berita
30 Juli 2026
Naufal Mamduh
Ironis! Saldo Tabungan Warga RI Menyusut, Tapi Kartu Kredit Makin Ramai Dipakai
Tren konsumsi masyarakat Indonesia tengah mengirimkan sinyal yang perlu dicermati. Di satu sisi, belanja tetap tumbuh. Di sisi lain, tabungan melemah dan ketergantungan pada pinjaman terus meningkat. Kombinasi ini bukan sekadar statistik, ini potret tekanan finansial rumah tangga yang sedang berlangsung diam-diam.
Laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri yang terbit Selasa, 28 Juli 2026 mencatat indeks pinjaman pada Juni 2026 yang mencakup pinjaman online atau P2P lending, kartu kredit, serta paylater perusahaan pembiayaan non-bank mencapai 157,7, tumbuh 24,6% year-on-year. Belanja masih tumbuh positif, tapi bahan bakarnya bukan lagi tabungan.
Total Pinjaman Tembus Rp160,7 Triliun
Data OJK dan Bank Indonesia mencatat total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater non-bank mencapai Rp160,7 triliun per Mei 2026.
Pinjaman online mendominasi dengan porsi 65% atau Rp103,7 triliun dari total keseluruhan. Kartu kredit menyumbang 27% atau Rp43,8 triliun, sementara paylater perusahaan pembiayaan tercatat Rp13,2 triliun atau 8% dari total.
Baca juga: Wajib Dicoba! 7 Cara Cerdas Menghemat Uang Biar Gak Boncos di Akhir Bulan
Dari sisi pertumbuhan, paylater menjadi instrumen yang paling agresif dengan lonjakan 53,6% yoy. P2P lending tumbuh 25,7%, dan kartu kredit 15,6%. Ketiganya kompak naik, dan ketiganya bergerak ke arah yang sama: konsumsi.
Pinjaman Konsumtif Naik, Produktif Terus Menyusut
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ke mana uang pinjaman itu mengalir. Porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif melonjak menjadi 86% pada April 2026, naik dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Tren ini konsisten dan bergerak satu arah saja.
Sebaliknya, porsi untuk kegiatan produktif terus menyusut menjadi hanya 14%. Artinya, dari setiap Rp100 yang dipinjam secara online, hanya Rp14 yang masuk ke aktivitas usaha. Sisanya habis untuk konsumsi harian.
Kenaikan pinjaman kini lebih banyak didorong oleh kebutuhan rumah tangga, sementara pembiayaan untuk aktivitas usaha makin terbatas dan terpinggirkan.
Tabungan Menipis, Konsumsi Bertumpu pada Utang
Mandiri Saving Index pada Juni 2026 tercatat di level 84,8, terkontraksi 5,7% yoy. Angka ini mencerminkan daya simpan masyarakat yang terus melemah sejalan dengan meningkatnya tekanan biaya hidup.
Pelemahan tabungan bersamaan dengan meningkatnya pembiayaan konsumtif menunjukkan bahwa sebagian besar konsumsi kini semakin ditopang oleh leverage rumah tangga, bukan dari pendapatan yang menguat. Ini bukan pertanda pertumbuhan yang sehat.
Baca juga: Waspada! Menyibak Fenomena PayLater: Solusi atau Jebakan Keuangan?
Bank Mandiri menekankan perlunya penguatan pendapatan disposabel, pengendalian tekanan biaya hidup, dan penciptaan lapangan kerja agar konsumsi ke depan tumbuh lebih berkelanjutan, bukan sekadar ditopang utang yang terus menumpuk.
Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan edukasi dan literasi keuangan publik. Informasi yang termuat tidak merepresentasikan pandangan resmi, kebijakan, maupun skema transaksi dan investasi yang berlaku di LBS Urun Dana

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






