artikel
1 Januari 2026
Takbir! Tsabit bin Qais, Corong Suara Rasulullah ﷺ di Medan Perang dan Dakwah
Tsabit bin Qais ibn Shammās al-Khazrajī adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang menempati posisi penting dalam sejarah awal Islam. Ia dikenal sebagai khatib (juru bicara) Rasulullah ﷺ, sosok yang fasih berbicara, tegas, dan berani menyampaikan kebenaran di hadapan kawan maupun lawan. Perannya sangat menonjol sejak masa hijrah hingga periode pasca wafat Nabi ﷺ.
Awal Kehidupan dan Masuk Islam
Tsabit bin Qais lahir di Yatsrib (kini Madinah) dari suku Khazraj, salah satu suku utama kaum Anshar. Tidak ada catatan pasti mengenai tahun kelahirannya, namun ia termasuk generasi dewasa Anshar yang telah memiliki pengaruh sosial sebelum Islam datang.
Tsabit memeluk Islam sebelum hijrah Nabi ﷺ ke Madinah (sebelum 1 H / 622 M). Keislamannya terjadi setelah mendengar dakwah dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Mus’ab bin Umair, utusan Rasulullah ﷺ yang dikirim ke Yatsrib untuk menyebarkan Islam. Bacaan Al-Qur’an tersebut menggugah hati Tsabit dan membuatnya menerima Islam dengan keyakinan penuh.
Peran dalam Hijrah Rasulullah ﷺ
Pada tahun 1 Hijriah (622 M), Nabi Muhammad ﷺ berhijrah dari Makkah ke Yatsrib. Peristiwa ini menjadi titik balik besar dalam sejarah Islam. Tsabit bin Qais termasuk tokoh Anshar yang aktif menyambut kedatangan Nabi ﷺ.
Dalam salah satu momen penyambutan, Tsabit tampil menyampaikan pidato mewakili kaum Anshar. Dengan bahasa yang tegas dan penuh semangat, ia menyatakan kesiapan kaumnya untuk melindungi Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga dan harta mereka sendiri. Nabi ﷺ menjawab pernyataan itu dengan sabda yang masyhur bahwa balasan bagi kesetiaan mereka adalah surga. Momen ini menegaskan posisi Tsabit sebagai figur komunikasi dan representasi kaum Anshar.
Diangkat sebagai Khatib Rasulullah ﷺ
Sejak menetap di Madinah, Nabi Muhammad ﷺ mempercayakan Tsabit bin Qais sebagai khatib atau juru bicara resmi dalam berbagai kesempatan. Tugas ini bukan sekadar formalitas, melainkan peran strategis dalam membangun wibawa dan posisi umat Islam di hadapan kabilah-kabilah Arab.
Baca juga: Inspiratif! Kisah Abdullah bin Mas’ud, Sahabat Nabi ﷺ yang Kecil Raga, Besar Ilmunya
Pada Tahun Delegasi (ʿĀm al-Wufūd), sekitar 9 H / 631 M, banyak kabilah Arab datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman atau menjalin hubungan politik dengan negara Islam. Dalam berbagai pertemuan itu, Tsabit sering ditugaskan Nabi ﷺ untuk menyampaikan jawaban, pidato, atau pernyataan resmi Islam. Kefasihan dan ketegasan Tsabit menjadikannya sosok yang disegani, sekaligus memperkuat citra Islam sebagai agama yang bermartabat dan terorganisir.
Meski dikenal lantang dan tegas, Tsabit bin Qais adalah pribadi yang sangat takut kepada Allah ﷻ. Ia pernah merasa khawatir amalnya gugur karena suaranya yang keras, setelah turun ayat yang mengingatkan agar kaum beriman tidak meninggikan suara di hadapan Nabi ﷺ. Kekhawatiran itu ia sampaikan kepada Rasulullah ﷺ, dan Nabi ﷺ menenangkannya dengan kabar bahwa Tsabit termasuk penghuni surga. Peristiwa ini menunjukkan keseimbangan antara keberanian publik dan ketundukan batin yang dimiliki Tsabit.
Masa Setelah Wafat Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 H (632 M). Setelah itu, umat Islam menghadapi ujian besar berupa pemberontakan dan munculnya nabi palsu, termasuk Musaylimah al-Kadzab. Tsabit bin Qais tetap berada di barisan terdepan membela Islam.
Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Tsabit turut serta dalam Perang Riddah. Ia bahkan diangkat sebagai salah satu pemimpin pasukan Anshar, menunjukkan kepercayaan besar kepadanya baik secara militer maupun moral.
Gugur sebagai Syahid di Perang Yamamah
Puncak pengabdian Tsabit bin Qais terjadi pada Pertempuran Yamamah, yang berlangsung sekitar tahun 12 H (633 M). Dalam pertempuran melawan Musaylimah al-Kadzab, Tsabit menunjukkan keberanian luar biasa. Ia tidak mundur meski medan perang sangat berat dan korban berjatuhan dari kalangan kaum Muslimin.
Dalam pertempuran itulah Tsabit bin Qais gugur sebagai syahid. Wafatnya menutup perjalanan hidup seorang sahabat yang sejak awal berdiri di garis depan dakwah, komunikasi, dan pembelaan Islam.
Warisan Tsabit bin Qais bagi Umat Islam
Tsabit bin Qais meninggalkan teladan besar bagi umat Islam, antara lain:
a. Pentingnya komunikasi yang jujur dan berani dalam membela kebenaran
b. Keteladanan dalam kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ dan Islam
c. Keseimbangan antara peran publik dan ketakwaan pribadi
d. Konsistensi berjuang hingga akhir hayat
Ia membuktikan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan dengan pedang, tetapi juga dengan kata-kata yang benar, sikap yang tegas, dan hati yang tunduk kepada Allah ﷻ.
Baca juga: Top! 5 Contoh Kepemimpinan Umair bin Sa’ad, Sahabat Nabi ﷺ & Gubernur Merakyat
Tsabit bin Qais adalah gambaran sahabat Nabi ﷺ yang lengkap. Ia masuk Islam sebelum 1 H, menyambut hijrah pada 1 H (622 M), menjadi khatib Rasulullah ﷺ sepanjang periode Madinah, tampil menonjol pada 9 H (631 M) di Tahun Delegasi, dan akhirnya gugur sebagai syahid pada 12 H (633 M) di Perang Yamamah. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai orator Islam, pembela umat, dan pejuang yang wafat di jalan Allah.






