berita
9 Agustus 2026
Naufal Mamduh
Top Banget! Pengangguran RI Turun ke Level Terendah, Tapi Ada yang Perlu Dicermati
Ada kabar yang layak disambut positif dari data ketenagakerjaan Indonesia terbaru. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran pada Mei 2026 turun menjadi 7,22 juta orang, berkurang sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Yang lebih menarik, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT tercatat sebesar 4,65%, menjadikannya level terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir, atau sejak 1994.
"Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud sebagaimana dikutip dari Detik.com.
Pengangguran Turun, Penyerapan Tenaga Kerja Meningkat
Data BPS menunjukkan pasar kerja Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih sehat. Jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, bertambah 497 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Penduduk yang bekerja meningkat menjadi 148,19 juta orang, atau bertambah 522 ribu orang dalam periode yang sama.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja juga naik tipis menjadi 70,57%. Artinya, lebih banyak penduduk yang aktif masuk ke pasar kerja dan berhasil memperoleh pekerjaan.
Dari sisi lapangan usaha, pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap terbesar dengan kontribusi 28,75% dari seluruh penduduk bekerja. Setelah itu disusul perdagangan besar dan eceran 17,80%, serta industri pengolahan 13,53%. Selama periode Februari hingga Mei 2026, peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor akomodasi dan makan minum sebanyak 195 ribu orang, diikuti transportasi dan penyimpanan 121 ribu orang.
59% Pekerja Indonesia Masih di Sektor Informal
Di balik kabar baik tersebut, ada satu angka yang perlu dicermati. Dari 148,19 juta penduduk yang bekerja, sebanyak 87,88 juta orang atau 59,30% masih berstatus pekerja informal. Pekerja formal hanya mencapai 60,31 juta orang atau 40,70% dari total.
Pekerja informal mencakup mereka yang berusaha sendiri, bekerja tanpa upah tetap, hingga anggota keluarga yang membantu usaha tanpa dibayar. Dominasi sektor informal ini tidak bisa dilepaskan dari struktur lapangan usaha Indonesia yang masih bertumpu pada pertanian dan usaha kecil.
Meski proporsi pekerja formal naik tipis 0,12 poin persentase dibandingkan Februari 2026, pergeserannya masih berlangsung sangat perlahan. Bertambahnya jumlah orang yang bekerja tidak otomatis mengubah wajah pasar tenaga kerja secara mendasar.
Dari Pendidikan hingga Upah, Tantangan Struktural Belum Berubah
Potret ketenagakerjaan Mei 2026 juga memperlihatkan beberapa tantangan struktural yang belum berubah. Dari sisi pendidikan, 35,40% penduduk bekerja masih berpendidikan SD atau lebih rendah. Sementara pekerja dengan pendidikan diploma hingga S3 hanya 10,75%. Tingkat pengangguran tertinggi masih terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 17,37%, dan lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan TPT tertinggi sebesar 7,68%.
Dari sisi jam kerja, 33,20% pekerja merupakan pekerja tidak penuh, terdiri dari pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Artinya, satu dari tiga orang yang bekerja sebenarnya belum bekerja secara optimal.
Rata-rata upah buruh tercatat sebesar Rp3,39 juta per bulan, dengan kesenjangan yang cukup lebar antara lulusan perguruan tinggi yang rata-rata memperoleh Rp4,99 juta dan pekerja berpendidikan SD ke bawah yang hanya Rp2,12 juta per bulan.
TPT Terendah Sejak 1994, Tapi PR Masih Panjang
Data Mei 2026 memberikan gambaran yang jujur tentang kondisi pasar kerja Indonesia. Perbaikan memang nyata dan layak diapresiasi, khususnya TPT yang menyentuh level terendah sejak 1994. Namun tantangan struktural, mulai dari dominasi sektor informal, rendahnya pendidikan pekerja, hingga kesenjangan upah, masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan dalam satu atau dua kuartal saja.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






