inspirasi nabawiyah
31 Juli 2026
Naufal Mamduh
Penuh Haru! Kisah Ja'far bin Abi Thalib, Sahabat Nabi ﷺ yang Dicintai Kaum Duafa
Kisah Ja'far bin Abi Thalib adalah kisah tentang seorang lelaki yang hidupnya sepenuhnya dipersembahkan untuk Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Di medan perang Mu'tah, tangan kanannya ditebas musuh. Ia pindahkan bendera Islam ke tangan kiri. Tangan kirinya pun ditebas. Dengan kedua lengan berlumuran darah, ia memeluk bendera itu erat ke dadanya hingga tubuhnya roboh penuh luka. Itulah Ja'far, sang pemilik dua sayap surga.
Sosok yang Paling Mirip Rasulullah ﷺ
Ja'far bin Abi Thalib adalah kakak kandung Ali bin Abi Thalib sekaligus sepupu Rasulullah ﷺ. Ia masuk Islam di masa-masa awal dakwah sekitar tahun 614 M (8 SH), berkat ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahkan sebelum Rasulullah ﷺ berdakwah di Darul Arqam. Ia dan istrinya, Asma binti Umais, masuk Islam di hari yang sama.
Keistimewaan Ja'far yang paling langka adalah kemiripannya dengan Rasulullah ﷺ, baik dari segi fisik maupun akhlak. Suatu ketika, Ja'far, Ali, dan Zaid bin Haritsah masing-masing mengklaim sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, lalu sepakat bertanya langsung kepada beliau. Rasulullah ﷺ menjawab kepada Ja'far, "Adapun engkau wahai Ja'far, bentuk fisikmu menyerupai bentuk fisikku dan akhlakmu menyerupai akhlakku. Engkau bagian dariku dan dari pohon keturunanku." (HR. Ahmad)
Diplomat Ulung di Hadapan Raja Najasyi
Ketika tekanan Quraisy semakin tak tertahankan, Rasulullah ﷺ mengizinkan para sahabat berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) sekitar tahun 615 M (7 SH). Rombongan terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita. Ja'far dan Asma ikut serta meski berat meninggalkan tanah kelahiran. Di sana, Raja Najasyi yang adil memberikan perlindungan penuh.
Namun Quraisy mengirim dua utusan, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, dengan hadiah-hadiah berharga untuk menghasut Najasyi agar mengusir kaum muslimin. Najasyi memanggil para sahabat dan para sahabat sepakat menunjuk Ja'far sebagai juru bicara.
Baca juga: Masya Allah! Ukkasyah bin Mihshan dan Rahasia Di Balik Jaminan Surga Tanpa Hisab
Dengan tenang dan penuh wibawa, Ja'far menjelaskan kehidupan jahiliyah mereka sebelum Islam, bagaimana Rasulullah ﷺ membawa kebenaran, dan mengapa mereka terpaksa hijrah. Najasyi meminta Ja'far membacakan ayat Al-Qur'an. Ja'far pun membacakan permulaan surah Maryam. Najasyi menangis hingga janggutnya basah. "Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa oleh Isa keluar dari satu cahaya yang sama," katanya.
Ketika Amr bin Ash keesokan harinya mempersoalkan keyakinan muslimin tentang Nabi Isa, Ja'far menjawab, "Isa adalah hamba Allah ﷻ, Rasul-Nya, ruh-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang suci." Najasyi berkata tegas, "Pergilah kalian dengan aman. Demi Allah ﷻ, aku tidak suka memiliki gunung emas asalkan harus mengganggu salah seorang dari kalian."
Bapaknya Kaum Dhuafa
Ja'far mendapat julukan "Abu Al-Masakin", Bapaknya Orang-Orang Miskin, langsung dari Rasulullah ﷺ. Suatu hari para sahabat mendatanginya namun ia tidak punya apa pun. Ia mengeluarkan sebuah kendi berisi madu, memecahkannya, dan membiarkan para sahabat menjilati sisanya. (HR. At-Tirmidzi). Kedermawanannya tak pernah mengenal batas.
Setelah tinggal beberapa tahun di Habasyah, Ja'far kembali ke Madinah pada tahun 7 H (629 M), tepat ketika Rasulullah ﷺ baru menaklukkan Khaibar. Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan mencium di antara kedua matanya dan bersabda, "Demi Allah ﷻ, aku tidak tahu mana yang lebih membuatku gembira: kedatangan Ja'far, atau kemenangan atas Khaibar." (HR. Al-Bukhari)
Perang Mu'tah: Lima Puluh Luka, Semuanya di Bagian Depan
Pada tahun 8 H (629 M), Rasulullah ﷺ mengutus pasukan ke Mu'tah di wilayah Syam. Pasukan muslimin 3.000 orang menghadapi 200.000 tentara Romawi. Rasulullah ﷺ menunjuk tiga panglima berurutan: Zaid bin Haritsah, lalu Ja'far jika Zaid gugur, lalu Abdullah bin Rawahah jika Ja'far gugur.
Zaid gugur lebih dulu. Ja'far mengambil alih bendera dan maju ke barisan depan. Tangan kanannya ditebas. Ia pindahkan bendera ke tangan kiri. Tangan kirinya pun ditebas. Dengan kedua lengan berlumuran darah, ia memeluk bendera itu ke dadanya hingga roboh. Ia gugur sebagai syahid di usia 33 tahun.
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu yang menyaksikan langsung berkata, "Aku menghitung pada tubuh Ja'far lima puluh luka, antara tikaman dan sabetan, dan tidak satu pun di antaranya mengenai bagian punggungnya." (HR. Al-Bukhari). Lima puluh luka, semuanya di bagian depan. Ja'far tidak pernah memunggungi musuh.
Kisah Ja'far bin Abi Thalib: Dua Sayap yang Abadi di Surga
Ketika berita gugurnya Ja'far sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ mendatangi rumahnya dengan wajah sangat sedih. Ia merangkul anak-anak Ja'far sambil berlinang air mata. Asma bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ, apa yang terjadi pada Ja'far?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Ia telah gugur sebagai syahid hari ini."
Namun beliau kemudian menyampaikan kabar gembira yang abadi, "Sesungguhnya Allah ﷻ mengganti kedua tangannya dengan dua sayap, dengan keduanya ia terbang di surga." (HR. Al-Bukhari)
Baca juga: Bergetar! Ammar bin Yasir, Sahabat Rasulullah ﷺ yang Teguh Meski Disiksa Kejam
Sejak saat itu Ja'far dikenal dengan julukan "Ja'far At-Thayyar", Ja'far yang terbang. Ia adalah sahabat paling mirip Rasulullah ﷺ, diplomat ulung yang memukau raja, bapaknya orang-orang miskin, dan syahid mulia yang kini terbang bebas di surga.
Kisah Ja'far bin Abi Thalib mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati bukan tentang seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa penuh kita mengisi setiap hembusan napas dengan keberanian, keikhlasan, dan kecintaan kepada Allah ﷻ.
Profil LBS Urun Dana
LBS Urun Dana, platform securities crowdfunding berizin OJK dan di bawah bimbingan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Founder LBS Urun Dana dan Pakar Fikih Muamalah.
Ingin belajar lebih dalam soal Fikih Muamalah dari pakarnya? Ikuti Tabayyun, (Tanya, Bahas, dan Temukan Jawabannya), dipandu langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA, dan diadakan secara rutin oleh LBS Urun Dana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






