berita
10 Maret 2026
Naufal Mamduh
Ninuninu! Ini 7 Penyebab Rupiah Anjlok Rp17.000, Lebih Parah Krisis 1998!
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin (9/3/2026), rupiah melemah hingga menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data perdagangan kemarin rupiah tercatat melemah sekitar 76 poin atau sekitar 0,45 persen sehingga berada di level Rp17.001 per dolar AS. Kondisi ini juga menjadi sorotan karena angka tersebut melampaui level yang pernah terjadi saat krisis moneter 1998.
Pelemahan rupiah dan penguatan dolar AS tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor global dan domestik ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar tersebut. Berikut beberapa penyebab utama mengapa dolar menguat dan rupiah kembali tertekan.
1. Sentimen Risk Off di Pasar Global
Salah satu penyebab utama dolar Rp17.000 adalah meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global. Dalam kondisi ini, investor cenderung menghindari aset yang dianggap berisiko seperti mata uang negara berkembang. Sebaliknya, mereka lebih memilih aset yang dinilai lebih stabil seperti dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi karena sentimen risk off yang memburuk akibat lonjakan harga energi dunia.
Baca juga: Panas! 7 Dampak Perang Iran vs Amerika yang Bikin Ekonomi Indonesia Waswas!
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dollar AS per barrel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” ujar Lukman sebagaimana dikutip dari JPNN pada Selasa (10/3/2026).
2. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan potensi kenaikan inflasi di berbagai negara.
Kondisi tersebut sebagaimana kata Lukman Leong membuat investor global semakin berhati-hati dan cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih stabil.
3. Konflik Geopolitik di Timur Tengah
Lonjakan harga minyak tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan semakin meluas sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia. Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
4. Kekhawatiran Inflasi Global
Kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi global. Romauli Nainggolan, pakar ekonomi dari Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Ciputra Surabaya, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi Indonesia.
“Ada lonjakan harga minyak dunia, sementara asumsi makro APBN kita itu di kisaran 70 dolar US per barel, jadi memang ini membebani APBN,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Suara Surabaya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya impor energi serta bahan baku industri.
5. Tekanan pada Sektor Riil dan Impor
Penguatan dolar dan pelemahan rupiah juga berdampak langsung pada sektor riil, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Romauli menilai kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor.
“Nah ini yang akan berdampak langsung adalah sektor riil, pelaku usaha yang menggunakan bahan bakunya dari impor,” jelasnya.
Selain itu, kenaikan biaya impor juga dapat memicu tekanan inflasi yang lebih cepat di dalam negeri.
6. Sentimen Kekhawatiran Ekonomi dari Pernyataan Ekonom
Selain faktor global, sentimen di dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar saham.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pelemahan rupiah dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh kekhawatiran pasar setelah sebagian ekonom menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia menuju resesi.
“Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi menuju 1998 lagi, daya beli sudah hancur,” kata Purbaya sebagaimana dikutip dari Kompas.
Namun demikian, ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum. Bahkan perlambatan juga belum, kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” ujarnya.
7. Rupiah Diperkirakan Masih Gonjang Ganjing
Analis memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Sebagaimana dikutip dari Liputan6, Lukman Leong memprediksi pergerakan rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global.
Selama ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi masih berlangsung, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan terus terjadi.
Baca juga: Wadaw! 4 Fakta Mengapa Rupiah Melemah Tapi IHSG Menguat Biar Gak Salah Paham!
Menguatnya dolar AS hingga membuat rupiah menembus Rp17.000 dipicu oleh kombinasi berbagai faktor global dan domestik. Mulai dari meningkatnya sentimen risk off di pasar global, lonjakan harga minyak dunia, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih stabil.
Di sisi lain, sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi domestik juga turut mempengaruhi pergerakan rupiah dan pasar saham. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dan berbagai langkah kebijakan terus disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






