berita
2 April 2026
Naufal Mamduh
Full Senyum! 7 Fakta Surplus Neraca Dagang RI Februari 2026 dan Faktor Pendorongnya
Kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan sinyal positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus sebesar US$1,27 miliar atau sekitar Rp20 triliun pada Februari 2026.
Angka neraca perdagangan Indonesia BPS ini melanjutkan tren panjang surplus Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Supaya lebih mudah dipahami, berikut 7 fakta penting di balik data tersebut sebagaimana dikutip dari Bisnis Indonesia pada Kamis (2/4/2026).
1. Surplus Sudah Terjadi 70 Bulan Berturut-turut
Surplus Februari ini bukan kejadian baru. Indonesia tercatat sudah mengalami surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Artinya, dalam periode panjang tersebut, nilai ekspor Indonesia terus lebih besar dibandingkan impor.
2. Nilainya Lebih Tinggi dari Bulan Sebelumnya
Pada Januari 2026, surplus neraca dagang Indonesia berada di angka US$0,95 miliar. Sementara di Februari, naik menjadi US$1,27 miliar. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kinerja perdagangan masih cukup terjaga, meski tidak melonjak tajam.
3. Ekspor Tumbuh, Tapi Tipis
Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$22,17 miliar. Namun pertumbuhannya relatif tipis, hanya sekitar 1,01 persen secara tahunan. Kenaikan ini lebih banyak ditopang oleh sektor nonmigas, yang mencapai US$21,09 miliar atau naik 1,30 persen.
Baca juga: Menyala! Defisit APBN Terancam Melebar, Ini Langkah Prabowo Hadapi Gejolak Ekonomi
4. Komoditas Andalan Masih Jadi Penopang
Beberapa komoditas utama masih menjadi “penyelamat” ekspor Indonesia, di antaranya minyak dan lemak nabati seperti CPO, nikel dan produk turunannya serta mesin dan perlengkapan elektrik. Sementara itu, ekspor migas justru turun 4,25 persen menjadi sekitar US$1,08 miliar atau Rp18,38 triliun sebagaimana menurut neraca perdagangan Indonesia BPS.
5. Impor Justru Naik Lebih Cepat
Berbeda dengan ekspor, impor Indonesia tumbuh lebih tinggi. Pada Februari 2026, nilai impor mencapai US$20,89 miliar atau sekitar Rp334 triliun, atau naik 10,85 persen secara tahunan.
Kenaikan ini terutama berasal dari impor nonmigas yang melonjak 18,24 persen menjadi US$18,90 miliar atau sekitar Rp302 triliun. Di sisi lain, impor migas turun cukup dalam hingga 30,36 persen, dengan nilai sekitar US$2 miliar atau setara Rp32 triliun.
6. Surplus Ditopang Kuat oleh Nonmigas
Meski impor naik cukup tinggi, Indonesia tetap mencatat surplus. Hal ini karena sektor nonmigas masih menjadi penopang utama. Surplus dari sektor ini mencapai US$2,19 miliar atau Rp35,04 triliun dengan kontribusi terbesar dari lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja. Ini menunjukkan bahwa kekuatan ekspor Indonesia masih bertumpu pada komoditas utama.
7. Proyeksi Ekonom Sempat Berbeda
Sebelum data resmi dirilis, sejumlah ekonom sempat memperkirakan hasil yang berbeda. Ada yang memprediksi surplus akan menyempit hingga sekitar US$0,84 miliar atau sekitar Rp13,4 triliun, karena impor diperkirakan tumbuh lebih cepat.
Namun ada juga yang justru memperkirakan surplus bisa meningkat hingga US$1,49 miliar atau sekitar Rp23,8 triliun, dengan asumsi impor menurun lebih dalam. Faktanya, realisasi berada di tengah, yaitu US$1,27 miliar atau sekitar Rp20,3 triliun.
Surplus yang terus berlanjut menunjukkan bahwa perdagangan Indonesia masih berada di jalur yang cukup stabil. Namun, kenaikan impor yang lebih cepat juga memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri sedang meningkat dan membutuhkan banyak bahan baku dari luar.
Baca juga: Catat! Ini Cara LBS Urun Dana Menjaga Jaga Transparansi Investasi dan Pendanaan
Di sisi lain, ketergantungan pada komoditas seperti CPO dan nikel tetap perlu diperhatikan, terutama jika terjadi perubahan harga global. Secara keseluruhan, data Februari 2026 menunjukkan bahwa perdagangan Indonesia masih solid. Namun, keseimbangan antara ekspor dan impor tetap perlu dijaga agar tren positif ini bisa berlanjut ke depan.
Siapa LBS Urun Dana?
LBS Urun Dana adalah platform securities crowdfunding resmi yang diawasi OJK. Lewat platform ini, Anda bisa ikut berinvestasi di sukuk maupun saham, sekaligus membuka peluang memiliki bagian dari bisnis yang nyata. Di sisi lain, para pengusaha juga bisa mendapatkan pendanaan mulai dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar untuk mengembangkan usahanya.
LBS Urun Dana didirikan dan dibimbing oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, pakar Fikih Muamalah. Hal ini menjadi fondasi agar setiap transaksi berjalan transparan dan sesuai prinsip syariah. Untuk terus mengikuti perkembangan ekonomi, bisnis, dan peluang investasi, Anda bisa mengikuti Instagram LBS Urun Dana serta mengunjungi situs resmi di lbs.id. Dengan pemahaman yang tepat, keputusan finansial yang Anda ambil bisa menjadi lebih terarah.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






