Dampaknya ke UMKM hingga Konsumen!
“Jadi ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget. Memang anggaran kita didesain defisit,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Dataindonesia.id pada Kamis (9/4/2026).
Purbaya juga menambahkan bahwa pemerintah sengaja mempercepat distribusi belanja agar tidak menumpuk di akhir tahun, seperti pola yang sering terjadi sebelumnya.
4. Pemerintah Pusat Dominasi Komposisi Belanja
Dari total Rp815 triliun belanja negara, porsi terbesar berasal dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp610,3 triliun. Rinciannya:
a. Belanja kementerian/lembaga (K/L): Rp281,2 triliun
b. Belanja non-K/L: Rp329,1 triliun
Sementara itu, transfer ke daerah (TKD) mencapai Rp204,8 triliun. Komposisi ini menunjukkan bahwa peran pemerintah pusat masih sangat dominan dalam mendorong perputaran ekonomi di awal tahun.
5. Pendapatan Negara Tumbuh, Tapi Belum Mengejar
Di sisi lain, pendapatan negara sebenarnya juga mengalami peningkatan. Hingga Maret 2026, pendapatan tercatat sebesar Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp520,4 triliun. Rinciannya:
a. Pajak: Rp394,8 triliun
b. Kepabeanan dan cukai: Rp67,9 triliun
c. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP): Rp112,1 triliun
Meski tumbuh positif, laju pendapatan ini masih kalah cepat dibandingkan belanja negara. Akibatnya, selisih antara keduanya melebar dan memicu defisit yang lebih besar.
6. Defisit Ini Masih Sesuai Desain APBN
Meski terlihat besar, pemerintah menegaskan bahwa defisit ini masih dalam koridor yang direncanakan.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan defisit APBN sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB. Target tersebut dihitung dari:
a. Belanja negara: Rp3.842,7 triliun
b. Pendapatan negara: Rp3.153,6 triliun
Dengan kata lain, defisit di kuartal I ini merupakan bagian dari strategi fiskal tahunan, bukan sinyal krisis.
7. Tren Defisit Kuartal I dalam 10 Tahun Terakhir
Jika melihat ke belakang, defisit APBN pada kuartal I sebenarnya bukan hal baru. Dalam 10 tahun terakhir, defisit kuartal I tercatat terjadi pada 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2025 dan 2026. Namun, yang membedakan adalah skalanya. Defisit tahun ini menjadi yang paling besar dibandingkan periode yang sama dalam satu dekade terakhir.
Lonjakan defisit APBN di kuartal I 2026 mencerminkan perubahan strategi pemerintah dalam mengelola belanja negara. Alih-alih menahan belanja di awal tahun, pemerintah kini justru mempercepat pengeluaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejak dini.
Meski berisiko memperlebar defisit dalam jangka pendek, strategi ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih merata sepanjang tahun.
Baca juga: Full Senyum! 7 Fakta Surplus Neraca Dagang RI Februari 2026 dan Faktor Pendorongnya
Kuncinya kini ada pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara belanja dan pendapatan di sisa tahun 2026.
Tentang LBS Urun Dana
LBS Urun Dana adalah platform securities crowdfunding resmi yang diawasi OJK. Melalui platform ini, Anda bisa berinvestasi di sukuk dan saham, sekaligus memiliki bagian dari bisnis nyata.
Bagi pelaku usaha, LBS Urun Dana juga membuka akses pendanaan mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis. LBS Urun Dana didirikan dan dibimbing oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, pakar Fikih Muamalah, sehingga setiap proses berjalan transparan dan profesional.
Untuk mendapatkan informasi terbaru seputar ekonomi, bisnis, dan peluang investasi, Anda dapat mengikuti Instagram LBS Urun Dana dan mengunjungi situs resmi di lbs.id.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






