investasi
4 Mei 2026
Naufal Mamduh
Jangan Bingung! Ini 6 Cara Siapkan Dana Pendidikan Anak Lewat Investasi Saham
Pendidikan anak adalah kewajiban orang tua. Namun kenyataannya, banyak orang tua yang belum sempat memikirkannya karena kesibukan sehari-hari.
Akibatnya, saat anak mulai sekolah, dana belum tersedia dan terpaksa mencari pinjaman berbasis riba. Karena itu, lebih baik mulai menyiapkan tabungan pendidikan anak sejak dini, termasuk melalui instrumen yang lebih optimal seperti investasi saham.
Orang Tua Belum Siapkan Dana Pendidikan Anak
Biaya pendidikan yang terus naik bikin tabungan pendidikan makin penting disiapkan sejak dini. Survei Populix (Oktober 2024) menunjukkan 94,4% responden menganggap ini penting. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memulai. Ada 45,7% belum mulai, dan baru 24,1% yang sudah menyiapkan. Yang lebih mengkhawatirkan 58,9% masih mengandalkan tabungan biasa, umumnya karena bingung pilih instrumen, khawatir risiko, atau kondisi ekonomi.
Inflasi Biaya Pendidikan Anak
Tekanan biaya juga makin terasa. Data BPS Tahun 2025 mencatat sektor pendidikan ikut menyumbang inflasi, dan dalam jangka panjang kenaikannya tinggi. Sepanjang 2015–2024, biaya pendidikan SD naik hingga 467% dengan rata-rata Rp4,56 juta per tahun. Dengan tren ini, mengandalkan tabungan saja berisiko tidak cukup, sehingga opsi investasi saham mulai layak dipertimbangkan.
Baca juga: Lets Go! 7 Cara Nabung Pendidikan Anak, Sedikit Hari Ini Tenang di Masa Depan
Kenapa Harus Investasi Saham untuk Pendidikan Anak?
Karena potensi imbal hasilnya lebih tinggi dibanding tabungan biasa, sehingga lebih mampu mengejar kenaikan biaya pendidikan. Dalam jangka panjang, saham juga berpeluang mengalahkan inflasi, terutama jika dividen terus diinvestasikan kembali.
Cara Mengembangkan Dana Pendidikan Lewat Investasi
Agar dana tabungan pendidikan bisa tumbuh optimal, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan orang tua dalam mengelola investasi saham secara bertahap dan konsisten. Berikut ini:
1. Diversifikasi portofolio
Jangan hanya bergantung pada satu saham. Kombinasikan saham dari sektor yang berbeda misalnya saham bisnis kuliner yang stabil dengan saham kesehatan yang bertumbuh. Dengan diversifikasi, kerugian di satu saham tidak langsung memukul seluruh portofolio. Prinsipnya sederhana: jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.
2. Sesuaikan dengan jangka waktu
Jika anak masih balita dan dana baru dibutuhkan 15 tahun lagi, porsi saham bisa lebih dominan karena ada waktu cukup untuk melewati fluktuasi pasar. Sebaliknya, jika anak sudah kelas 5 SD dan butuh dana dalam 2–3 tahun, sebaiknya mulai geser sebagian ke instrumen yang lebih stabil agar nilainya tidak tergerus saat pasar sedang turun.
3. Gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Investasikan dana secara rutin setiap bulan tanpa perlu menebak kapan waktu terbaik masuk pasar. Misalnya, menyisihkan Rp500 ribu hingga Rp1 juta setiap bulan secara konsisten. Saat harga saham sedang turun, jumlah lembar yang didapat lebih banyak. Saat harga naik, nilai portofolio ikut terdongkrak. Hasilnya, harga rata-rata beli menjadi lebih efisien dibanding membeli sekaligus dalam satu waktu.
4. Investasikan kembali dividen Anda
Saat menerima dividen, godaan untuk langsung menggunakannya memang besar. Namun jika diputar kembali ke investasi, dividen itu akan ikut menghasilkan dividen berikutnya. Inilah yang disebut compounding atau uang bekerja untuk menghasilkan uang. Semakin awal dividen diinvestasikan kembali, semakin besar efek berganda yang dirasakan dalam jangka panjang.
5. Evaluasi secara berkala
Lakukan pengecekan portofolio setidaknya setahun sekali. Tanyakan pada diri sendiri: apakah target dana masih sesuai jalur? Apakah ada saham yang kinerjanya terus merosot tanpa alasan fundamental yang kuat? Jika kondisi keuangan keluarga berubah atau target waktu bergeser, komposisi investasi pun perlu disesuaikan. Evaluasi bukan berarti panik lalu jual semua tapi memastikan strategi tetap relevan dengan tujuan awal.
6. Manfaatkan efek compounding
Compounding bekerja paling optimal ketika dimulai lebih awal. Sebagai ilustrasi, jika Anda berinvestasi Rp1 juta per bulan selama 15 tahun dengan asumsi imbal hasil 12% per tahun, nilai dana bisa berkembang menjadi sekitar Rp498 juta.
Namun jika baru mulai 5 tahun kemudian dengan periode yang sama, hasilnya jauh berbeda. Artinya, setiap bulan yang terlewat tanpa investasi adalah kesempatan compounding yang hilang. Angka di atas bersifat simulasi dan bukan jaminan hasil namun pesannya jelas: mulai lebih awal, tumbuh lebih besar.
Intinya, menyiapkan tabungan pendidikan itu bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki sekarang, tapi seberapa konsisten dan tepat cara mengelolanya. Kalau hanya mengandalkan tabungan, risikonya dana sulit mengejar kenaikan biaya.
Dengan mulai investasi secara rutin, dana punya peluang tumbuh lebih optimal.
Salah satu instrumen yang bisa jadi pilihan awal adalah saham dari bisnis riil dengan rekam jejak jelas, seperti saham Mang Ujang, emiten restoran Sambal Bakar Mang Ujang yang memiliki prospek pertumbuhan menarik.
Ayo Investasi di Saham Mang Ujang!
Kesempatan memiliki Saham Mang Ujang di LBS Urun Dana dan masih terbuka! Mari cek detail lengkap penawaran investasi saham ini.
1. Total Penerbitan Saham: Rp5.464.146.482
2. Harga per Lembar Saham: Rp179
3. Pembelian Saham Minimal: Rp1.000.073
4. Jumlah Saham Ditawarkan: 344.474.042 lembar
5. Proyeksi Dividen Payout Ratio: 90%
6. Indikasi Dividen Yield 2026: 5,74%
Baca juga: Valid! Ini Alasan Investor Memilih Saham Mang Ujang di LBS Urun Dana
Pastikan Anda sudah mendaftar atau login di lbs.id agar tidak tertinggal saat listing dibuka. Butuh informasi lebih lanjut atau pendampingan sebelum berinvestasi? Tim kami siap membantu:
a. Wisnu: Link WhatsApp
b. Faris: Link WhatsApp
c. Dwian: Link WhatsApp
Penawaran masih terbuka. Segera ambil posisi di saham Mang Ujang sebelum periode listing berakhir!
Disclaimer
Investasi sukuk dan saham melalui platform securities crowdfunding memiliki risiko, termasuk kehilangan sebagian atau seluruh modal. Informasi ini bukan rekomendasi investasi. Pastikan Anda membaca prospektus sebelum berinvestasi. LBS Urun Dana adalah platform resmi berizin dan diawasi OJK.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






