berita
11 Mei 2026
Naufal Mamduh
Punten! Pakar Keuangan Sarankan Jangan Simpan Uang di Rekening, Ini Bahayanya!
Rekening tabungan memang nyaman, gampang diakses, dan bisa dicairkan kapan saja. Tapi ternyata, menyimpan terlalu banyak dana di sana justru bisa merugikan Anda dalam jangka panjang. Begitu kata sejumlah pakar keuangan.
Ada dua risiko utama yang sering tidak disadari: nilai uang yang pelan-pelan menyusut dan potensi pertumbuhan yang terbuang begitu saja.
1. Inflasi Diam-Diam Menggerus Nilai Tabungan Anda
Perencana keuangan bersertifikat asal Pennsylvania, Jessica Goedtel, punya peringatan yang cukup mengejutkan. Menurutnya, rekening tabungan bukan tempat yang ideal untuk menaruh dana dalam jumlah besar untuk jangka panjang.
Pasalnya, laju inflasi terus berjalan setiap tahun. Jadi meski angka di buku tabungan Anda tidak berubah, daya beli uang itu sebenarnya terus menyusut pelan-pelan.
Belum lagi soal keamanan. Sebagaimana dikutip dari CNBC pada Senin (11/5/2026), Jessica mengingatkan bahwa saldo besar di rekening harian yang aktif dipakai transaksi lebih rentan kena pembobolan atau transaksi tidak sah. Dan kalau sudah begitu, proses pemulihannya bisa panjang dan menguras tenaga.
2. Dana Anda Sebenarnya Bisa Bekerja Lebih Keras
Pengamat ekonomi Yulius Dharma melihat masalah yang lebih besar dari sekadar inflasi, yaitu soal peluang yang disia-siakan. Dengan membiarkan semua uang duduk manis di rekening, Anda menutup akses ke instrumen investasi yang bisa memberikan hasil jauh lebih baik.
Padahal pilihannya sudah cukup banyak dan beragam, mulai dari sukuk, emas, saham, hingga instrumen produktif lainnya. Semua itu bisa membantu menjaga sekaligus menumbuhkan nilai aset Anda dalam jangka panjang.
Baca juga: 5 Tips Jitu Investasi Bisnis Restoran agar Gak Kejebak FOMO Semata!
3. Jadi, Berapa yang Ideal Disimpan di Rekening?
Konselor perencanaan pensiun berlisensi asal New Jersey, Gregory Guenther, menyarankan cukup simpan dana untuk kebutuhan tagihan satu hingga dua minggu saja di rekening harian.
Terlalu sedikit memang bikin was-was saat mau bertransaksi. Tapi terlalu banyak juga sayang, karena uang Anda jadi tidak kemana-mana. Jumlah idealnya memang berbeda bagi setiap orang, tapi prinsipnya sama: simpan secukupnya untuk kebutuhan harian, sisanya biarkan bekerja di tempat yang lebih produktif.
4. Pilih Instrumen Investasi yang Bebas Riba
Bicara soal instrumen yang lebih produktif, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan selain soal hasil, yaitu kenyamanan. Bagi sebagian orang, berinvestasi bukan hanya soal cuan, tapi juga soal memastikan uang yang diputar tidak bertentangan dengan nilai yang selama ini dipegang.
Di sinilah pilihan instrumen berbasis akad yang jelas mulai banyak dilirik. Konsepnya sederhana: uang Anda diputar untuk mendukung usaha nyata, dengan kesepakatan yang transparan, bebas riba, gharar, dan dzalim. Hasilnya pun berasal dari kinerja usaha yang didanai, bukan dari skema yang samar.
Solusi Investasi Amanah di LBS Urun Dana
LBS Urun Dana hadir sebagai platform securities crowdfunding berizin OJK yang mempertemukan investor dengan UKM dan bisnis potensial yang butuh modal untuk berkembang. Anda bisa ikut jadi bagian dari pertumbuhan usaha tersebut dengan nilai investasi mulai dari Rp1 juta.
Seluruh prosesnya transparan dan berada di bawah bimbingan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA selaku Pakar Fikih Muamalah sekaligus Founder LBS Urun Dana, sehingga transaksi investasi yang amanah tetap terjaga.
Baca juga: Cara LBS Urun Dana Menjaga Transparansi Investasi dan Pendanaan
Jadi kalau selama ini dana Anda hanya duduk diam di rekening, mungkin sudah saatnya mulai diajak bergerak ke arah yang lebih bermakna. Info lengkap bisa ditemukan di lbs.id dan Instagram @lbsurundana.

PROFIL PENULIS
Naufal Mamduh
SEO Content Writer
Berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia jurnalistik, khususnya di desk politik, hukum, dan teknologi. Ia juga pernah berkecimpung sebagai konsultan komunikasi sebelum akhirnya bergabung bersama LBS Urun Dana sebagai SEO Content Writer sejak Desember 2024. Gaya penulisannya dikenal tajam, komunikatif, dan mampu menghubungkan isu sosial dengan perspektif bisnis terkini secara relevan dan inspiratif.






