berita
5 Februari 2026
Naufal Mamduh
Geger! 6 Fakta Indonesia Susah Jadi Negara Maju, Ini Kata World Bank!
World Bank memperingatkan bahwa Indonesia kesulitan untuk keluar dari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah. Menurut David Knight, Lead Country Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, Indonesia akan sulit mencapai status negara berpendapatan tinggi tanpa reformasi struktural yang lebih dalam.
Meskipun Indonesia telah mengalami kemajuan yang signifikan, masalah utama yang dihadapi adalah kualitas iklim usaha yang belum mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
1. Apa Itu Middle Income Trap?
Middle income trap adalah kondisi di mana sebuah negara berhasil keluar dari status negara berpendapatan rendah, namun terjebak di status pendapatan menengah karena pertumbuhan ekonominya melambat sebagaimana dikutip dari Media Keuangan. Biasanya, negara yang terjebak dalam middle income trap menghadapi tantangan besar karena:
a. Biaya produksi yang semakin tinggi: Negara tidak lagi bisa mengandalkan tenaga kerja murah untuk menarik investor.
b. Inovasi dan produktivitas yang terbatas: Kualitas inovasi dan teknologi belum cukup tinggi untuk bersaing dengan negara maju.
Middle income trap adalah hambatan yang menghalangi negara untuk meningkatkan pendapatannya ke level lebih tinggi, meskipun sudah keluar dari kategori negara berpendapatan rendah.
2. Tantangan Utama Indonesia Menurut World Bank
Sebagaimana dikutip dari Kontan pada Kamis (5/2/2026), David Knight menyatakan bahwa meskipun Indonesia telah mencatatkan kemajuan ekonomi yang signifikan, seperti pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan sektor konsumsi domestik, Indonesia masih tertinggal dalam kualitas iklim usaha. Iklim bisnis yang kurang mendukung menjadi masalah utama yang menghalangi Indonesia untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi.
Baca juga: Mantul! 7 Cara Dapat Modal Usaha Bisnis Kuliner, Cuan Cepat 500 Juta-10 Miliar
Knight menjelaskan, untuk keluar dari middle income trap, Indonesia perlu beralih ke model pertumbuhan yang lebih berfokus pada produktivitas dan inovasi. Model pertumbuhan yang saat ini ada, yang banyak bergantung pada konsumsi domestik dan investasi infrastruktur, tidak lagi memadai untuk mendorong ekonomi ke tingkat pendapatan tinggi.
3. Mengapa Indonesia Terjebak dalam Middle Income Trap?
Menurut World Bank, beberapa faktor utama yang membuat Indonesia terjebak dalam middle income trap adalah:
a. Kurangnya dinamika perusahaan besar: Data menunjukkan bahwa ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang produktif dibandingkan negara dengan ekonomi serupa.
b. Produktivitas yang stagnan: Perusahaan yang lebih besar dan lebih tua di Indonesia justru cenderung kurang produktif, padahal seharusnya mereka menjadi motor penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi tingginya tingkat informalitas tenaga kerja. Sekitar 83% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal, yang berimbas pada rendahnya penerimaan pajak dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah untuk investasi produktif.
4. Model Pertumbuhan Baru yang Dibutuhkan Indonesia
David Knight mengungkapkan bahwa untuk keluar dari middle income trap, model pertumbuhan ke depan harus berfokus pada produktivitas dan inovasi, serta memperluas pasar di luar negeri. Mesin pertumbuhan baru ini harus lebih bersifat endogen, yang berarti pertumbuhan didorong oleh inovasi dalam negeri dan peningkatan kapasitas sektor swasta.
Knight juga menyarankan bahwa Indonesia perlu memperbaiki lingkungan persaingan usaha, termasuk melalui reformasi regulasi yang konsisten dan penegakan kesetaraan kesempatan berusaha yang lebih baik.
5. Bagaimana Indonesia Bisa Keluar dari Middle Income Trap?
World Bank mengungkapkan bahwa reformasi struktural yang lebih mendalam adalah kunci agar Indonesia bisa keluar dari jebakan ini. Beberapa langkah penting yang harus diambil antara lain:
a. Meningkatkan produktivitas sektor swasta: Dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perusahaan untuk berkembang dan berinovasi.
b. Menurunkan tingkat informalitas tenaga kerja: Mendorong lebih banyak pekerjaan formal yang dapat memperbesar penerimaan pajak dan ruang fiskal untuk investasi produktif.
c. Peningkatan kualitas regulasi dan penegakan hukum: Memastikan adanya level playing field dalam persaingan bisnis di Indonesia.
David Knight menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 10% pada 2029 tetap realistis jika reformasi struktural dilakukan dengan konsisten. Penerapan paket reformasi yang disarankan dapat menambah 2% pertumbuhan per tahun jika diterapkan selama lima tahun. Ini akan memberikan dampak besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca juga: Ajib! 7 Tips Pembiayaan Multiguna Usaha Plus Peluang Raih Modal 500 Juta-10 Miliar
Indonesia menghadapi tantangan besar untuk keluar dari middle income trap. Reformasi struktural pada iklim bisnis, sektor tenaga kerja, dan keuangan sangat dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Konsistensi dalam pelaksanaan reformasi adalah kunci untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi.
Indonesia berpotensi mencapai pertumbuhan ekonomi 10% pada 2029, asalkan reformasi yang fokus pada produktivitas, inovasi, dan pendalaman pasar internasional diterapkan dengan efektif.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






