berita
27 Juni 2026
Naufal Mamduh
Ngeri! Nilai Tukar Rupiah Kian Melemah, Mungkinkah Segera Menyentuh Rp18.000?
Rupiah kembali melemah. Jumat pagi (26/6), mata uang Garuda terpantau di level Rp17.987 per dolar AS, melemah 44 poin atau 0,25 persen dari penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan yang campur aduk di kawasan Asia. Beberapa mata uang justru sempat menguat, seperti ringgit Malaysia yang naik 0,31 persen, peso Filipina 0,07 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Tapi nasib serupa rupiah dialami won Korea Selatan yang turun 0,38 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen, disusul yen Jepang dan yuan China yang masing-masing terkoreksi tipis.
Kondisi di kelompok mata uang negara maju tak jauh berbeda. Hanya dolar Kanada yang berhasil menguat, naik 0,03 persen terhadap dolar AS. Sisanya kompak melemah: dolar Australia turun 0,29 persen, euro 0,10 persen, franc Swiss 0,09 persen, dan poundsterling 0,03 persen.
Baca juga: Alhamdulillah! Setelah Sempat Bikin Waswas, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat
Lalu, apa yang sebenarnya bikin rupiah terus tertekan? Menurut analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, jawabannya ada di seberang lautan: data ekonomi Amerika Serikat.
Inflasi inti yang diukur lewat Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023. Ditambah lagi, beberapa pejabat Federal Reserve belakangan melontarkan pernyataan bernada hawkish, yang membuat pasar makin yakin suku bunga AS bisa naik lagi.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," kata Lukman kepada CNN Indonesia.
Untuk hari ini, ia memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp17.900 sampai Rp18.050 per dolar AS.
Saat Kurs Goyang, Bisnis Butuh Modal yang Tidak Ikut Goyah
Buat sebagian orang, angka-angka kurs ini mungkin cuma lewat di linimasa. Tapi buat pelaku usaha, terutama yang bahan bakunya impor atau transaksinya pakai dolar, ini soal serius. Setiap kali rupiah melemah, biaya produksi ikut naik, margin makin tipis, dan arus kas jadi lebih sulit diprediksi.
Di situasi seperti ini, bisnis yang bertumpu pada utang berbunga justru makin terbebani bunga tetap berjalan, sementara pendapatan belum tentu ikut naik mengimbangi kurs. Pertanyaannya, adakah cara lain untuk memperkuat modal tanpa menambah beban bunga di tengah ketidakpastian seperti ini?
Saatnya Akses Pendanaan Bisnis Bebas Riba
Jawabannya ada. LBS Urun Dana membuka akses pendanaan bisnis mulai Rp500 juta hingga Rp10 miliar lewat skema penerbitan saham atau sukuk kepada investor bukan pinjaman konvensional yang membebani dengan bunga.
Sebelum mengajukan, ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi:
- Dana yang dibutuhkan minimal Rp500 juta
- Omzet tahunan minimal Rp2,5 miliar
- Usaha sudah berjalan minimal satu tahun
- Berbadan hukum PT atau CV
- Memiliki laporan keuangan
Baca juga: Awas Tertukar! 10 Sumber Pendanaan Bisnis: Mana yang Cocok untuk Usaha Anda?
Kalau bisnis Anda sudah memenuhi kriteria di atas dan butuh modal untuk tetap kuat menghadapi gejolak kurs, ajukan sekarang. Atau, kalau masih ingin ngobrol dulu soal kondisi usaha Anda, tim Open Plan LBS Urun Dana siap membantu:
- Esa: Chat via WhatsApp
- Rasyid: Chat via WhatsApp
Kurs boleh naik turun, tapi modal usaha tidak harus ikut goyah karenanya. Yuk, mulai langkah yang lebih tenang untuk bisnis Anda.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






