literasi keuangan
2 Oktober 2026
Naufal Mamduh
Kok Bisa! Kenapa Uang Rp1 Juta Terasa Cepat Habis dan Apa Kaitannya dengan Inflasi?
Pernah merasa uang Rp1 juta sekarang lebih cepat habis dibanding beberapa tahun lalu? Nominalnya memang tetap sama, tapi barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang itu sudah berbeda. Ini bukan sekadar perasaan. Ada konsep ekonomi yang menjelaskannya, dan namanya inflasi.
Apa Itu Inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Perlu dicatat, naiknya harga 1 barang saja belum tentu inflasi. Yang dimaksud inflasi adalah kenaikan tingkat harga secara umum di perekonomian. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19%, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 2,88%.
Angkanya terlihat kecil. Tapi coba terjemahkan ke rupiah. Barang yang setahun lalu seharga Rp1.000.000, dengan inflasi 3,19%, kini menjadi sekitar Rp1.031.900. Dibalik, Rp1 juta yang Anda pegang hari ini setara dengan daya beli sekitar Rp969.000 pada tahun lalu. Nominal di rekening tidak berubah. Yang berubah adalah jumlah barang yang bisa ditukar dengan angka itu.
Baca juga: Wajib Dicoba! 7 Cara Cerdas Menghemat Uang Biar Gak Boncos di Akhir Bulan
Kenapa Inflasi Terasa Lebih Berat dari Angka Resminya?
Di sinilah bagian yang sering luput. Angka inflasi umum adalah rata-rata dari banyak kelompok pengeluaran. Kenyataannya, tidak semua kelompok naik dengan laju yang sama. Data BPS untuk Juli 2026 menunjukkan perbedaannya cukup jauh:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 9,04%
- Transportasi: 5,12%
- Makanan, minuman, dan tembakau: 2,97%
- Penyediaan makanan dan minuman atau restoran: 2,55%
Perhatikan 2 kelompok teratas. Keduanya justru pengeluaran yang dikeluarkan hampir setiap hari. Jadi kalau Anda merasa kenaikannya lebih berat daripada angka 3% yang diberitakan, itu wajar. Kelompok belanja yang paling sering Anda sentuh memang naik lebih cepat dari rata-ratanya.
Apa Dampaknya Terhadap Keuangan Pribadi?
Inflasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan, terutama untuk tujuan jangka panjang.
Misalnya Anda menargetkan dana Rp100 juta untuk kebutuhan 5 tahun mendatang. Bila harga terus bergerak, nilai Rp100 juta pada saat itu tidak akan setara dengan Rp100 juta hari ini.
Sebagai gambaran, dengan asumsi inflasi 3% per tahun, Rp1 juta dalam 5 tahun ke depan kira-kira setara dengan daya beli Rp862.000 hari ini.
Artinya perencanaan keuangan tidak cukup dengan menghitung berapa yang perlu disisihkan. Jangka waktu, perubahan harga, dan cara dana itu dikelola juga ikut menentukan.
5 Cara Menyesuaikan Keuangan dengan Inflasi
Inflasi bukan hal yang bisa dikendalikan individu. Tapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan diri.
1. Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala
Periksa kembali pengeluaran rutin dan bedakan kebutuhan dengan keinginan. Ketika harga naik, evaluasi anggaran membantu menentukan pos mana yang masih bisa disesuaikan.
2. Siapkan Dana Darurat
Dana ini membantu menghadapi kebutuhan mendadak tanpa mengganggu alokasi untuk tujuan keuangan lain. Besarnya menyesuaikan kondisi dan tanggungan masing-masing.
3. Tetapkan Tujuan Keuangan yang Spesifik
Dengan tujuan yang jelas, Anda tahu berapa dana yang perlu disiapkan dan kapan akan digunakan. Tujuan jangka pendek butuh pertimbangan yang berbeda dari jangka panjang.
4. Pelajari Pilihan Investasi
Di luar mengatur pengeluaran, instrumen investasi dapat dipelajari sebagai bagian dari perencanaan jangka menengah dan panjang. Tetap ada risikonya, jadi pilihannya disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko Anda.
5. Jangan hanya Mengejar Imbal Hasil
Angka keuntungan bukan satu-satunya pertimbangan. Pahami juga risiko, jangka waktu, mekanisme, legalitas, serta aset atau bisnis yang menjadi dasar investasinya.
Apakah Menabung Saja Cukup?
Menabung tetap punya fungsi penting, terutama untuk dana darurat dan kebutuhan yang perlu mudah diakses.
Tapi setiap tujuan keuangan punya karakter berbeda. Dana untuk kebutuhan 6 bulan ke depan jelas butuh pertimbangan yang tidak sama dengan dana yang disiapkan untuk 5 tahun mendatang. Karena itu, sebelum memilih instrumen, ada 6 hal yang perlu dipahami lebih dulu:
- Tujuan investasi
- Jangka waktu
- Potensi imbal hasil
- Risiko yang menyertainya
- Tingkat likuiditas
- Legalitas dan informasi penerbitnya
Dengan memahami keenamnya, keputusan investasi dibuat berdasarkan informasi yang lengkap, bukan hanya karena melihat potensi keuntungan.
Mengenal Investasi lewat Securities Crowdfunding
Salah satu pilihan yang dapat dipelajari masyarakat adalah securities crowdfunding. Melalui skema ini, masyarakat berinvestasi pada efek yang diterbitkan bisnis nyata, lewat penyelenggara yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan.
Instrumennya berupa saham atau sukuk, masing-masing dengan karakteristik, jangka waktu, dan risiko yang berbeda. LBS Urun Dana adalah platform securities crowdfunding berizin OJK yang menyediakan kedua instrumen tersebut.
Baca juga: Awas Rugi! 7 Cara Mengelola Keuangan yang Wajib Dilakukan Saat Ekonomi Melemah
Investasi di LBS Urun Dana Mulai dari Rp1 juta!
Dengan nominal tersebut, Anda sudah bisa ikut memiliki bagian dari bisnis yang sudah berjalan, mulai dari fashion, manufaktur hingga perusahaan logistik. Beberapa penawaran yang dapat dipelajari saat ini:
Sebelum memutuskan, pelajari informasi masing-masing penawaran secara menyeluruh, termasuk proyeksi imbal hasil, jangka waktu, mekanisme, dan risikonya. Ingin bertanya lebih dulu? Tim kami siap membantu lewat WhatsApp:
- Wisnu: Chat WhatsApp
- Dwian: Chat WhatsApp

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






