literasi keuangan
9 Juni 2026
Naufal Mamduh
Awas Rugi! 7 Cara Mengelola Keuangan yang Wajib Dilakukan Saat Ekonomi Melemah
Cara mengelola keuangan saat ekonomi sedang melemah bukan sekadar soal hemat-hematan. Ini soal bertahan, dan kalau bisa, tetap tumbuh di tengah tekanan yang tidak kita pilih.
Rupiah menyentuh Rp18.100 per dolar AS. Inflasi terus berjalan. Daya beli masyarakat melemah. Ketidakpastian geopolitik global belum mereda. Kondisi seperti ini bukan pertama kalinya terjadi, dan pengalaman dari krisis-krisis sebelumnya mengajarkan kita satu hal: yang paling selamat bukan yang paling kaya, tapi yang paling siap.
Berikut tujuh langkah yang bisa Anda terapkan sekarang.
1. Jangan Panik, Tapi Jangan Diam
Kepanikan adalah musuh pertama dalam mengelola keuangan di masa krisis ekonomi. Di tengah kabar yang datang silih berganti, banyak orang bereaksi terlalu cepat, menjual aset terburu-buru, menarik tabungan tanpa rencana, atau justru diam membeku tanpa tindakan apapun.
Yang perlu dilakukan adalah tetap tenang, cek kebenaran informasi sebelum bertindak, dan ambil keputusan finansial berdasarkan data, bukan rumor.
2. Tunda Pengeluaran Tidak Perlu di Masa Krisis
Saat kondisi ekonomi sedang goyang, langkah paling bijak dalam mengelola keuangan adalah memperlambat arus keluar uang. Susun ulang skala prioritas: mana yang benar-benar perlu, mana yang bisa ditunda.
Pengeluaran rekreasi, langganan yang jarang dipakai, atau pembelian barang non-esensial adalah kandidat pertama yang bisa digeser. Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tapi perlu ada perhitungan yang lebih ketat dari biasanya.
3. Bereskan Tanggungan Utang
Satu hal yang sering luput saat krisis ekonomi melanda: bunga utang ikut naik. Kartu kredit, KTA, pinjaman online, semuanya berpotensi membebani lebih berat dari sebelumnya.
Kalau bisa, lunaskan utang sekarang, sebelum bunganya makin membesar. Bahkan jika harus mencairkan sebagian investasi atau dana darurat sekalipun. Setelah utang beres, kembalikan posisi dana darurat dan investasi ke level ideal secara bertahap.
Baca juga: Awas! Ini 7 Tips Atur Keuangan di Tengah Krisis, Jurus Jitu Biar Duit Tetap Aman!
4. Disiplin Jalankan Anggaran yang Sudah Dibuat
Menyusun anggaran itu penting. Tapi yang lebih penting adalah menjalankannya. Di masa ketidakpastian ekonomi, banyak orang sudah membuat rencana keuangan yang baik, tapi gagal dieksekusi karena tidak konsisten.
Kedisiplinan menjalankan anggaran adalah satu-satunya cara untuk memastikan kondisi keuangan Anda tidak makin memburuk selama tekanan ekonomi berlangsung.
5. Sesuaikan Portofolio ke Instrumen yang Lebih Moderat
Krisis ekonomi bukan alasan untuk berhenti berinvestasi. Tapi ini saat yang tepat untuk mengevaluasi ulang di mana uang Anda bekerja.
Kurangi eksposur ke instrumen dengan volatilitas tinggi untuk sementara waktu. Geser sebagian ke instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana dan sukuk. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, konsistensi lebih berharga daripada mengejar imbal hasil besar.
6. Perbesar Porsi di Instrumen yang Mudah Dicairkan
Selain menyesuaikan risiko, penting juga untuk memastikan sebagian dana Anda mudah diakses kapan saja. Reksa dana, saham dan emas adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan.
Ini bukan soal tidak percaya pada investasi jangka panjang. Tapi saat krisis ekonomi, kejadian tak terduga bisa datang kapan saja, dan Anda perlu punya ruang gerak finansial yang cukup untuk meresponsnya.
Setelah memastikan sebagian dana mudah dicairkan, langkah berikutnya adalah memikirkan ke mana sisa aset Anda bekerja dalam jangka menengah. Di sinilah bisnis dalam negeri masuk sebagai pilihan yang sering dilewatkan.
7. Alihkan Sebagian Aset ke Bisnis Dalam Negeri yang Tidak Bergantung Impor
Bisnis yang beroperasi di pasar lokal, menggunakan bahan baku dalam negeri, dan bertransaksi dalam rupiah, tidak terlalu terekspos langsung ke fluktuasi kurs dolar. Justru di saat ekonomi sedang goyang, bisnis-bisnis seperti inilah yang punya ketahanan paling nyata.
Baca juga: Was-Was! Ini Risiko Kredit Tanpa Agunan dan Alternatif Pendanaan yang Lebih Tepat!
Mulai investasi sukuk dan saham sekarang, tidak harus pakai modal besar. Lewat LBS Urun Dana, Anda sudah bisa mulai investasi dari Rp1 juta saja. Platform securities crowdfunding berizin OJK ini telah dipercaya lebih dari 16.800 investor aktif dan menyalurkan pendanaan lebih dari Rp328,2 miliar ke berbagai bisnis pengusaha Indonesia. Seluruh produknya diawasi langsung oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA selaku Founder dan Pakar Fikih Muamalah, sehingga insya Allah bebas dari riba, gharar, dan kezaliman.
Ada pertanyaan sebelum mulai? Tim LBS siap berdiskusi:
- Wisnu: Chat via WhatsApp
- Faris: Chat via WhatsApp
- Dwian: Chat via WhatsApp
Atau langsung daftar di lbs.id dan mulai perjalanan investasi hari ini.
Disclaimer: Investasi melalui platform securities crowdfunding memiliki risiko, termasuk risiko penurunan nilai saham dan risiko likuiditas. Investasikan dana sesuai profil risiko Anda dan pelajari prospektus secara lengkap sebelum mengambil keputusan investasi. LBS Urun Dana berizin dan diawasi oleh OJK.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






