berita
20 Januari 2026
Wadaw! 4 Fakta Mengapa Rupiah Melemah Tapi IHSG Menguat Biar Gak Salah Paham!
Pada Senin, 19 Januari 2026, pasar saham Indonesia mencatatkan sebuah anomali yang menarik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 9.133,87, menguat 0,64 persen.
Namun, di sisi lain, rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD), dengan tercatat mendekati Rp17.000 atau tepatnya Rp16.955 per dolar AS. Ini menciptakan pertanyaan besar bagi para investor dan pelaku pasar: mengapa IHSG hari ini bisa menguat di tengah rupiah yang melemah?
1. Ketegangan Politik Amerika Serikat-Eropa Bikin Rupiah Melemah
Penyebab rupiah melemah bisa dilihat dari beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi sentimen pasar. Sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz pada Selasa (20/1/2026), ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Eropa berpotensi menambah ketidakpastian global, sementara data ekonomi dari China yang melambat juga memberikan dampak negatif terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Baca juga: Sikat! 7 Strategi Cari Pendanaan Proyek Pemerintah Cepat Cair 300 Juta–10 Miliar!
Ekonomi China tercatat hanya tumbuh 4,5 persen pada kuartal terakhir 2025, jauh di bawah ekspektasi pasar yang lebih tinggi, serta penurunan penjualan ritel yang hanya naik 0,9 persen. Sentimen negatif ini menyebabkan arus investasi bergerak keluar dari negara berkembang, yang pada gilirannya menekan rupiah hari ini.
2. Saham Perbankan Dorong Penguatan IHSG
Namun, meskipun rupiah hari ini tertekan, IHSG justru menunjukkan kinerja yang luar biasa dengan mencatatkan kenaikan yang signifikan. IHSG hari ini menguat 0,64 persen, sebuah pencapaian yang sangat positif mengingat kondisi global yang kurang mendukung. Lalu, apa yang menjadi penyebab IHSG menguat meskipun ada tekanan terhadap rupiah?
Salah satu faktor yang mendukung penguatan IHSG adalah kenaikan saham-saham besar di sektor perbankan, yang mendapat dukungan menjelang musim laporan kinerja (earning season). Selain itu, ekspektasi pembagian dividen dari perusahaan-perusahaan besar juga memberikan sentimen positif yang mendongkrak indeks saham. Dengan demikian, meskipun ada ketegangan politik global dan ekonomi yang melambat, sektor domestik tetap menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Melansir riset dari Phintraco Sekuritas, indikator teknikal seperti Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan pelebaran yang positif di area yang lebih luas, didukung oleh volume beli yang terus meningkat.
Selain itu, indikator Stochastic RSI masih berada di area overbought, yang mengindikasikan potensi penguatan IHSG lebih lanjut. Berdasarkan analisis tersebut, IHSG diperkirakan dapat menguji level resistance di kisaran 9.150 hingga 9.200, dengan level pivot di 9.100 dan area support di 9.000.
3. Anomali Rupiah dan IHSG Terus Berlanjut
Pada Selasa, 20 Januari 2026, meskipun rupiah kembali melemah 0,40 persen terhadap dolar AS dan tercatat di Rp16.955, IHSG tetap berada di zona hijau. IHSG membuka perdagangan dengan menguat 31,952 poin (0,35 persen) ke level 9.165,825, menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia tetap menarik bagi investor meskipun ada ketegangan global dan pelemahan rupiah.
4. Menkeu Purbaya Pede Rupiah Segera Menguat
Namun, meskipun rupiah saat ini tertekan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan kembali menguat. Purbaya menilai bahwa supply dolar akan bertambah, yang akan mendukung penguatan rupiah dalam waktu dekat. "Jadi, tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga, karena supply dollar akan bertambah," ujar Purbaya.
Baca juga: Lapor! 10 Tantangan Bisnis 2026 dan Solusi Pendanaan Cepat untuk Usaha Ngegas
IHSG menunjukkan daya tahan yang luar biasa di tengah ketidakpastian global, meskipun rupiah tertekan. Anomali antara penguatan IHSG dan pelemahan rupiah memberikan gambaran tentang potensi pasar saham Indonesia yang tetap solid meskipun ada tantangan dari luar negeri.
Investor dapat memanfaatkan peluang ini dengan memilih saham-saham yang memiliki prospek kuat, terutama yang didorong oleh faktor-faktor domestik yang positif.






